"Sivia ! Kesini kamu !" Via berdiri. Dia mulai berjalan ke arah Bu Winda. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam saat berada di samping Bu Winda.
"Sekarang kamu kerjakan soal yang baru saja saya tulis di papan tulis ini !" Kata Bu Winda. Sebuah spidol yang memang sudah dipegang olehnya di berikan pada Via.
'Mampus gua! Mana ngerti gua ini. Kayaknya belum di ajarin deh.' batin Via.
Ify memperhatikan soal yang dituliskan Bu Winda dengan seksama. Tangannya berputar-putar di selembar kertas. Dia menggelengkan kepalanya. Tanda bukan rumus itu yang dipakai untuk memecahkan soal tersebut. Ify kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Dilihatnya wajah Via mulai gelisah. Perasaan Ify jadi tak enak. Dia tau, bahwa Via pasti takut. Dia tak dapat memecahkan soal itu.
Ify mengacak-acak rambutnya pelan. Dia juga tidak dapat memecahkan soal tersebut. Tidak menggunakan rumus geometri ataupun rumus-rumus lain yang telah dipelajarinya dulu. Tidak ada satupun rumus yang benar untuk memecahkan soal tersebut. Tiba-tiba matanya membulat. Dia menyadari sesuatu. Sesuatu yang daritadi harusnya sudah disadari. Sesuatu yang telat disadarinya dan membuat saudara kembarnya itu jadi ketakutan seperti ini.
***
"Bu Okky !!" Teriak Rio. Bu Okky mengalihkan pandangannya kepada lelaki itu.
"Kenapa Rio ?" Tanyanya.
"Kenapa harus sesuai dengan undang-undang?" tanya Rio.
"Iya, Bu. Kan undang-undangnya aja gak konsisten Bu. Udah berulang kali diubah." Lanjut Iel.
"Lagian yah, Bu. Percuma juga kita mengikuti Undang-undang Indonesia. Sekarang makin banyak Bu yang gak tau namanya undang-undang. Mereka melakukan segala
sesuatunya seenak jidat mereka." Alvin ikutan.
"Dan, Bu. Emangnya Ibu gak pernah ngelakuin sesuatu yang berlawanan dengan UU Indonesia?" Ozy juga jadi terpengaruh.
"Bu Okky !!!!! Lihat nih Bu ! Gara-gara kata Ibu kita mesti mengikuti peraturan perudang-undangan di Indonesia, muka saya jadi kayak JB nih Bu. Kan gak mirip sama muka-muka Indo Bu. Berarti saya bukan orang Indo. Dan saya gak harus mengikuti UU Indo kan, Bu ?" Cakka malah gak nyambung.
"GA NYAMBUNG CAKKAAAAA !!!!!" Alvin, Rio, dan Ozy berteriak. Sedangkan Iel melayangkan jitakannya ke kepala Cakka.
"Sudah. Sudah. Begini yah Cakka. Masalah wajah kamu yang mirip JB itu. Sepertinya Ibu tidak setuju. Karna wajah kamu itu lebih mirip sama.." Kata-kata Bu Okky
tergantung.
"Robert Pattinson ya, Bu ??" Sambung Cakka.
"Bukan.. Tapi lebih mirip sama wajah JOJON. " Kata Bu Okky.
"BUAHAHHAHAHAHAHAHAHA!!" Tawa CRAGO-minus Cakka tentunya- meledak. Begitu juga dengan tawa dari anak-anak sekelas. Bu Okky juga terlihat sedang menahan tawa. Cakka memajukan mulutnya.
"Kalo lagi manyun muka lu agak mendingan, Kka. Mirip sama Budi Anduk kalo kayak gini. Hahahahahaha." Kata Alvin di sela-sela tawanya memperhatikan Cakka yang
manyun. Cakka dan Alvin kan memang sebangku.
Tok.. tok.. tok..
"Permisi, Bu. Ibu dipanggil oleh Pak Rian. Dan di suruh keruangannya sekarang juga." kata seseorang.
"Baik. Anak-anak, maaf pelajaran kita hari ini terpotong. Kalian kerjakan saja soal yang ada di halaman 213 buku cetak. Tulis soal dan jawabannya. Bagian A sampai C.
Kumpulkan ke ketua kelas. Dan ingat, selesai atau tidak selesai harus tetap dikumpulkan. Paling lambat besok pagi sebelum bel masuk." Setelah berkata begitu, Bu Okky keluar dari ruang kelas.
"Weh, keluar nyok. Bosen gua."Kata Rio. Alvin yang sedang asik dengan BB Torch putihnya itu hanya menengok dan mengangkat bahunya. Seraya berkata 'Terserah lu'. Sedangkan Cakka dan Ozy yang dari tadi lagi bergaje ria hanya manggut-manggut setuju.
"Gua ikut weh, perasaan gua gak enak." Kata Iel.
"Si kembar itu ?" Tanya Rio. Iel mengangguk.
"Siapa ? Si kembar ?" Tanya Ozy.
"Mendingan lu ikut aja deh, ya. Kalo di jelasin bisa panjang banget. Dari lebaran Kambing sampe lebaran Gajah juga gak selese-selese."Kata Cakka.
"Hayuk jalan. Gak pake lama."Alvin menarik tangan Ozy keluar kelas. Menuju kelas 'Si Kembar'.
***
Sebuah tangan teracung ke udara. Bu Winda yang sedang memperhatikan Via mengalihkan pandanganya pada sang empunya tangan tersebut. Seorang gadis berdiri dari tempat duduknya. Masih dengan tangan yang teracung. Bu Winda membenarkan letak kacamatanya. Wajah gadis itu yang serius membuat Bu Winda menjadi bingung. Tangan gadis itu pun tak hendak turun walaupun sudah ditatapi oleh Bu Winda.
"Ada apa Alyssa ?" Tanya Bu Winda pada sang empunya tangan.
"Saya ingin protes, Bu." Jawab Ify tegas. Tangannya masih saja teracung.
'Gila tuh anak. Mau protes apaan ke Bu Winda?'
'Berani amat protes sama tu guru killer.'
'Nyari mati si Ify.'
'Protes apa kali? ga sayang idup nih si Ify.'
Batin anak-anak sekelas yang merutuki kata-kata Ify barusan.
"Protes apa Ify? Turunkan tangan kamu." kata Bu Winda. Matanya memandang Ify tajam.
