Selasa, 30 April 2013

Ikatan Batin [3]

"Sivia ! Kesini kamu !" Via berdiri. Dia mulai berjalan ke arah Bu Winda. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam saat berada di samping Bu Winda.

"Sekarang kamu kerjakan soal yang baru saja saya tulis di papan tulis ini !" Kata Bu Winda. Sebuah spidol yang memang sudah dipegang olehnya di berikan pada Via.

'Mampus gua! Mana ngerti gua ini. Kayaknya belum di ajarin deh.' batin Via.



Ify memperhatikan soal yang dituliskan Bu Winda dengan seksama. Tangannya berputar-putar di selembar kertas. Dia menggelengkan kepalanya. Tanda bukan rumus itu yang dipakai untuk memecahkan soal tersebut. Ify kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Dilihatnya wajah Via mulai gelisah. Perasaan Ify jadi tak enak. Dia tau, bahwa Via pasti takut. Dia tak dapat memecahkan soal itu.

Ify mengacak-acak rambutnya pelan. Dia juga tidak dapat memecahkan soal tersebut. Tidak menggunakan rumus geometri ataupun rumus-rumus lain yang telah dipelajarinya dulu. Tidak ada satupun rumus yang benar untuk memecahkan soal tersebut. Tiba-tiba matanya membulat. Dia menyadari sesuatu. Sesuatu yang daritadi harusnya sudah disadari. Sesuatu yang telat disadarinya dan membuat saudara kembarnya itu jadi ketakutan seperti ini.

***

"Bu Okky !!" Teriak Rio. Bu Okky mengalihkan pandangannya kepada lelaki itu.

"Kenapa Rio ?" Tanyanya.

"Kenapa harus sesuai dengan undang-undang?" tanya Rio.

"Iya, Bu. Kan undang-undangnya aja gak konsisten Bu. Udah berulang kali diubah." Lanjut Iel.

"Lagian yah, Bu. Percuma juga kita mengikuti Undang-undang Indonesia. Sekarang makin banyak Bu yang gak tau namanya undang-undang. Mereka melakukan segala
sesuatunya seenak jidat mereka." Alvin ikutan.

"Dan, Bu. Emangnya Ibu gak pernah ngelakuin sesuatu yang berlawanan dengan UU Indonesia?" Ozy juga jadi terpengaruh.

"Bu Okky !!!!! Lihat nih Bu ! Gara-gara kata Ibu kita mesti mengikuti peraturan perudang-undangan di Indonesia, muka saya jadi kayak JB nih Bu. Kan gak mirip sama muka-muka Indo Bu. Berarti saya bukan orang Indo. Dan saya gak harus mengikuti UU Indo kan, Bu ?" Cakka malah gak nyambung.

"GA NYAMBUNG CAKKAAAAA !!!!!" Alvin, Rio, dan Ozy berteriak. Sedangkan Iel melayangkan jitakannya ke kepala Cakka.

"Sudah. Sudah. Begini yah Cakka. Masalah wajah kamu yang mirip JB itu. Sepertinya Ibu tidak setuju. Karna wajah kamu itu lebih mirip sama.." Kata-kata Bu Okky
tergantung.

"Robert Pattinson ya, Bu ??" Sambung Cakka.

"Bukan.. Tapi lebih mirip sama wajah JOJON. " Kata Bu Okky.

"BUAHAHHAHAHAHAHAHAHA!!" Tawa CRAGO-minus Cakka tentunya- meledak. Begitu juga dengan tawa dari anak-anak sekelas. Bu Okky juga terlihat sedang menahan tawa. Cakka memajukan mulutnya.

"Kalo lagi manyun muka lu agak mendingan, Kka. Mirip sama Budi Anduk kalo kayak gini. Hahahahahaha." Kata Alvin di sela-sela tawanya memperhatikan Cakka yang
manyun. Cakka dan Alvin kan memang sebangku.

Tok.. tok.. tok..

"Permisi, Bu. Ibu dipanggil oleh Pak Rian. Dan di suruh keruangannya sekarang juga." kata seseorang.

"Baik. Anak-anak, maaf pelajaran kita hari ini terpotong. Kalian kerjakan saja soal yang ada di halaman 213 buku cetak. Tulis soal dan jawabannya. Bagian A sampai C.
Kumpulkan ke ketua kelas. Dan ingat, selesai atau tidak selesai harus tetap dikumpulkan. Paling lambat besok pagi sebelum bel masuk." Setelah berkata begitu, Bu Okky keluar dari ruang kelas.

"Weh, keluar nyok. Bosen gua."Kata Rio. Alvin yang sedang asik dengan BB Torch putihnya itu hanya menengok dan mengangkat bahunya. Seraya berkata 'Terserah lu'. Sedangkan Cakka dan Ozy yang dari tadi lagi bergaje ria hanya manggut-manggut setuju.

"Gua ikut weh, perasaan gua gak enak." Kata Iel.

"Si kembar itu ?" Tanya Rio. Iel mengangguk.

"Siapa ? Si kembar ?" Tanya Ozy.

"Mendingan lu ikut aja deh, ya. Kalo di jelasin bisa panjang banget. Dari lebaran Kambing sampe lebaran Gajah juga gak selese-selese."Kata Cakka.

"Hayuk jalan. Gak pake lama."Alvin menarik tangan Ozy keluar kelas. Menuju kelas 'Si Kembar'.

***

Sebuah tangan teracung ke udara. Bu Winda yang sedang memperhatikan Via mengalihkan pandanganya pada sang empunya tangan tersebut. Seorang gadis berdiri dari tempat duduknya. Masih dengan tangan yang teracung. Bu Winda membenarkan letak kacamatanya. Wajah gadis itu yang serius membuat Bu Winda menjadi bingung. Tangan gadis itu pun tak hendak turun walaupun sudah ditatapi oleh Bu Winda.

"Ada apa Alyssa ?" Tanya Bu Winda pada sang empunya tangan.

"Saya ingin protes, Bu." Jawab Ify tegas. Tangannya masih saja teracung.

'Gila tuh anak. Mau protes apaan ke Bu Winda?'

'Berani amat protes sama tu guru killer.'

'Nyari mati si Ify.'

'Protes apa kali? ga sayang idup nih si Ify.'
Batin anak-anak sekelas yang merutuki kata-kata Ify barusan.

"Protes apa Ify? Turunkan tangan kamu." kata Bu Winda. Matanya memandang Ify tajam.

"Saya mau protes tentang soal yang Ibu berikan pada Via." kata Ify santai. Menurunkan tangannya dan membalas tatapan tajam Bu Winda dengan santai.

"Memangnya ada apa dengan soal yang saya berikan kepada Via? Ada yang salah ?

"Tentu saja ada !" Ify mulai naik pitam. Shilla memegangi tangan Ify. Mencoba untuk menghilangkan amarah Ify sedikit. Via memperhatikan wajah Ify yang sedang marah itu. Dia merindukan sosok Ify yang selalu membantunya saat kesusahan. Seperti sekarang ini.

"Memangnya apa yang salah ? Coba jelaskan pada saya. Atau jangan-jangan kamu hanya ingin menolong Sivia karna dia saudara kembarmu ?"

"Tidak ! Saya tidak sedang mencoba membantu Via. Saya melakukan hal yang benar. Karna sampai otak kita semua meluap juga gak bakalan ketemu jawaban dari soal itu !"


Anak-anak satu kelas bengong. Ify ngomong kayak gitu ke seorang guru. Guru killer pula. Lintar yang memang paling pintar di kelas memperhatikan kembali soal di papan tulis itu.


"Kenapa bisa begitu?"

"Tentu saja seperti itu. Soal yang Ibu tulis di papan tulis itu kan hanya asal-asalan. Ibu hanya ingin memberi pelajaran pada Via. Dan lagi, soal itu kalau diperhatikan
adalah soal gabungan. Yang dapat dipecahkan dengan cara...." Kata-kata Ify terputus.

"Dipecahkan dengan cara gabungan dari rumus yang pernah kita pelajari saat kelas 10 dan rumus yang bakalan kita pelajari saat kelas 12 nanti. Tapi jarang orang tau rumusnya karna memang rumus itu tidak terlalu penting di Matematika." Sambung Lintar.

Wajah Bu Winda merah padam. Seisi kelas memasang wajah galak pada Bu Winda. Terutama Ify yang kini wajahnya seperti orang yang ingin membunuh. Via bengong. Wajahnya juga merah. Namun itu merah karna kesal, sedih, dan juga malu.


"Pantas saja dari tadi saya gak nemuin jawabannya. Ternyata..."Kata Via terpotong. Matanya menatap Bu Winda tajam. Bu Winda yang tak terima malah ikut terpancing emosinya.

"Siapa suruh kamu melamun saat saya memberikan tugas. Makanya kamu itu kerjakan tugas dari saya. Jangan melamun saja !!" Kata Bu Winda yang sudah terpancing emosinya.

"Bu, bagaimana kalau Ibu mengerjakan soal yang di papan tulis itu ?" Kata Ify.

"Iya, Bu. Saya juga penasaran dengan cara menyelesaikannya."Kata Irva.

"Ayo, Bu. Kerjakan soal yang di depan itu. Saya penasaran juga nih, Bu." Sambung Rizky.



"APA-APAAN KALIAN INI, HAH ? SAYA GURUNYA ! BUKAN KALIAN ! KALIAN TIDAK BERHAK MENYURUH-NYURUH SAYA ! SAYA MENYURUH SIVIA UNTUK MENYELESAIKAN SOAL ITU ! KENAPA JADI KALIAN YANG MENYURUH SAYA ?!!!" Bu Winda berteriak.

"Kalau saya yang menyuruh Anda ?" Sebuah suara dengan khas cengkoknya terdengar. Di ikuti dengan pemilik suaranya. CRAG pun masuk ke ruangan itu. Ify mengembangkan senyumnya. Via sedikit terkejut.

"Eh,, Anda.. Itu.. Em.." Bu Winda terlihat gelagapan.

"Kalau saya yang menyuruh Anda bagaimana ? Bisa Anda kerjakan ?" Kata Ozy, orang yang tadi bertanya.

"Tapi.. Saya.."

"Tapi apa, Bu ? Bukankah Ibu yang menulis soal itu ? Tentunya Ibu dapat mengerjakannya, bukan?"

"Memang benar.. Tapi.. Itu.. Saya.."

"Kenapa, Bu? Tidak bisa mengerjakannya ? Perlu saya yang mengerjakannya ?"

"Eh ?? Memangnya kamu bisa ?"

"Kalau saya bisa bagaimana? Apa Ibu akan mengambil resiko dari saya ? Saya bisa saja menelpon Ayah saya dan menyuruhnya untuk memecat Anda sekarang. Dan lagi, saya memang tidak suka cara Anda mengajar seperti ini."

"Coba saja. Saya saja yang membuat soal belum tentu dapat mengerjakannya."

"Baiklah kalau memang Ibu sudah mau menerima resikonya."


Ozy berjalan menuju papan tulis. Di raihnya spidol yang memang sudah ada di sana. Tangannya bergerak. Membuat berbagai tulisan. Otaknya yang memang sudah bisa dibilang canggih itu dapat menghitung dengan akurat. Dia yang sudah biasa diberikan soal dadakan yang memang seperti itu dapat mengerjakannya tanpa salah. Ternyata, jawaban dari soal itu adalah beberapa juta. Sungguh nilai yang sangat susah untuk didapatkan jika otak kita pas-pasan. Hampir satu papan tulis penuh dengan tulisan Ozy yang rapi itu. Akhirnya dia berhenti. Memperlihatkan hasilnya kepada Bu Winda dengan senyuman khasnya.

"Bagaimana, Bu ? Siap menerima resiko ?" Tantang Ozy.

"Tidak. Saya tidak percaya !" Bu Winda meraih sebuah kalkulator dan menghitung sendiri soal yang dibuatnya. Ternyata jawaban Ozy memang benar. Bu Winda kalah dengan Ozy yang menghitung dengan manual.

"Bagaimana, Bu ? Jawaban saya benar, kan ? Jadi, Anda siap?" Ozy mengeluarkan I-Phone 4 miliknya. Berpura-pura mencari kontak nama ayahnya. Wajah Bu Winda pucat pasi. Dia tak habis pikir telah menantang anak dari Bosnya sendiri yang ternyata tak dapat dipungkiri kecerdasannya.



Ozy tersenyum kecil. Memasukkan kembali I-Phonenya. Dan berjalan santai keluar kelas. Sebelum dia melewati pintu kelas, dia berbalik dan berkata

"Tenang saja. Saya tidak se naif itu membuat Anda berhenti karna hal sepele seperti ini. Namun kalau sampai terulang, jangan harap mendapat belas kasihan dari saya." CRAGO berjalan keluar kelas dengan senyum kemenangan. Tepat mereka keluar, bel istirahat juga berbunyi.

***

*kantin*

"Buahahahahaah !! "Gelak tawa CRAGO terdengar nyaring. Mereka masih membayangkan raut wajah Bu Wwinda, sang guru Killer tadi saat ketakutan. Camkan, KETAKUTAN.

"Gila, lu Zy. Lu gak liat apa tuh guru mukanya kaya gimana." Kata Rio yang masih saja tertawa.

"Mukanya gak nahan, weh. Gak nahan sumpah. Pengen gua foto tadi tuh. Masukin ke facebook, twitter, yahoo, line, whatsapp, instagram,..." Kata Cakka terpotong.

"Semuanya aja, Cakk." Kata Alvin yang kini sedang minum jus jeruk. Namun, masih ada sedikit senyum di wajahnya. Mengingat wajah guru killernya tadi.

"Udah, deh. Udah. Gila kali. Perut gua ampe sakit nih ketawa mulu. By the way, thanks loh, Zy. Lu udah mau nolongin sodara gua itu." Kata Iel.

"Yo'i, sami-sami, nak." Kata Ozy santai meminum jus sirsaknya.

"Eh, by the way, kok tadi lu ampe mau nolongin si Via sih? kan lu benci banget sama dia." Tanya Alvin.

"Walaupun benci, tapi gua gak bisa mungkirin kalo dia juga sodara gua, Alvin sayang." Kata Iel sambil melirik genit pada Alvin. Alvin bergidik.

"Idiiih, gua masih suka cewek, Yel. Suer dah." Alvin berdiri, pindah duduk di samping Rio yang paling memang duduk paling pojok.