"Saya mau protes tentang soal yang Ibu berikan pada Via." kata Ify santai. Menurunkan tangannya dan membalas tatapan tajam Bu Winda dengan santai.
"Memangnya ada apa dengan soal yang saya berikan kepada Via? Ada yang salah ?
"Tentu saja ada !" Ify mulai naik pitam. Shilla memegangi tangan Ify. Mencoba untuk menghilangkan amarah Ify sedikit. Via memperhatikan wajah Ify yang sedang marah itu. Dia merindukan sosok Ify yang selalu membantunya saat kesusahan. Seperti sekarang ini.
"Memangnya apa yang salah ? Coba jelaskan pada saya. Atau jangan-jangan kamu hanya ingin menolong Sivia karna dia saudara kembarmu ?"
"Tidak ! Saya tidak sedang mencoba membantu Via. Saya melakukan hal yang benar. Karna sampai otak kita semua meluap juga gak bakalan ketemu jawaban dari soal itu !"
Anak-anak satu kelas bengong. Ify ngomong kayak gitu ke seorang guru. Guru killer pula. Lintar yang memang paling pintar di kelas memperhatikan kembali soal di papan tulis itu.
"Kenapa bisa begitu?"
"Tentu saja seperti itu. Soal yang Ibu tulis di papan tulis itu kan hanya asal-asalan. Ibu hanya ingin memberi pelajaran pada Via. Dan lagi, soal itu kalau diperhatikan
adalah soal gabungan. Yang dapat dipecahkan dengan cara...." Kata-kata Ify terputus.
"Dipecahkan dengan cara gabungan dari rumus yang pernah kita pelajari saat kelas 10 dan rumus yang bakalan kita pelajari saat kelas 12 nanti. Tapi jarang orang tau rumusnya karna memang rumus itu tidak terlalu penting di Matematika." Sambung Lintar.
Wajah Bu Winda merah padam. Seisi kelas memasang wajah galak pada Bu Winda. Terutama Ify yang kini wajahnya seperti orang yang ingin membunuh. Via bengong. Wajahnya juga merah. Namun itu merah karna kesal, sedih, dan juga malu.
"Pantas saja dari tadi saya gak nemuin jawabannya. Ternyata..."Kata Via terpotong. Matanya menatap Bu Winda tajam. Bu Winda yang tak terima malah ikut terpancing emosinya.
"Siapa suruh kamu melamun saat saya memberikan tugas. Makanya kamu itu kerjakan tugas dari saya. Jangan melamun saja !!" Kata Bu Winda yang sudah terpancing emosinya.
"Bu, bagaimana kalau Ibu mengerjakan soal yang di papan tulis itu ?" Kata Ify.
"Iya, Bu. Saya juga penasaran dengan cara menyelesaikannya."Kata Irva.
"Ayo, Bu. Kerjakan soal yang di depan itu. Saya penasaran juga nih, Bu." Sambung Rizky.
"APA-APAAN KALIAN INI, HAH ? SAYA GURUNYA ! BUKAN KALIAN ! KALIAN TIDAK BERHAK MENYURUH-NYURUH SAYA ! SAYA MENYURUH SIVIA UNTUK MENYELESAIKAN SOAL ITU ! KENAPA JADI KALIAN YANG MENYURUH SAYA ?!!!" Bu Winda berteriak.
"Kalau saya yang menyuruh Anda ?" Sebuah suara dengan khas cengkoknya terdengar. Di ikuti dengan pemilik suaranya. CRAG pun masuk ke ruangan itu. Ify mengembangkan senyumnya. Via sedikit terkejut.
"Eh,, Anda.. Itu.. Em.." Bu Winda terlihat gelagapan.
"Kalau saya yang menyuruh Anda bagaimana ? Bisa Anda kerjakan ?" Kata Ozy, orang yang tadi bertanya.
"Tapi.. Saya.."
"Tapi apa, Bu ? Bukankah Ibu yang menulis soal itu ? Tentunya Ibu dapat mengerjakannya, bukan?"
"Memang benar.. Tapi.. Itu.. Saya.."
"Kenapa, Bu? Tidak bisa mengerjakannya ? Perlu saya yang mengerjakannya ?"
"Eh ?? Memangnya kamu bisa ?"
"Kalau saya bisa bagaimana? Apa Ibu akan mengambil resiko dari saya ? Saya bisa saja menelpon Ayah saya dan menyuruhnya untuk memecat Anda sekarang. Dan lagi, saya memang tidak suka cara Anda mengajar seperti ini."
"Coba saja. Saya saja yang membuat soal belum tentu dapat mengerjakannya."
"Baiklah kalau memang Ibu sudah mau menerima resikonya."
Ozy berjalan menuju papan tulis. Di raihnya spidol yang memang sudah ada di sana. Tangannya bergerak. Membuat berbagai tulisan. Otaknya yang memang sudah bisa dibilang canggih itu dapat menghitung dengan akurat. Dia yang sudah biasa diberikan soal dadakan yang memang seperti itu dapat mengerjakannya tanpa salah. Ternyata, jawaban dari soal itu adalah beberapa juta. Sungguh nilai yang sangat susah untuk didapatkan jika otak kita pas-pasan. Hampir satu papan tulis penuh dengan tulisan Ozy yang rapi itu. Akhirnya dia berhenti. Memperlihatkan hasilnya kepada Bu Winda dengan senyuman khasnya.
"Bagaimana, Bu ? Siap menerima resiko ?" Tantang Ozy.
"Tidak. Saya tidak percaya !" Bu Winda meraih sebuah kalkulator dan menghitung sendiri soal yang dibuatnya. Ternyata jawaban Ozy memang benar. Bu Winda kalah dengan Ozy yang menghitung dengan manual.
"Bagaimana, Bu ? Jawaban saya benar, kan ? Jadi, Anda siap?" Ozy mengeluarkan I-Phone 4 miliknya. Berpura-pura mencari kontak nama ayahnya. Wajah Bu Winda pucat pasi. Dia tak habis pikir telah menantang anak dari Bosnya sendiri yang ternyata tak dapat dipungkiri kecerdasannya.
Ozy tersenyum kecil. Memasukkan kembali I-Phonenya. Dan berjalan santai keluar kelas. Sebelum dia melewati pintu kelas, dia berbalik dan berkata
"Tenang saja. Saya tidak se naif itu membuat Anda berhenti karna hal sepele seperti ini. Namun kalau sampai terulang, jangan harap mendapat belas kasihan dari saya." CRAGO berjalan keluar kelas dengan senyum kemenangan. Tepat mereka keluar, bel istirahat juga berbunyi.
***
*kantin*
"Buahahahahaah !! "Gelak tawa CRAGO terdengar nyaring. Mereka masih membayangkan raut wajah Bu Wwinda, sang guru Killer tadi saat ketakutan. Camkan, KETAKUTAN.
"Gila, lu Zy. Lu gak liat apa tuh guru mukanya kaya gimana." Kata Rio yang masih saja tertawa.
"Mukanya gak nahan, weh. Gak nahan sumpah. Pengen gua foto tadi tuh. Masukin ke facebook, twitter, yahoo, line, whatsapp, instagram,..." Kata Cakka terpotong.
"Semuanya aja, Cakk." Kata Alvin yang kini sedang minum jus jeruk. Namun, masih ada sedikit senyum di wajahnya. Mengingat wajah guru killernya tadi.
"Udah, deh. Udah. Gila kali. Perut gua ampe sakit nih ketawa mulu. By the way, thanks loh, Zy. Lu udah mau nolongin sodara gua itu." Kata Iel.
"Yo'i, sami-sami, nak." Kata Ozy santai meminum jus sirsaknya.
"Eh, by the way, kok tadi lu ampe mau nolongin si Via sih? kan lu benci banget sama dia." Tanya Alvin.
"Walaupun benci, tapi gua gak bisa mungkirin kalo dia juga sodara gua, Alvin sayang." Kata Iel sambil melirik genit pada Alvin. Alvin bergidik.
"Idiiih, gua masih suka cewek, Yel. Suer dah." Alvin berdiri, pindah duduk di samping Rio yang paling memang duduk paling pojok.
"Hahahaha,, gua juga masih suka cewek, Vin. Hahahaha." Iel tertawa. Namun pikirannya juga melayang ke arah yang tadi. Disaat dia meminta bantuan Ozy untuk menolong saudara yang dibencinya itu.
#Flashback On#
Anak-anak CRAGO yang sedang tidak ada guru keluar dari kelas. Dan kebetulan mereka melewati kelas Ify. Iel melirik ke dalam ruangan, pandangannya tertuju pada Ify yang tengah berdiri dengan wajah kesal.
"Tentu saja ada !"
Suara Ify barusan membuat Iel berhenti. Otomatis temannya yang lain juga berhenti. Mereka ikut melihat kedalam ruangan. Beberapa argumen antara Bu Winda, Ify dan beberapa anak lainnya terdengar sangat jelas. Aura dalam kelas itu juga terasa oleh Iel yang kini tengah was-was akan kedua saudaranya itu. Iel menoleh kepada teman-temannya.
"Weh, bantuin Ify weh." Kata Iel.
"Tapi gimana caranya, Yel. Lu kan tau sendiri si Bu Winda tuh killer." Kata Rio.
"Iya, Yel. Tuh guru gak bisa dilawan. Sedikit ngelawan aja sama dia, fatal akibatnya." Alvin ikut mengingatkan. Wajah Iel berubah pucat. Dia teringat akan sifat Ify yang suka naik pitam jika terus di panas-panasi. Juga Via yang paling tidak suka dikerjain. Apalagi seperti ini. Sifat yang sangat membuat mereka berdua sama.
"Biar gua aja." Kata Ozy. Iel menoleh.
"Serius, Zy?" Tanya Iel.
"Serius lah." Ozy terlihat tenang.
"Gila lu, Zy. Tuh guru tuh killernya minta ampun." Cakka turun tangan.
"Wei, lu semua gak lupa kan siapa gua?" Tanya Ozy. CRAG saling pandang. Lalu tersenyum senang.
"Ozy si anak pemilik Yayasan." CRAGO sama-sama berbicara. Senyum mereka seketika sirna mendengar suara Bu Winda.
"APA-APAAN KALIAN INI, HAH ? SAYA GURUNYA ! BUKAN KALIAN ! KALIAN TIDAK BERHAK MENYURUH-NYURUH SAYA ! SAYA MENYURUH SIVIA UNTUK MENYELESAIKAN SOAL ITU ! KENAPA JADI KALIAN YANG MENYURUH SAYA ?!!!"
"Zy, ayo buruan." Kata Iel. Ozy mengangguk lalu membuka pintu kelas tersebut.
"Kalau saya yang menyuruh Anda ?" Kata Ozy santai. Sedangkan anak CRAG saling menahan tawa mereka melihat wajah Bu Winda yang tadi sangar berubah menjadi ketakutan.
#Flashback Off #
Mengingat hal itu, Iel tersenyum kecil. Setidaknya Via jadi punya hutang budi padanya dan teman-temannya. Walaupun lebih kepada Ozy sih sebenarnya. Sedangkan salah satu dari CRAGO tersenyum kecil melihat wajah gadis tadi yang ketakutan berubah menjadi senang melihatnya dan teman-temannya. Wajah yang tidak mungkin dilupakannya. Wajah yang membuatnya ingin terus tersenyum saat mengingatnya.
***
Masih di kantin, namun berbeda meja dengan CRAGO. Ify dan Shilla duduk manis sambil berbincang. Ditemani makanan mereka masing-masing.
"Gila lu, Fy." Kata Shilla. Ify yang hendak memakan baksonya berhenti. Menjawab pertanyaan Shilla dengan bingung.
"Gila kenapa? Jelas-jelas gua masih waras. Ck. Aneh lu." Kata Ify lalu melanjutkan memakan baksonya. Shilla menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
Lalu melanjutkan perkataannya.
"Ya, gila aja. Masa iya lu ngelawan Bu Winda. Udah tau tu guru killer sepenuhnya mati."
"Apa banget de lu, Shill. Lebay. Hahahaa."
"Ketawa lu minta gua bayar tau !"
"Yaudah sini, bayar. Lumayan nambahin duit gua." Kata Ify asal.
"Sialan, lu. Duit bulanan lu juga jarang abis. Masi malak gua pula."
"Ye, gua gak malak lu. Lu kan yang mau bayar gua. Wekk " Ify menjulurkan lidahnya. Di dorongnya mangkuk baksonya yang masih berisi kuah berwarna merah.
"Siapa suruh ketawanya gak nahan, gitu." Kata Shilla manyun.