"Hahahaha,, gua juga masih suka cewek, Vin. Hahahaha." Iel tertawa. Namun pikirannya juga melayang ke arah yang tadi. Disaat dia meminta bantuan Ozy untuk menolong saudara yang dibencinya itu.


#Flashback On#

Anak-anak CRAGO yang sedang tidak ada guru keluar dari kelas. Dan kebetulan mereka melewati kelas Ify. Iel melirik ke dalam ruangan, pandangannya tertuju pada Ify yang tengah berdiri dengan wajah kesal.

"Tentu saja ada !"

Suara Ify barusan membuat Iel berhenti. Otomatis temannya yang lain juga berhenti. Mereka ikut melihat kedalam ruangan. Beberapa argumen antara Bu Winda, Ify dan beberapa anak lainnya terdengar sangat jelas. Aura dalam kelas itu juga terasa oleh Iel yang kini tengah was-was akan kedua saudaranya itu. Iel menoleh kepada teman-temannya.

"Weh, bantuin Ify weh." Kata Iel.

"Tapi gimana caranya, Yel. Lu kan tau sendiri si Bu Winda tuh killer." Kata Rio.

"Iya, Yel. Tuh guru gak bisa dilawan. Sedikit ngelawan aja sama dia, fatal akibatnya." Alvin ikut mengingatkan. Wajah Iel berubah pucat. Dia teringat akan sifat Ify yang suka naik pitam jika terus di panas-panasi. Juga Via yang paling tidak suka dikerjain. Apalagi seperti ini. Sifat yang sangat membuat mereka berdua sama.

"Biar gua aja." Kata Ozy. Iel menoleh.

"Serius, Zy?" Tanya Iel.

"Serius lah." Ozy terlihat tenang.

"Gila lu, Zy. Tuh guru tuh killernya minta ampun." Cakka turun tangan.

"Wei, lu semua gak lupa kan siapa gua?" Tanya Ozy. CRAG saling pandang. Lalu tersenyum senang.

"Ozy si anak pemilik Yayasan." CRAGO sama-sama berbicara. Senyum mereka seketika sirna mendengar suara Bu Winda.



"APA-APAAN KALIAN INI, HAH ? SAYA GURUNYA ! BUKAN KALIAN ! KALIAN TIDAK BERHAK MENYURUH-NYURUH SAYA ! SAYA MENYURUH SIVIA UNTUK MENYELESAIKAN SOAL ITU ! KENAPA JADI KALIAN YANG MENYURUH SAYA ?!!!"



"Zy, ayo buruan." Kata Iel. Ozy mengangguk lalu membuka pintu kelas tersebut.

"Kalau saya yang menyuruh Anda ?" Kata Ozy santai. Sedangkan anak CRAG saling menahan tawa mereka melihat wajah Bu Winda yang tadi sangar berubah menjadi ketakutan.

#Flashback Off #

Mengingat hal itu, Iel tersenyum kecil. Setidaknya Via jadi punya hutang budi padanya dan teman-temannya. Walaupun lebih kepada Ozy sih sebenarnya. Sedangkan salah satu dari CRAGO tersenyum kecil melihat wajah gadis tadi yang ketakutan berubah menjadi senang melihatnya dan teman-temannya. Wajah yang tidak mungkin dilupakannya. Wajah yang membuatnya ingin terus tersenyum saat mengingatnya.

***

Masih di kantin, namun berbeda meja dengan CRAGO. Ify dan Shilla duduk manis sambil berbincang. Ditemani makanan mereka masing-masing.

"Gila lu, Fy." Kata Shilla. Ify yang hendak memakan baksonya berhenti. Menjawab pertanyaan Shilla dengan bingung.

"Gila kenapa? Jelas-jelas gua masih waras. Ck. Aneh lu." Kata Ify lalu melanjutkan memakan baksonya. Shilla menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
Lalu melanjutkan perkataannya.

"Ya, gila aja. Masa iya lu ngelawan Bu Winda. Udah tau tu guru killer sepenuhnya mati."

"Apa banget de lu, Shill. Lebay. Hahahaa."

"Ketawa lu minta gua bayar tau !"

"Yaudah sini, bayar. Lumayan nambahin duit gua." Kata Ify asal.

"Sialan, lu. Duit bulanan lu juga jarang abis. Masi malak gua pula."

"Ye, gua gak malak lu. Lu kan yang mau bayar gua. Wekk " Ify menjulurkan lidahnya. Di dorongnya mangkuk baksonya yang masih berisi kuah berwarna merah.

"Siapa suruh ketawanya gak nahan, gitu." Kata Shilla manyun.

"Yaah, Shilla ngambek. Kan bercanda doang Shilla.."

"Abisnya lu make acara ngecengg....." Perkataan Shilla terpotong. Melihat CRAGO tengah berdiri di depan meja Ify dan Shilla.



"Hey, kalian udahan makannya ?" Tanya Rio. Melihat Ify yang asyik meminum jus strawberry nya.

"Udah kok, Yo. Emang kenapa?" Shilla menjawab.

"Enggak, cuma mau mastiin lu berdua gak papa." Iel menjawab sekenanya.

"Lah ? Emang kita kenapa?" Tanya Ify menoleh pada Shilla. Shilla hanya menggelengkan kepalanya. Tanda tak tau.

"Itu loh. Insiden di kelas tadi. Lu gak papa kan ?" Tanya Cakka.

"Oh, itu. Enggak papa kok, Kka. " Ify menjawab.

"Heyy !!!" Seorang gadis menepuk bahu Cakka. Wajah Cakka langsung sumringah melihat gadis itu.

"Jiah, baru ketemu sama ceweknya tuh muka pengen gua bayar jadinya." Kata Rio.

"Boleh sini.. sini.. Lumayan nambahin duit gua buat jalan-jalan sama Agni." Kata Cakka merangkul Agni - cewek tadi, pacarnya -

"Idiih, mendingan duitnya gua kasih ke fakir miskin." Rio membuang muka. Mengalihkan pandangannya pada Ify. Tepat pada saat Ify juga sedang memandangnya.



'Gila, kayaknya gua gak punya penyakit jantung. Kok jantung gua geraknya cepet amat, yak?' Batin Rio saat melihat tatapan teduh dari Ify.

'Aiih, gua kenapa ? Kayaknya muka gua panas banget. Ya ampun, Ify. Itu cuma Rio, Rio..' Batin Ify yang juga merasakan hal yang sama. Tatapan Rio barusan, sangat membuat hatinya tenang.



SICARAGO -minus Ify dan Rio- memperhatikan Rio dan Ify. Wajah Ify yang memerah. Dan Rio yang mengacak-acak rambutnya pelan. Mereka saling pandang. Dan mulai muncul ide jahil di kepala mereka. Seperti memiliki ikatan batin, rencana mereka sama.

"HHAYOOOOOOO.......!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" Teriakan itu mengangetkan Rio dan Ify.

"Gilaa !! Apa-apan lu pada teriak di kuping guaa ?!!!!" Rio mengusap telinganya yang sekarang tengah berdengung.

"Iya nih ! di kiranya gua budek kalii !!" Ify menutup kedua telinganya. Bibirnya manyun. Membuat yang lain tertawa.