"Yaah, Shilla ngambek. Kan bercanda doang Shilla.."
"Abisnya lu make acara ngecengg....." Perkataan Shilla terpotong. Melihat CRAGO tengah berdiri di depan meja Ify dan Shilla.
"Hey, kalian udahan makannya ?" Tanya Rio. Melihat Ify yang asyik meminum jus strawberry nya.
"Udah kok, Yo. Emang kenapa?" Shilla menjawab.
"Enggak, cuma mau mastiin lu berdua gak papa." Iel menjawab sekenanya.
"Lah ? Emang kita kenapa?" Tanya Ify menoleh pada Shilla. Shilla hanya menggelengkan kepalanya. Tanda tak tau.
"Itu loh. Insiden di kelas tadi. Lu gak papa kan ?" Tanya Cakka.
"Oh, itu. Enggak papa kok, Kka. " Ify menjawab.
"Heyy !!!" Seorang gadis menepuk bahu Cakka. Wajah Cakka langsung sumringah melihat gadis itu.
"Jiah, baru ketemu sama ceweknya tuh muka pengen gua bayar jadinya." Kata Rio.
"Boleh sini.. sini.. Lumayan nambahin duit gua buat jalan-jalan sama Agni." Kata Cakka merangkul Agni - cewek tadi, pacarnya -
"Idiih, mendingan duitnya gua kasih ke fakir miskin." Rio membuang muka. Mengalihkan pandangannya pada Ify. Tepat pada saat Ify juga sedang memandangnya.
'Gila, kayaknya gua gak punya penyakit jantung. Kok jantung gua geraknya cepet amat, yak?' Batin Rio saat melihat tatapan teduh dari Ify.
'Aiih, gua kenapa ? Kayaknya muka gua panas banget. Ya ampun, Ify. Itu cuma Rio, Rio..' Batin Ify yang juga merasakan hal yang sama. Tatapan Rio barusan, sangat membuat hatinya tenang.
SICARAGO -minus Ify dan Rio- memperhatikan Rio dan Ify. Wajah Ify yang memerah. Dan Rio yang mengacak-acak rambutnya pelan. Mereka saling pandang. Dan mulai muncul ide jahil di kepala mereka. Seperti memiliki ikatan batin, rencana mereka sama.
"HHAYOOOOOOO.......!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" Teriakan itu mengangetkan Rio dan Ify.
"Gilaa !! Apa-apan lu pada teriak di kuping guaa ?!!!!" Rio mengusap telinganya yang sekarang tengah berdengung.
"Iya nih ! di kiranya gua budek kalii !!" Ify menutup kedua telinganya. Bibirnya manyun. Membuat yang lain tertawa.
"Ketawa lu pada minta di bayar ! "RiFy berkata.
"Cie,, kompaakkk.. Hahahaa." Shilla menggoda.
"Apaan sih, Shilll..." Ify membuang wajahnya. Menyembunyikan semburat merah di wajahnya. Rio hanya menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal sama sekali.
"Eh, kamu Ozy kan ?? " Tanya Ify yang sadar akan kehadiran Ozy.
"Iya." Ozy tersenyum. Manis.
"Yang anak sekolah itu ?" Lanjut Shilla.
"Yang tadi pagi dateng itu ?"
"Yang tadi pagi di anterin sama bokap lu ?"
"Yang anak pemilik yayasan ?"
"Yang tadi di anterin pake mercedes ?"
"Yang katanya baru balik dari LA ?"
"Yang tadi pagi bikin gem..."Shilla memberhentikan perkataannya. Mulutnya kini tengah di bekap oleh Iel. Begitu juga dengan Ify yang kini tengah dibekap Rio.
"Bawel lu berdua !" SICARAGO -minus Ify Shilla- serentak berteriak. Ozy tertawa kecil melihat tingkah teman-teman barunya ini.
"Abisnya dia ada di sini. Di antara kita."
"Tapi gak di kenalin ke gua sama Ify."
"Ya, tadikan lagi ngomongin masalah lu di kelas, cantik." Kata Iel pada Shilla.
"Makasih, gua emang cantik. Eh, btw, tadi Kak Ozy kan yang bantuin Ify ?" Tanya Shilla. Ozy mengangguk.
"Wahh, makasih loh, kak. Kalo tadi gak ada kakak, mungkin aku udah jadi perkedel sama Bu Winda." Kata Ify.
"Iya, gak papa kok. Lagian itu juga udah seharusnya. Tapi, kok bisa ampe kayak gitu sih ?" Tanya Ozy.
"Apaan sih ?" Tanya Agni yang belum mendengar masalah tadi.
"Udah, dengerin aja si Ify cerita, kak. Entar juga ngerti." Kata Shilla.
Ify membuka mulut. Menceritakan cerita aslinya secara detail pada teman-temannya itu. Mulai dari awal hingga akhir.
***
Ify berdiri di depan gerbang sekolah. Diliriknya jam tangannya. Sudah lebih dari 1 jam dia menunggu, sekolahan juga sudah mulai sepi. Palingan cuma anak-anak eskul doang yang masih ada di sekitar pekarangan sekolah. Namun, supirnya belum juga menjemputnya. Dia merutuki dirinya sendiri yang tadi pagi ngotot tidak mau membawa mobil sendiri.
TIIN !!!
Sebuah Avanza Silver keluar dari pekarangan sekolah. Ify sudah hafal dengan mobil ini. Mobil Via. Mobil itu berhenti di sebelah Ify. Wajah Via terlihat dari dalam mobil itu. Tepat di balik kemudi.
"Kenapa, Vi ?" Tanya Ify heran.
"Lu belum balik ?" Via balik bertanya.
"Belum, kenapa ?"
"Gak. Thanks tadi udah nolonging gua."
"Iya, sama-sama. Udah seharusnya gua nolonging lu."
"Oh, lu nunggu supir yah ?"
"Iya."
"Eem,.."
"Kenapa, Vi ?"
"Lu mau gua anterin gak ?"
"HAH ??!!"
"Buset, dah. Biasa aja kali."
"Em, abisnya gua kaget. Gak biasanya."
"Yaudah, sekarang lu jawab, mau gua anterin balik kagak ? Sekalian bales budi."
"Em, kagak usah deh. Palingan bentar lagi juga gua di jemput."
"Yaudah kalo gitu. Gua duluan."