"Ketawa lu pada minta di bayar ! "RiFy berkata.

"Cie,, kompaakkk.. Hahahaa." Shilla menggoda.

"Apaan sih, Shilll..." Ify membuang wajahnya. Menyembunyikan semburat merah di wajahnya. Rio hanya menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal sama sekali.



"Eh, kamu Ozy kan ?? " Tanya Ify yang sadar akan kehadiran Ozy.

"Iya." Ozy tersenyum. Manis.

"Yang anak sekolah itu ?" Lanjut Shilla.

"Yang tadi pagi dateng itu ?"

"Yang tadi pagi di anterin sama bokap lu ?"

"Yang anak pemilik yayasan ?"

"Yang tadi di anterin pake mercedes ?"

"Yang katanya baru balik dari LA ?"

"Yang tadi pagi bikin gem..."Shilla memberhentikan perkataannya. Mulutnya kini tengah di bekap oleh Iel. Begitu juga dengan Ify yang kini tengah dibekap Rio.


"Bawel lu berdua !" SICARAGO -minus Ify Shilla- serentak berteriak. Ozy tertawa kecil melihat tingkah teman-teman barunya ini.


"Abisnya dia ada di sini. Di antara kita."

"Tapi gak di kenalin ke gua sama Ify."



"Ya, tadikan lagi ngomongin masalah lu di kelas, cantik." Kata Iel pada Shilla.

"Makasih, gua emang cantik. Eh, btw, tadi Kak Ozy kan yang bantuin Ify ?" Tanya Shilla. Ozy mengangguk.

"Wahh, makasih loh, kak. Kalo tadi gak ada kakak, mungkin aku udah jadi perkedel sama Bu Winda." Kata Ify.

"Iya, gak papa kok. Lagian itu juga udah seharusnya. Tapi, kok bisa ampe kayak gitu sih ?" Tanya Ozy.

"Apaan sih ?" Tanya Agni yang belum mendengar masalah tadi.

"Udah, dengerin aja si Ify cerita, kak. Entar juga ngerti." Kata Shilla.



Ify membuka mulut. Menceritakan cerita aslinya secara detail pada teman-temannya itu. Mulai dari awal hingga akhir.

***

Ify berdiri di depan gerbang sekolah. Diliriknya jam tangannya. Sudah lebih dari 1 jam dia menunggu, sekolahan juga sudah mulai sepi. Palingan cuma anak-anak eskul doang yang masih ada di sekitar pekarangan sekolah. Namun, supirnya belum juga menjemputnya. Dia merutuki dirinya sendiri yang tadi pagi ngotot tidak mau membawa mobil sendiri.

TIIN  !!!

Sebuah Avanza Silver keluar dari pekarangan sekolah. Ify sudah hafal dengan mobil ini. Mobil Via. Mobil itu berhenti di sebelah Ify. Wajah Via terlihat dari dalam mobil itu. Tepat di balik kemudi.

"Kenapa, Vi ?" Tanya Ify heran.

"Lu belum balik ?" Via balik bertanya.

"Belum, kenapa ?"

"Gak. Thanks tadi udah nolonging gua."

"Iya, sama-sama. Udah seharusnya gua nolonging lu."

"Oh, lu nunggu supir yah ?"

"Iya."

"Eem,.."

"Kenapa, Vi ?"

"Lu mau gua anterin gak ?"

"HAH ??!!"

"Buset, dah. Biasa aja kali."

"Em, abisnya gua kaget. Gak biasanya."

"Yaudah, sekarang lu jawab, mau gua anterin balik kagak ? Sekalian bales budi."

"Em, kagak usah deh. Palingan bentar lagi juga gua di jemput."

"Yaudah kalo gitu. Gua duluan."



Belum sempat Ify menyahut, Avanza itu telah melaju. Meninggalkan Ify sendirian (lagi). Pikirannya melayang. Bingung dengan sikap Via yang tadi menawarkan tumpangan padanya. Sedikit senyum muncul di wajah tirus Ify. Membuatnya semakin menarik di pandangan orang.

"Ify.." Panggil seeorang. Ify menoleh.

"Eh, lu, Yo. Kenapa ?" Tanya Ify.

"Lu kok belum balik ?"

"Belum di jemput Yo."

"Oh, yaudah ayok sekalian sama gua. Kan rumah gua sama lu gak beda jauh. Tapi ke rumah gua dulu, yah." Kata Rio.

"Ngapain ke rumah lu dulu ?"

"Si Acha pengen ketemu, lu. Katanya sih kangen."

"Oh, yaudah kalo gitu. Ayo. Tapi,,"

"Tapi apa ?" Kata Rio menyerahkan helm pada Ify.

"Tapi mampir ke Alfamart dulu, yah. Mau beli eskrim buat Acha." Kata Ify memakai helm tadi. Rio mengangguk.


Motor Ninja merah milik Rio melaju di keramaian. Meninggalkan sekolah tercintanya. Tangan Rio meraih tangan Ify. Seakan menyuruh Ify untuk memeluk pinggangnya. Agar tidak jatuh. Karna memang saat ini Rio melajukan motornya di atas rata-rata. Tanpa di sadarinya, sebuah senyuman kecil terpampang jelas di wajahnya yang tertutupi oleh kaca helm. Begitu juga dengan Ify, untung saja kaca helm itu berwarna agak gelap. Sehingga wajahnya yang kini memerah dapat disembunyikan.

***

Mobil Avanza Silver milik Via memasuki sebuah rumah yang megah. Ya, itulah rumah Ayahnya. Via memarkirkan mobilnya di garasi. Lalu, dia berjalan perlahan memasuki rumah. Tepat di depan pintu rumahnya, seekor anjing golden retriever menggonggong kepadanya. Via menoleh, tersenyum kepada anjing itu.

"Hei, kamu nungguin aku pulang yah, Than ?"Kata Via menghampiri anjing itu. Anjing itu semakin gencar melompat-lompat.

"Kamu udah makan belum ? Pasti belum, deh. Aku ganti baju dulu, ya. Kamu tunggu di sini." Via mengelus perlahan bulu halus dari anjing satu-satunya ini.


Via berjalan menuju kamarnya. "Via's Room ! " . Terpampang tulisan tangannya yang indah itu. Kamar Via dipenuhi lukisan. Ya, itu Via sendiri yang menggambarnya. Entah itu gambar pohon, hewan, bahkan manusia pun ada. 2 orang gadis kecil yang bergandengan tangan. Tepat di dinding belakang ranjangnya. Gambar Via dan Ify.

Via membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Pikirannya melayang mengingat kata-kata yang dilontarkannya secara spontan itu. 'Lu mau gua anterin gak ?'. Entah itu terlontar dari hatinya hanya semata dari otaknya. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata pada dirinya sendiri bahwa itu terlontar karena dia hanya ingin membalas budi. Walaupun sebenarnya hatinya rindu akan kasih sayang dan perhatian kembarannya itu.

Setelah mengganti bajunya, Via menuju dapur. Menyiapkan makanan (DogFood) untuk Nathan, anjingnya itu.



Bersambung..