Belum sempat Ify menyahut, Avanza itu telah melaju. Meninggalkan Ify sendirian (lagi). Pikirannya melayang. Bingung dengan sikap Via yang tadi menawarkan tumpangan padanya. Sedikit senyum muncul di wajah tirus Ify. Membuatnya semakin menarik di pandangan orang.
"Ify.." Panggil seeorang. Ify menoleh.
"Eh, lu, Yo. Kenapa ?" Tanya Ify.
"Lu kok belum balik ?"
"Belum di jemput Yo."
"Oh, yaudah ayok sekalian sama gua. Kan rumah gua sama lu gak beda jauh. Tapi ke rumah gua dulu, yah." Kata Rio.
"Ngapain ke rumah lu dulu ?"
"Si Acha pengen ketemu, lu. Katanya sih kangen."
"Oh, yaudah kalo gitu. Ayo. Tapi,,"
"Tapi apa ?" Kata Rio menyerahkan helm pada Ify.
"Tapi mampir ke Alfamart dulu, yah. Mau beli eskrim buat Acha." Kata Ify memakai helm tadi. Rio mengangguk.
Motor Ninja merah milik Rio melaju di keramaian. Meninggalkan sekolah tercintanya. Tangan Rio meraih tangan Ify. Seakan menyuruh Ify untuk memeluk pinggangnya. Agar tidak jatuh. Karna memang saat ini Rio melajukan motornya di atas rata-rata. Tanpa di sadarinya, sebuah senyuman kecil terpampang jelas di wajahnya yang tertutupi oleh kaca helm. Begitu juga dengan Ify, untung saja kaca helm itu berwarna agak gelap. Sehingga wajahnya yang kini memerah dapat disembunyikan.
***
Mobil Avanza Silver milik Via memasuki sebuah rumah yang megah. Ya, itulah rumah Ayahnya. Via memarkirkan mobilnya di garasi. Lalu, dia berjalan perlahan memasuki rumah. Tepat di depan pintu rumahnya, seekor anjing golden retriever menggonggong kepadanya. Via menoleh, tersenyum kepada anjing itu.
"Hei, kamu nungguin aku pulang yah, Than ?"Kata Via menghampiri anjing itu. Anjing itu semakin gencar melompat-lompat.
"Kamu udah makan belum ? Pasti belum, deh. Aku ganti baju dulu, ya. Kamu tunggu di sini." Via mengelus perlahan bulu halus dari anjing satu-satunya ini.
Via berjalan menuju kamarnya. "Via's Room ! " . Terpampang tulisan tangannya yang indah itu. Kamar Via dipenuhi lukisan. Ya, itu Via sendiri yang menggambarnya. Entah itu gambar pohon, hewan, bahkan manusia pun ada. 2 orang gadis kecil yang bergandengan tangan. Tepat di dinding belakang ranjangnya. Gambar Via dan Ify.
Via membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Pikirannya melayang mengingat kata-kata yang dilontarkannya secara spontan itu. 'Lu mau gua anterin gak ?'. Entah itu terlontar dari hatinya hanya semata dari otaknya. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata pada dirinya sendiri bahwa itu terlontar karena dia hanya ingin membalas budi. Walaupun sebenarnya hatinya rindu akan kasih sayang dan perhatian kembarannya itu.
Setelah mengganti bajunya, Via menuju dapur. Menyiapkan makanan (DogFood) untuk Nathan, anjingnya itu.
Bersambung..
Gimana ? ada yg kurang gak ? tolong coment dn kritik nya ya ke @chikaStevadit atau wall fb chika_priska@yahoo.com jgn jadi silent readers ya guys. thankiss :*
"Sekarang kamu kerjakan soal yang baru saja saya tulis di papan tulis ini !" Kata Bu Winda. Sebuah spidol yang memang sudah dipegang olehnya di berikan pada Via.
'Mampus gua! Mana ngerti gua ini. Kayaknya belum di ajarin deh.' batin Via.
Ify memperhatikan soal yang dituliskan Bu Winda dengan seksama. Tangannya berputar-putar di selembar kertas. Dia menggelengkan kepalanya. Tanda bukan rumus itu yang dipakai untuk memecahkan soal tersebut. Ify kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Dilihatnya wajah Via mulai gelisah. Perasaan Ify jadi tak enak. Dia tau, bahwa Via pasti takut. Dia tak dapat memecahkan soal itu.
Ify mengacak-acak rambutnya pelan. Dia juga tidak dapat memecahkan soal tersebut. Tidak menggunakan rumus geometri ataupun rumus-rumus lain yang telah dipelajarinya dulu. Tidak ada satupun rumus yang benar untuk memecahkan soal tersebut. Tiba-tiba matanya membulat. Dia menyadari sesuatu. Sesuatu yang daritadi harusnya sudah disadari. Sesuatu yang telat disadarinya dan membuat saudara kembarnya itu jadi ketakutan seperti ini.
***
"Bu Okky !!" Teriak Rio. Bu Okky mengalihkan pandangannya kepada lelaki itu.
"Kenapa Rio ?" Tanyanya.
"Kenapa harus sesuai dengan undang-undang?" tanya Rio.
"Iya, Bu. Kan undang-undangnya aja gak konsisten Bu. Udah berulang kali diubah." Lanjut Iel.
"Lagian yah, Bu. Percuma juga kita mengikuti Undang-undang Indonesia. Sekarang makin banyak Bu yang gak tau namanya undang-undang. Mereka melakukan segala
sesuatunya seenak jidat mereka." Alvin ikutan.
"Dan, Bu. Emangnya Ibu gak pernah ngelakuin sesuatu yang berlawanan dengan UU Indonesia?" Ozy juga jadi terpengaruh.
"Bu Okky !!!!! Lihat nih Bu ! Gara-gara kata Ibu kita mesti mengikuti peraturan perudang-undangan di Indonesia, muka saya jadi kayak JB nih Bu. Kan gak mirip sama muka-muka Indo Bu. Berarti saya bukan orang Indo. Dan saya gak harus mengikuti UU Indo kan, Bu ?" Cakka malah gak nyambung.
"GA NYAMBUNG CAKKAAAAA !!!!!" Alvin, Rio, dan Ozy berteriak. Sedangkan Iel melayangkan jitakannya ke kepala Cakka.
"Sudah. Sudah. Begini yah Cakka. Masalah wajah kamu yang mirip JB itu. Sepertinya Ibu tidak setuju. Karna wajah kamu itu lebih mirip sama.." Kata-kata Bu Okky
tergantung.
"Robert Pattinson ya, Bu ??" Sambung Cakka.
"Bukan.. Tapi lebih mirip sama wajah JOJON. " Kata Bu Okky.
"BUAHAHHAHAHAHAHAHAHA!!" Tawa CRAGO-minus Cakka tentunya- meledak. Begitu juga dengan tawa dari anak-anak sekelas. Bu Okky juga terlihat sedang menahan tawa. Cakka memajukan mulutnya.
"Kalo lagi manyun muka lu agak mendingan, Kka. Mirip sama Budi Anduk kalo kayak gini. Hahahahahaha." Kata Alvin di sela-sela tawanya memperhatikan Cakka yang
manyun. Cakka dan Alvin kan memang sebangku.
Tok.. tok.. tok..
"Permisi, Bu. Ibu dipanggil oleh Pak Rian. Dan di suruh keruangannya sekarang juga." kata seseorang.
"Baik. Anak-anak, maaf pelajaran kita hari ini terpotong. Kalian kerjakan saja soal yang ada di halaman 213 buku cetak. Tulis soal dan jawabannya. Bagian A sampai C.
Kumpulkan ke ketua kelas. Dan ingat, selesai atau tidak selesai harus tetap dikumpulkan. Paling lambat besok pagi sebelum bel masuk." Setelah berkata begitu, Bu Okky keluar dari ruang kelas.
"Weh, keluar nyok. Bosen gua."Kata Rio. Alvin yang sedang asik dengan BB Torch putihnya itu hanya menengok dan mengangkat bahunya. Seraya berkata 'Terserah lu'. Sedangkan Cakka dan Ozy yang dari tadi lagi bergaje ria hanya manggut-manggut setuju.
"Gua ikut weh, perasaan gua gak enak." Kata Iel.
"Si kembar itu ?" Tanya Rio. Iel mengangguk.
"Siapa ? Si kembar ?" Tanya Ozy.
"Mendingan lu ikut aja deh, ya. Kalo di jelasin bisa panjang banget. Dari lebaran Kambing sampe lebaran Gajah juga gak selese-selese."Kata Cakka.
"Hayuk jalan. Gak pake lama."Alvin menarik tangan Ozy keluar kelas. Menuju kelas 'Si Kembar'.
***
Sebuah tangan teracung ke udara. Bu Winda yang sedang memperhatikan Via mengalihkan pandanganya pada sang empunya tangan tersebut. Seorang gadis berdiri dari tempat duduknya. Masih dengan tangan yang teracung. Bu Winda membenarkan letak kacamatanya. Wajah gadis itu yang serius membuat Bu Winda menjadi bingung. Tangan gadis itu pun tak hendak turun walaupun sudah ditatapi oleh Bu Winda.
"Ada apa Alyssa ?" Tanya Bu Winda pada sang empunya tangan.
"Saya ingin protes, Bu." Jawab Ify tegas. Tangannya masih saja teracung.
'Gila tuh anak. Mau protes apaan ke Bu Winda?'
'Berani amat protes sama tu guru killer.'
'Nyari mati si Ify.'
'Protes apa kali? ga sayang idup nih si Ify.'
Batin anak-anak sekelas yang merutuki kata-kata Ify barusan.
"Protes apa Ify? Turunkan tangan kamu." kata Bu Winda. Matanya memandang Ify tajam.
"Saya mau protes tentang soal yang Ibu berikan pada Via." kata Ify santai. Menurunkan tangannya dan membalas tatapan tajam Bu Winda dengan santai.
"Memangnya ada apa dengan soal yang saya berikan kepada Via? Ada yang salah ?
"Tentu saja ada !" Ify mulai naik pitam. Shilla memegangi tangan Ify. Mencoba untuk menghilangkan amarah Ify sedikit. Via memperhatikan wajah Ify yang sedang marah itu. Dia merindukan sosok Ify yang selalu membantunya saat kesusahan. Seperti sekarang ini.
"Memangnya apa yang salah ? Coba jelaskan pada saya. Atau jangan-jangan kamu hanya ingin menolong Sivia karna dia saudara kembarmu ?"
"Tidak ! Saya tidak sedang mencoba membantu Via. Saya melakukan hal yang benar. Karna sampai otak kita semua meluap juga gak bakalan ketemu jawaban dari soal itu !"
Anak-anak satu kelas bengong. Ify ngomong kayak gitu ke seorang guru. Guru killer pula. Lintar yang memang paling pintar di kelas memperhatikan kembali soal di papan tulis itu.
"Kenapa bisa begitu?"
"Tentu saja seperti itu. Soal yang Ibu tulis di papan tulis itu kan hanya asal-asalan. Ibu hanya ingin memberi pelajaran pada Via. Dan lagi, soal itu kalau diperhatikan
adalah soal gabungan. Yang dapat dipecahkan dengan cara...." Kata-kata Ify terputus.
"Dipecahkan dengan cara gabungan dari rumus yang pernah kita pelajari saat kelas 10 dan rumus yang bakalan kita pelajari saat kelas 12 nanti. Tapi jarang orang tau rumusnya karna memang rumus itu tidak terlalu penting di Matematika." Sambung Lintar.
Wajah Bu Winda merah padam. Seisi kelas memasang wajah galak pada Bu Winda. Terutama Ify yang kini wajahnya seperti orang yang ingin membunuh. Via bengong. Wajahnya juga merah. Namun itu merah karna kesal, sedih, dan juga malu.
"Pantas saja dari tadi saya gak nemuin jawabannya. Ternyata..."Kata Via terpotong. Matanya menatap Bu Winda tajam. Bu Winda yang tak terima malah ikut terpancing emosinya.
"Siapa suruh kamu melamun saat saya memberikan tugas. Makanya kamu itu kerjakan tugas dari saya. Jangan melamun saja !!" Kata Bu Winda yang sudah terpancing emosinya.
"Bu, bagaimana kalau Ibu mengerjakan soal yang di papan tulis itu ?" Kata Ify.
"Iya, Bu. Saya juga penasaran dengan cara menyelesaikannya."Kata Irva.
"Ayo, Bu. Kerjakan soal yang di depan itu. Saya penasaran juga nih, Bu." Sambung Rizky.