Gimana ? ada yg kurang gak ? tolong coment dn kritik nya ya ke @chikaStevadit atau wall fb chika_priska@yahoo.com jgn jadi silent readers ya guys. thankiss :*

Senin, 29 April 2013

Ikatan Batin [2]

Malam ini, orang tua Gabriel tidak pulang. Mereka masih ada urusan di luar negri. Biasalah, urusan perusahaan. Perusahaan keluarga Damanik memang sangatlah besar. Perusahaannya kini sudah ada di seluruh bagian negara. Masing-masing negara setidaknya memiliki salah satu perusahaan Damanik. Gabriel memang tumbuh tanpa kasih sayang berlimpah dari kedua orangtuanya. Bisa dibilang mereka jarang bertemu. Namun begitu, dia mengerti urusan keluarganya. Demi dirinya.

Gabriel Stevent Damanik, satu-satunya keturunan dan penerus perusahaan Damanik yang telah berdiri selama 28 tahun. Satu-satunya orang yang akan meneruskan perusahaan keluarga ini. Anak lelaki dengan perawakan tinggi, berkulit sawo matang (coklat), pintar, jago dalam hal menyanyi dan bermain basket. Juga dalam hal memainkan alat musik terutama gitar dan piano. Salah satu bagian dari keluarga Ify.

Teman-temannya sejak kecillah yang membuatnya menjadi anak yang tegar. Karna kebanyakan, sobatnya ini juga memiliki nasib yang sama dengannya, Cakka contohnya. Lelaki yang memiliki gaya seperti Justin Bieber ini memang memiliki nasib keluarga yang tak jauh berbeda dengan Iel. Dia hanya tinggal dengan para pembantu, orang-orang yang dipekerjakan oleh kedua orangtuanya, juga kakak lelakinya. Namun begitu, baik Cakka dan kakaknya maupun Iel tidak pernah meminta lebih pada dua orangtuanya. Setiap kali mereka bertemu dengan orangtuanya setelah lama tak bertemu, mereka pasti langsung jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama dengan orangtua.

Lain halnya dengan Alvin. Lelaki berkulit putih dan wajah sangat Chinese ini tinggal bersama Omanya. Kedua orangtuanya telah tiada sejak dia kecil. Hanya satu foto yang dia punya. Foto ketika dia bersama kedua orangtuanya untuk terakhir kalinya. Sebelum kecelakaan itu merenggut nyawa kedua orangtuanya dan hampir saja nyawanya juga. Namun begitu, dia tak pernah memperlihatkan perasaan sedihnya melihat orang yang dekat dengan Ibu mereka. Alvin memang cuek, namun bukan berarti dia tidak perduli dengan sekitarnya. Termasuk temannya. Justru dia orang yang paling peka di antara CRAG.

Kalau Rio beda sendiri. Dia hidup bahagia bersama Ayah, Ibu dan adik perempuannya. Memang keluarganya juga memiliki perusahaan yang hampir sama besarnya dengan perusahaan Iel, Damanik's Corps. Namun, ayahnya itu selalu bisa membagi waktu untuk pekerjaan, dan keluarga. Haling's Corps adalah satu dari 5 perusahaan terbesar di dunia. Mario Stevano Aditya Haling adalah penerus pertama dari Haling's Corps di Indonesia dan 5 negara lainnya. Sedangkan adiknya, Raissa Safanah Adinda Haling adalah penerus dari Haling's Corps di Aussie dan 5 negara lainnya.

Malam ini, CRAG bermalam di rumah Iel. Pertama, karna orang tua Iel tidak ada. Kedua, karna mereka memang sedang ada sesuatu yang harus dibahas. Apalagi kalau bukan tentang si kembar itu. Via dan Ify. Saudara Iel yang memang kembar identik itu. Yang diam-diam telah menarik perhatian Rio. Via dan Ify. Salah satu dari mereka telah berhasil meluluhkan hati seorang Mario.

"Wahh, waahh,, Vin. VIN !! Itu yupi guaa !!" teriak Cakka melihat yupinya na'as dimakan Alvin.

"Ah, berisik lu. Beli lagi sono. Yang banyak, ya." kata Alvin cuek. Kembali memainkan psp putihnya.

"Idih, mending belinya pake duit lu. Lah ini, belinya aja pake duit gua." Cakka manyun.

"Makin jelek lu kalo manyun." sembur Rio yang sedari tadi asik main catur dengan Iel.

"Dia mah emang udah jelek, Yo." kali ini Iel yang berbicara.

"Aish, pada sekongkol nih bikin gua keki. Cukup tau gua sama lu semua." kata Cakka ngambek.

"Mirip cewek lu. Pake ngambek-ngambek segala." Alvin yang cueknya selangit angkat bicara. Di angguki oleh suara tawa Iel dan Rio.

"AAAAHHHH !!!!!!!" Cakka berteriak.

"BERISIIKKK !!!!!!" Iel, Rio, dan Alvin berteriak. Cakka menutup kedua telinganya.

"Gila lu bertiga. Makan toa mesjid ye?" Cakka menggelengkan kepalanya.

"Bacot lu. " Iel kembali memfokuskan pandangannya pada layar laptopnya.

"Ngeliatin siapa lu, yel?" tanya Cakka.

"Ngeliatin twitternya si Ify. " Jawab Iel sembari memutar laptopnya mengarah pada ketiga temannya itu.

2s 20.47
@IfyAlyssa
Mgkn gua bru sdar, kalo sbnernya gua suka sama dia :')

1minute 20.46
@IfyAlyssa
Just miss him !

10minute 20.36
@IfyAlyssa
Anata Daisuki !!!

***

Ahmad Fauzy Adriansyah. Sebuah nama yang langsung menggelegar di SMA Yordanian. Seorang anak baru pindahan dari Los Angeles. Yang kabarnya adalah anak dari pemilik sekolah ini. Memang pernah ada kabar yang berkata bahwa anak pemilik sekolah tinggal di luar negri. Tapi tidak ada yang tahu siapa namanya. Dan tiba-tiba saja Ozy -panggilannya Fauzy- datang dari LA ke SMA ini.

Jam sekolah sudah menunjukkan pukul 07.30. Namun kegiatan belajar mengajar belum juga dimulai. Semua guru berdiri di sepanjang gerbang sekolah. Seluruh murid berdesak-desakan di koridor dan lapangan sekolah. Memperhatikan para guru mereka yang tampak gelisah. Begitu juga dengan kepala sekolah. Tidak lupa Via dan dayang-dayangnya yang juga berada di lapangan basket, memperhatikan kepala sekolah yang tampak gelisah dan bingung.

Sedangkan Ify, Shilla, Agni dan CRAG berdiri berdampingan di koridor sekolah. Pandangan mereka menuju satu titik. Gerbang SMA Yordanian. Tiba-tiba, sebuah limousin dan mobil mercedes masuk ke dalam pekarangan sekolah. Para guru langsung membungkukkan badan mereka. Seakan-akan memberi hormat kepada atasan. Dari arah limousin, supir itu keluar dan membukakan pintu. Seorang lelaki paruh baya turun dari limousin dan langsung menyuruh para guru untuk berhenti membungkuk. Lelaki itu mengalihkan pandangannya ke arah mercedes.

Pintu mobil mercedes itu terbuka. Seorang lelaki tampan turun dari mobil itu. Serentak berbagai teriakan terdengar dari segala penjuru sekolah. Ozy, lelaki yang turun dari limousin itu mengalihkan pandangannya kepada para manusia yang sedang berdesak-desakan di lapangan dan juga koridor. Menebarkan senyum manisnya itu kepada para wanita di sekolah ini. Teriakan kembali terdengar riuh.

Via yang memang mempunyai niat untuk mendekati Ozy mulai berjalan ke arah Ozy. Tentunya di ikuti oleh dayang-dayangnya. Ozy yang melihat Via mendekatinya mengalihkan perhatiannya. Di perhatikannya Via dari ujung rambut hingga ujung kaki. Memang Via itu sangat sempurna. Ozy menampilkan senyum manisnya kepada Via, sekali lagi. Via membalas senyum itu.

"Hai, pasti kamu itu Ozy yah ? Anak pemilik sekolah ? Kenalin, aku Sivia Azizah Reynanta. Panggil aja Via. Aku itu kapten cheers dan ratu di sekolah ini." Via memperkenalkan dirinya. Mendengar perkataan Via barusan, Ozy bergidik.

'Gila nih cewek. Pede gila, masbrooo.' batin Ozy.

"Ahmad Fauzy Adriansyah. Panggil aja Ozy. " Ozy tersenyum dan menyebutkan namanya.

"Ohya, Zy, kamu pasti bakalan jadi raja di sekolah ini, trus aku kan emang udah jadi ratu. Trus entar kita bakalan jadi pasangan. Kan serasi banget, Zy." Kata Via. Ozy
hanya tersenyum. Namun kali ini senyumannya kecut.

"Ozy, kamu sekolah di sini ya? " Kata Om Dylan. Papa dari Ozy.

"Iya, Pa." jawab Ozy.

"Kalian ! Kalian harus mengajar anak saya dengan baik. jangan sampai dia ketinggalan pelajaran !"

"Iya, Pak !"

"Kalau begitu Papa pergi ke kantor dulu. Entar biar kakak kamu yang menjemput. " kata Om Dylan sekali lagi. Ozy hanya mengangguk dan menyiratkan senyumannya.
Mobil mercedes dan limousin itu keluar dari pekarangan sekolah. Dan kegiatan di sekolah ini kembali seperti biasa.

***

Kelas XII IPA 1 - kelas CRAG

"Anak-anak, mulai saat ini siswa di kelas ini bertambah satu. Dan kalian pasti sudah tau siapa orangnya. Silahkan masuk."

"Hai semuanya, kenalin nama gua Ahmad Fauzy Adriansyah. Panggil aja Ozy. Gua baru aja pindah dari LA. Dan gua bakalan butuh bantuan kalian. Banyak banget
bantuan dari kalian semua." Ozy tersenyum.

"Baiklah, Ozy. Kamu bisa duduk sama Mario di sebelah sana. Silahkan."

"Baik. Terima kasih, Bu." Ozy berjalan menuju tempat Rio yang memang kosong.




"Hai, lu anak pemilik sekolah, ya ?" Rio bertanya. Pandangannya mengarah kepada Ozy.

"Iya, lu siapa?" Ozy balik bertanya.

"Gua Mario Stevano. Panggil aja Rio. Yang dibelakang itu Cakka Nuraga, Gabriel Stevent, sama Alvin Jonathan. Sohib-sohib gua." Rio mengenalkan mereka satu persatu.

"Cakka."

"Iel."

"Alvin."

"Gua Ozy. Ohya, ntar temenin gua keliling yuk. Pengen gua ngeliat-liat sekolah ini. Semenjak sekolah ini berdiri, belum pernah sekalipun gua coba masuk ke sini. Jadi
penasaran juga." Kata Ozy yang langsung di angguki oleh CRAG.

***

Kelas XI IPS 1 - Kelas Ify, Shilla, Via, Angel, Zahra

"Fy, yang ini gimana sih? Gua gak ngerti deh." Kata Shilla menyerahkan buku matematikanya pada Ify. Sejenak Ify memperhatikan soal yang ditunjuk oleh Shilla. Seakan berfikir, Ify mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mendapatkan cara memecahkan soal itu.

"Jadi tuh gini, pertama, lu sederhanain dulu jadi berapa pangkat 3. Abis itu lu kaliin pangkatnya. Kan kalo kayak gini bisa di coret tuh. Nah, abis ini lu tinggal kali. 12
pangkat 4 itu berapa, yang ini sama ini juga berapa. Abis itu di kaliin. Jangan lupa dibagi 8. Nah, ini hasilnya. Sekarang lu coba aja deh soal selanjutnya." Jelas Ify.

Via memperhatikan Ify sejak tadi. Pikirannya penuh dengan cara untuk mengerjai Ify. Tugas matematika dari gurunya tak dikerjakannya. Bahkan dia tak sempat melihat soalnya sekalipun. Belum dia baca sama sekali. Bu Winda, guru matematika yang sedang memeriksa pekerjaan rumah murid-murid, melihat Via yang dari tadi tak memperhatikan soal darinya. Tak membaca dan mencoba mengerjakan soal darinya.

"Via !" Panggil Bu Winda. Via yang sedang sibuk dengan pikirannya tak mengindahkan panggilan Bu Winda.

"Sivia Azizah !" Panggilnya sekali lagi. Masih sama. Tak di anggap oleh Via. Angel yang duduk sebangku dengan Via menyenggol lengan Via.

"Sivia Azizah Reynanta !!! " Via kaget. Serentak seisi kelas melihat Via.



Bu Winda yang memang terkenal galak itu berdiri. Menulis sesuatu di papan tulis. Via mulai menelan ludahnya. Mulai memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Bu Winda. Dia berpura-pura sedang menulis di buku tugasnya. Teman-temannya memperhatikan tulisan Bu Winda. Sebuah soal. Bu Winda membuat sebuah soal yang bisa dibilang lumayan susah untuk kelas 11 SMA ini.

"Sivia ! Kesini kamu !" Via berdiri. Dia mulai berjalan ke arah Bu Winda. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam saat berada di samping Bu Winda.

"Sekarang kamu kerjakan soal yang baru saja saya tulis di papan tulis ini !" Kata Bu Winda. Sebuah spidol yang memang sudah dipegang olehnya di berikan pada Via.

'Mampus gua! Mana ngerti gua ini. Kayaknya belum di ajarin deh.' batin Via.


Bersambung...


Gimana ? ada yg kurang gak ? tolong coment dn kritik nya ya ke @chikaStevadit atau wall fb chika_priska@yahoo.com jgn jadi silent readers ya guys. thankiss :*

Ikatan Batin [1]

"Sialan !" batin seorang gadis tirus sembari berlari kecil di koridor sekolahnya. Sesekali diliriknya jam tangan putih berbentuk kepala stitch yang bertengger di pergelangan tangan kirinya. 07.10. sudah 10 menit yang lalu kegiatan mengajar dilakukan. Untung saja tadi dia bisa mengecoh satpam yang menjaga untuk membukakannya gerbang. Kalau tidak, dengan terpaksa dia bolos. Gadis itu terus saja berlari, sehingga dia tidak memperhatikan orang dari arah berlawanan.

BRUK !

"Aiish.." pekik gadis itu.

"Heh ! Lu tuh tetep aja yah gak bisa liat jalan apa ?!!" Bentak gadis yang ditabrak. Kedua gadis itu terjatuh.