"APA-APAAN KALIAN INI, HAH ? SAYA GURUNYA ! BUKAN KALIAN ! KALIAN TIDAK BERHAK MENYURUH-NYURUH SAYA ! SAYA MENYURUH SIVIA UNTUK MENYELESAIKAN SOAL ITU ! KENAPA JADI KALIAN YANG MENYURUH SAYA ?!!!" Bu Winda berteriak.
"Kalau saya yang menyuruh Anda ?" Sebuah suara dengan khas cengkoknya terdengar. Di ikuti dengan pemilik suaranya. CRAG pun masuk ke ruangan itu. Ify mengembangkan senyumnya. Via sedikit terkejut.
"Eh,, Anda.. Itu.. Em.." Bu Winda terlihat gelagapan.
"Kalau saya yang menyuruh Anda bagaimana ? Bisa Anda kerjakan ?" Kata Ozy, orang yang tadi bertanya.
"Tapi.. Saya.."
"Tapi apa, Bu ? Bukankah Ibu yang menulis soal itu ? Tentunya Ibu dapat mengerjakannya, bukan?"
"Memang benar.. Tapi.. Itu.. Saya.."
"Kenapa, Bu? Tidak bisa mengerjakannya ? Perlu saya yang mengerjakannya ?"
"Eh ?? Memangnya kamu bisa ?"
"Kalau saya bisa bagaimana? Apa Ibu akan mengambil resiko dari saya ? Saya bisa saja menelpon Ayah saya dan menyuruhnya untuk memecat Anda sekarang. Dan lagi, saya memang tidak suka cara Anda mengajar seperti ini."
"Coba saja. Saya saja yang membuat soal belum tentu dapat mengerjakannya."
"Baiklah kalau memang Ibu sudah mau menerima resikonya."
Ozy berjalan menuju papan tulis. Di raihnya spidol yang memang sudah ada di sana. Tangannya bergerak. Membuat berbagai tulisan. Otaknya yang memang sudah bisa dibilang canggih itu dapat menghitung dengan akurat. Dia yang sudah biasa diberikan soal dadakan yang memang seperti itu dapat mengerjakannya tanpa salah. Ternyata, jawaban dari soal itu adalah beberapa juta. Sungguh nilai yang sangat susah untuk didapatkan jika otak kita pas-pasan. Hampir satu papan tulis penuh dengan tulisan Ozy yang rapi itu. Akhirnya dia berhenti. Memperlihatkan hasilnya kepada Bu Winda dengan senyuman khasnya.
"Bagaimana, Bu ? Siap menerima resiko ?" Tantang Ozy.
"Tidak. Saya tidak percaya !" Bu Winda meraih sebuah kalkulator dan menghitung sendiri soal yang dibuatnya. Ternyata jawaban Ozy memang benar. Bu Winda kalah dengan Ozy yang menghitung dengan manual.
"Bagaimana, Bu ? Jawaban saya benar, kan ? Jadi, Anda siap?" Ozy mengeluarkan I-Phone 4 miliknya. Berpura-pura mencari kontak nama ayahnya. Wajah Bu Winda pucat pasi. Dia tak habis pikir telah menantang anak dari Bosnya sendiri yang ternyata tak dapat dipungkiri kecerdasannya.
Ozy tersenyum kecil. Memasukkan kembali I-Phonenya. Dan berjalan santai keluar kelas. Sebelum dia melewati pintu kelas, dia berbalik dan berkata
"Tenang saja. Saya tidak se naif itu membuat Anda berhenti karna hal sepele seperti ini. Namun kalau sampai terulang, jangan harap mendapat belas kasihan dari saya." CRAGO berjalan keluar kelas dengan senyum kemenangan. Tepat mereka keluar, bel istirahat juga berbunyi.
***
*kantin*
"Buahahahahaah !! "Gelak tawa CRAGO terdengar nyaring. Mereka masih membayangkan raut wajah Bu Wwinda, sang guru Killer tadi saat ketakutan. Camkan, KETAKUTAN.
"Gila, lu Zy. Lu gak liat apa tuh guru mukanya kaya gimana." Kata Rio yang masih saja tertawa.
"Mukanya gak nahan, weh. Gak nahan sumpah. Pengen gua foto tadi tuh. Masukin ke facebook, twitter, yahoo, line, whatsapp, instagram,..." Kata Cakka terpotong.
"Semuanya aja, Cakk." Kata Alvin yang kini sedang minum jus jeruk. Namun, masih ada sedikit senyum di wajahnya. Mengingat wajah guru killernya tadi.
"Udah, deh. Udah. Gila kali. Perut gua ampe sakit nih ketawa mulu. By the way, thanks loh, Zy. Lu udah mau nolongin sodara gua itu." Kata Iel.
"Yo'i, sami-sami, nak." Kata Ozy santai meminum jus sirsaknya.
"Eh, by the way, kok tadi lu ampe mau nolongin si Via sih? kan lu benci banget sama dia." Tanya Alvin.
"Walaupun benci, tapi gua gak bisa mungkirin kalo dia juga sodara gua, Alvin sayang." Kata Iel sambil melirik genit pada Alvin. Alvin bergidik.
"Idiiih, gua masih suka cewek, Yel. Suer dah." Alvin berdiri, pindah duduk di samping Rio yang paling memang duduk paling pojok.
"Hahahaha,, gua juga masih suka cewek, Vin. Hahahaha." Iel tertawa. Namun pikirannya juga melayang ke arah yang tadi. Disaat dia meminta bantuan Ozy untuk menolong saudara yang dibencinya itu.
#Flashback On#
Anak-anak CRAGO yang sedang tidak ada guru keluar dari kelas. Dan kebetulan mereka melewati kelas Ify. Iel melirik ke dalam ruangan, pandangannya tertuju pada Ify yang tengah berdiri dengan wajah kesal.
"Tentu saja ada !"
Suara Ify barusan membuat Iel berhenti. Otomatis temannya yang lain juga berhenti. Mereka ikut melihat kedalam ruangan. Beberapa argumen antara Bu Winda, Ify dan beberapa anak lainnya terdengar sangat jelas. Aura dalam kelas itu juga terasa oleh Iel yang kini tengah was-was akan kedua saudaranya itu. Iel menoleh kepada teman-temannya.
"Weh, bantuin Ify weh." Kata Iel.