"Idiih, gua tuh gak sengaja, Via."

"Heh ! Ga usah sebut-sebut nama gua ! Ga sudi nama gua yang indah itu disebut sama orang menyedihkan kaya lu, Ify !!" Bentak gadis bernama Via itu. Berdiri dan kembali berjalan menjauhi Ify. Ify hanya menghela nafas.

    Padahal mereka adalah saudara kembar, identik sekali. Namun, sejak kecil mereka sudah dipisahkan karena perceraian kedua orangtuanya. Via ikut ayahnya. Semua keinginannya diberi. Membuat Via menjadi manja dan egois. Sedangkan Ify, walaupun Ibunya juga orang yang bisa dibilang, sangat berkecukupan, namun dia lebih bisa menahan diri. Tidak manja, namun mandiri, dan tegar. Juga, tidak suka menghamburkan uang Ibunya. Sangat amat berbeda dengan Via yang bertolak belakang dengannya. Perbedaan mereka yang sangat jelas hanya satu, Ify memiliki wajah tirus, sedangkan Via wajah yang bisa dibilang chubby.

Ify berdiri, membersihkan roknya yang sedikit berdebu.Dan kembali melirik jam tangannya.

"Shit, jadi makin telat, dah gua."

***

"Weh, Fy. Makanan tuh harusnya dimakan, bukan diliatin kayak gitu. Kalo tuh ayam masi idup, gua yakin langsung kabur gara-gara lu liatin mulu." Seru gadis berambut panjang di sebelah Ify. Risih juga tuh cewek gara-gara si Ify cuma ngeliatin ayam goreng + nasi yang tadi dipesen. Bukannya dimakan.

"..." Ify tak menjawab. Masih saja memperhatikan ayam gorengnya. Tak menyentuhnya sedikitpun.

"Mendingan buat gua deh, Fy. Kalo lu gak mau." Geram gadis itu. Tangan gadis itu meraih piring di hadapan Ify. Melihat arah pandangannya bergerak, Ify pun tersadar.

"Eeeehh !! Makanan gua, sedeengg !!" Pekik Ify sadar makanannya mau di lahap sahabatnya itu.

"Lagian dari tadi cuma diliatin mulu, mending kan buat gua. Masi laper gua." kata gadis itu mengelus perutnya. Walaupun makan banyak, tapi perut gadis itu gak terlihat buncit ataupun gendut.

"Gila, lu. Udah makan bakso semangkok, nasi goreng sepiring, siomay, sekarang ayam goreng gua juga mau di embat. Itu perut luh tangkinya seberapa sih, Shill?" cibir Ify menunjuk perut Shilla.

"Tangkinya melebihi mobil tangki yang biasanya buat ngisi bensin ke pom bensin." kata Shilla asal sambil minum orange juice miliknya.

"Gila, lu. Udah ah, gua mau makan."

BRAK !

Ify yang baru saja mau menyuapkan makanannya kaget. Hampir saja piringnya jatuh gara-gara gebrakan tadi. Sedangkan Shilla, dia tersedak gara-gara kaget juga. Ify mengangkat wajahnya. Beradu mata dengan gadis dihadapannya. Gadis yang memiliki perawakan yang sama dengannya. Via. Sivia Azizah Reynanta. Saudara kembarnya, Alyssa Saufika Reynanta. Adik kembarnya yang hanya beda 3 menit dengannya yang lahir lebih dulu.

"Minggir lu !!" Bentak Via. Terlihat dibelakangnya, dayang-dayang setianya mengikuti. Angel dan Zahra bertolak pinggang mengikuti Via. Mereka memang dayang setia Via. Si Ratu disekolah ini. SMA Yordanian, salah satu SMA Elit di Jakarta.

"Kan gua duluan yang duduk di sini, Via." kata Ify selembut mungkin.

"Gua kan udah bilang ! jangan pernah sebut nama gua ! gua jijik ngedenger nama gua yang indah ini di sebut sama cewek kayak lu ! cewek sampah !" bentak Via lagi. Angel dan Zahra maju. Menarik lengan Ify dengan kasar. Ify terjatuh di lantai kantin.

"Hahahaha. Rasain, lu. Itu salah satu akibatnya jika lu mau ngelawan gua, IFY !" kata Via dengan menekan nama Ify. Dia, Zahra dan Angel tertawa dan duduk di tempat Ify yang tadi.

"Ify,, lu gak papa?" Tanya Shilla menghampiri Ify yang masih jatuh terduduk di lantai kantin. Ify menggelengkan kepalanya. Matanya masih tertuju pada Via dan gengnya.

Tatapannya kali ini sendu. Dia sedih dengan perilaku Via yang berbeda jauh dengan yang dulu. Shilla geram melihat Via menjatuhkan piring makanan Ify dan juga minumannya. Beling berserakan dimana-mana. Piring dan gelas itu pecah, hancur.

"GILA LU SEMUA !!" teriak Shilla menunjuk Via dan gengnya. Via menoleh, diikuti Zahra dan Angel.

"Mau apa? Mau ngebela 'Sahabat' lu itu, hah ?!" kata Via dengan beberapa penekanan. Zahra dan Angel hanya cekikikan mendengar kata-kata Via. Via tersenyum kecil. Merendahkan Ify dan Shilla.

BRAK !!

Sebuah kursi plastik terlempar melewati meja Via dan gengnya. Via dan gengnya kaget. Seketika juga amarah Via meninggi. Dia berdiri dan menatap sekelilingnya geram. Ify yang memperhatikan hal itu ikut berdiri dengan cepat dan menatap sekelilingnya yang sedang menatapnya dan Via. Mata tajam Via menatap satu persatu siswa-siswa. Sedangkan Ify was-was melihat adiknya yang hampir dicium oleh kursi plastik tadi.

"Nyari gua?" Tanya sesosok lelaki tinggi dengan seragam yang awut-awutan. Lelaki itu tersenyum sinis. Dibelakangnya terlihat 3 orang lelaki lainnya. Dan juga seorang wanita yang lebih pantas disebut lelaki. Namun, dia sangat cantik sehingga dapat dipastikan dia perempuan. Perempuan itu menghampiri Ify dan Shilla. Mengajak mereka untuk mengikuti berjalan ke arah 4 cowok tadi.

"Lu ! Lu hampir nyelakain gua, tau !" teriak Via sambil menunjuk-nunjuk lelaki itu. Jarak mereka yang agak jauh membuatnya harus berteriak dua kali lipat agar terlihat galak.

"Gua kan cuma nendang kursi. Mana gua tau kalo tuh kursi punya niat buat nyium, lu. Ya gak, Vin?" kata cowok itu pada Alvin, salah satu temannya yang kini tengah asik tertawa.

"Bener banget tuh. Gila, ya tuh kursi. Nyosor cewek aja kerjaannya." Kata Alvin dengan di selingi tawa.

"Apalagi ceweknya kaya tuh anak, cakep loh." Kali ini Gabriel yang berkata. Dia hanya tersenyum merendahkan.

"Coba aja kena, udah gua foto trus gua jadiin foto mading dengan judul 'seorang gadis cantik kelas 11 di sosor kursi plastik' hahahaa." Cakka tertawa keras. Sampai-sampai memegangi perutnya.

"GILA LU SEMUA !" Via geram. Dia berjalan kearah CRAG (CakkaRioAlvinGabriel). Setelah berdiri tepat di depan Rio, tangannya bergerak hendak memukul Rio.  Tapi dicegah oleh seseorang. Saudara kembarnya. Saudara tak dianggapnya.

"Jangan, Vi." kata Ify tegas. Tatapannya kini hendak membunuh Via. Walaupun begitu, Via menurut. Dia akan langsung ciut begitu Ify melepaskan tatapan tajam padanya dengan disertai kata-kata tegas.

"Gak usah ikut campur !" Via mengelak dan membuang wajahnya. Tidak berani membalas tatapan tajam Ify.

"Wah, gimana, ya. Gua sebenarnya gak mau ikut campur. Tapi kalo lu ampe berani ngelawan sama kakak kelas, apalagi mau mukul orang terutama kakak kelas, gua gak akan tinggal diam, Via. Itu artinya lu udah keterlaluan. Dan gua yang akan hentiin lu !" Ify berkata dengan tegas. Tangannya mencengkram tangan Via kuat-kuat.

"Bacotlah, lu !" Kata Via menyudahi. Ditepisnya tangan Ify dan dengan gerakan dibuat-buat, di lewatinya CRAG begitu saja, Zahra dan Angel mengikutinya.



"Gilaa, hebat juga lu, Fy. Tumben loh 'adek' kembar lu itu mau ngedengerin kata-kata lu." kata Shilla kagum. Ify hanya tersenyum kecil.

"kamu gak papa, Fy?" tanya Agni, cewek yang tadi dianggap cowok.

"Gak papa, kak. Cuma jatuh biasa, kok." kata Ify tersenyum. Rio mengalungkan lengannya dipundak Ify.

"Kalo kenapa-napa bilang aja sama kita, jangan sungkan. Kakak sepupu lu tuh temen kita. Otomatis, lu juga adek kita-kita." kata Rio tersenyum. Membuat hati Ify agak
berdegup kencang.

'gila, nih jantung. Ngapain pake dugem segala sih.' batin Ify.

"Iya, Fy. Kamu tuh gak boleh sungkan sama kakak dan teman-teman kakak. Kamu kan sepupu kakak. Dan kalo boleh jujur, kakak juga udah gak suka sama kelakuan
Via yang makin lama makin menjadi-jadi." kata Iel -Gabriel- kakak sepupu Ify dan Via.

"Iya, kak. Oh, ya. Ify sama Shilla balik dulu, yah. Udah mau bel bentar lagi." kata Ify sopan. Ify dan Shilla berlari meninggalkan CRAG+Agni di kantin setelah mereka pamit.

"Gila ya. Lu punya adik sepupu 10 kaya Via pasti langsung mati berdiri lu." kata Cakka yang lagi asik bercanda sama Agni, pacarnya.

"Satu aja udah buat gua sport jantung, Kka." kata Gabriel menikmati minumannya.

"Kaya gua dong, gak punya kakak ato adik. Sepupu pada jauh-jauh semua." kata Alvin.

"Itu mah derita lu, Vin." Rio menyahut.

"Hahaha. Hidup kita berbeda, broo. Emang inilah hidup gua. Dipenuhi dengan orang-orang aneh. Kayak kalian contohnyaa. Hahahaa." kata Gabriel tertawa.

***

BRAK !!

Terdengar suara pintu yang dibanting Via. Hatinya geram melihat Gabriel hanya memihak Ify. Padahal dia juga adik sepupunya Iel. Dia melemparkan tasnya asal dan membantingkan tubuhnya ke ranjangnya. Matanya menatap langit-langit yang sengaja di cat berwarna biru. Seperti langit. Dan itu selalu berhasil membuat hatinya sedikit lebih tenang dibandingkan tadi.

Via memutar tubuhnya. Pandangannya kini mengarah pada 3 buah figura dimeja belajar. Foto pertama adalah fotonya dengan gadis lain. Gadis yang juga memiliki perawakan sama dengannya. Gadis yang sebenarnya adalah saudara kembarnya, Ify. Gadis yang selama ini dirindukannya. Via membenci Ify, namun hatinya tak dapat membenci Ify sepenuhnya. Rasa bencinya pada Ify hanya kemauan egoisnya. Diraihnya figura yang satu lagi.

Figura yang berisi foto 2 orang. Satu lelaki dan satu lagi perempuan. Ayah dan Ibunya. Foto orang yang sangat dibenci Via namun juga sangat dicintai oleh Via. Dia merindukan dua sosok itu. Sosok orang yang dulunya selalu ada untuknya dan Ify. Namun karna mereka berdua juga, Via dan Ify menjadi seperti sekarang. Via membenci kedua orang itu. Sangat membencinya. Tangannya kembali meraih figura terakhir.

Figura berisi foto dirinya, Ify, Ayah dan Ibunya. Itu diambil saat mereka dulu masih bersatu dan sedang liburan ke makassar. Terlihat jelas dibelakangnya tulisan besar 'PANTAI LOSARI'. Salah satu tempat favorit Ify dan Via kalau ke Makassar. Via memeluk foto itu erat. Tak sadar, beberapa bulir air mata menetes di pipinya yang gembul itu. Dalam isakannya, Via berkata.

"Zia kangen Mama, Papa sama Lyssa."

***

Ify melepaskan sepatunya, menaruhnya dengan rapi di rak sepatu. Tercium aroma sedap di hidungnya. Membuatnya menjadi tergiur untuk datang ke dapur. Tempat kesukaannya di rumah selain kamarnya sendiri. Terlihat seorang wanita paruh baya sedang memasak sesuatu. Keadaan dapur menjadi sedikit kacau. Namun itu terbalaskan dengan beberapa hidangan yang menggiurkan di atas meja makan.

Ify menaruh tasnya dengan sangat pelan. Nyaris tak bersuara, dia berjalan mengendap ke arah wanita itu, Mamanya.Dipeluknya sosok itu dari belakang. Membuat wanita itu sedikit terkejut dan penggorengan mengenai tangan Ify. Karna saat itu Sang Mama hendak mengangkat wajan. Menaruh isinya di atas piring.

"Ya ampun, Ify. Makanya jangan jahil. Kena batunya kan, kamu." Keluh Mama.

"Yaelah, Ma. Gini doang mah, kecil." Kata Ify tersenyum dan menjentikkan jari kelingkingnya.

"Haaah, terserah kamu, saja. Sudah sana kamu ganti baju. Trus obatin luka kamu itu. Gak liat apa di sana sudah ada ayam goreng mentega kesukaan kamu?"

"Iya, Ma. Ini juga Ify mau ganti baju. Eh, Ma..."

"Kenapa, sayang?"

"Ify cuma mau bilang kalo Ify sayang sama Mama dan.."

"Dan ??"

"Dan jangan abisin ayam mentega Ify.." Kata Ify berlari menuju kamarnya. Tante Gina - Mama Ify - hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan putrinya ini.

"Seandainya Mama bisa melihat kamu dan Via tumbuh bersama." batin Tante Gina.


Bersambung...

Gimana ? jelek yah ? ada yg kurang gak ? tolong coment dn kritik nya ya ke @chikaStevadit atau wall fb chika_priska@yahoo.com jgn jadi silent readers ya guys. thankiss :*