"Tapi gimana caranya, Yel. Lu kan tau sendiri si Bu Winda tuh killer." Kata Rio.
"Iya, Yel. Tuh guru gak bisa dilawan. Sedikit ngelawan aja sama dia, fatal akibatnya." Alvin ikut mengingatkan. Wajah Iel berubah pucat. Dia teringat akan sifat Ify yang suka naik pitam jika terus di panas-panasi. Juga Via yang paling tidak suka dikerjain. Apalagi seperti ini. Sifat yang sangat membuat mereka berdua sama.
"Biar gua aja." Kata Ozy. Iel menoleh.
"Serius, Zy?" Tanya Iel.
"Serius lah." Ozy terlihat tenang.
"Gila lu, Zy. Tuh guru tuh killernya minta ampun." Cakka turun tangan.
"Wei, lu semua gak lupa kan siapa gua?" Tanya Ozy. CRAG saling pandang. Lalu tersenyum senang.
"Ozy si anak pemilik Yayasan." CRAGO sama-sama berbicara. Senyum mereka seketika sirna mendengar suara Bu Winda.
"APA-APAAN KALIAN INI, HAH ? SAYA GURUNYA ! BUKAN KALIAN ! KALIAN TIDAK BERHAK MENYURUH-NYURUH SAYA ! SAYA MENYURUH SIVIA UNTUK MENYELESAIKAN SOAL ITU ! KENAPA JADI KALIAN YANG MENYURUH SAYA ?!!!"
"Zy, ayo buruan." Kata Iel. Ozy mengangguk lalu membuka pintu kelas tersebut.
"Kalau saya yang menyuruh Anda ?" Kata Ozy santai. Sedangkan anak CRAG saling menahan tawa mereka melihat wajah Bu Winda yang tadi sangar berubah menjadi ketakutan.
#Flashback Off #
Mengingat hal itu, Iel tersenyum kecil. Setidaknya Via jadi punya hutang budi padanya dan teman-temannya. Walaupun lebih kepada Ozy sih sebenarnya. Sedangkan salah satu dari CRAGO tersenyum kecil melihat wajah gadis tadi yang ketakutan berubah menjadi senang melihatnya dan teman-temannya. Wajah yang tidak mungkin dilupakannya. Wajah yang membuatnya ingin terus tersenyum saat mengingatnya.
***
Masih di kantin, namun berbeda meja dengan CRAGO. Ify dan Shilla duduk manis sambil berbincang. Ditemani makanan mereka masing-masing.
"Gila lu, Fy." Kata Shilla. Ify yang hendak memakan baksonya berhenti. Menjawab pertanyaan Shilla dengan bingung.
"Gila kenapa? Jelas-jelas gua masih waras. Ck. Aneh lu." Kata Ify lalu melanjutkan memakan baksonya. Shilla menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
Lalu melanjutkan perkataannya.
"Ya, gila aja. Masa iya lu ngelawan Bu Winda. Udah tau tu guru killer sepenuhnya mati."
"Apa banget de lu, Shill. Lebay. Hahahaa."
"Ketawa lu minta gua bayar tau !"
"Yaudah sini, bayar. Lumayan nambahin duit gua." Kata Ify asal.
"Sialan, lu. Duit bulanan lu juga jarang abis. Masi malak gua pula."
"Ye, gua gak malak lu. Lu kan yang mau bayar gua. Wekk " Ify menjulurkan lidahnya. Di dorongnya mangkuk baksonya yang masih berisi kuah berwarna merah.
"Siapa suruh ketawanya gak nahan, gitu." Kata Shilla manyun.
"Yaah, Shilla ngambek. Kan bercanda doang Shilla.."
"Abisnya lu make acara ngecengg....." Perkataan Shilla terpotong. Melihat CRAGO tengah berdiri di depan meja Ify dan Shilla.
"Hey, kalian udahan makannya ?" Tanya Rio. Melihat Ify yang asyik meminum jus strawberry nya.
"Udah kok, Yo. Emang kenapa?" Shilla menjawab.
"Enggak, cuma mau mastiin lu berdua gak papa." Iel menjawab sekenanya.
"Lah ? Emang kita kenapa?" Tanya Ify menoleh pada Shilla. Shilla hanya menggelengkan kepalanya. Tanda tak tau.
"Itu loh. Insiden di kelas tadi. Lu gak papa kan ?" Tanya Cakka.
"Oh, itu. Enggak papa kok, Kka. " Ify menjawab.
"Heyy !!!" Seorang gadis menepuk bahu Cakka. Wajah Cakka langsung sumringah melihat gadis itu.
"Jiah, baru ketemu sama ceweknya tuh muka pengen gua bayar jadinya." Kata Rio.
"Boleh sini.. sini.. Lumayan nambahin duit gua buat jalan-jalan sama Agni." Kata Cakka merangkul Agni - cewek tadi, pacarnya -
"Idiih, mendingan duitnya gua kasih ke fakir miskin." Rio membuang muka. Mengalihkan pandangannya pada Ify. Tepat pada saat Ify juga sedang memandangnya.
'Gila, kayaknya gua gak punya penyakit jantung. Kok jantung gua geraknya cepet amat, yak?' Batin Rio saat melihat tatapan teduh dari Ify.
'Aiih, gua kenapa ? Kayaknya muka gua panas banget. Ya ampun, Ify. Itu cuma Rio, Rio..' Batin Ify yang juga merasakan hal yang sama. Tatapan Rio barusan, sangat membuat hatinya tenang.
SICARAGO -minus Ify dan Rio- memperhatikan Rio dan Ify. Wajah Ify yang memerah. Dan Rio yang mengacak-acak rambutnya pelan. Mereka saling pandang. Dan mulai muncul ide jahil di kepala mereka. Seperti memiliki ikatan batin, rencana mereka sama.
"HHAYOOOOOOO.......!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" Teriakan itu mengangetkan Rio dan Ify.
"Gilaa !! Apa-apan lu pada teriak di kuping guaa ?!!!!" Rio mengusap telinganya yang sekarang tengah berdengung.
"Iya nih ! di kiranya gua budek kalii !!" Ify menutup kedua telinganya. Bibirnya manyun. Membuat yang lain tertawa.
"Ketawa lu pada minta di bayar ! "RiFy berkata.
"Cie,, kompaakkk.. Hahahaa." Shilla menggoda.
"Apaan sih, Shilll..." Ify membuang wajahnya. Menyembunyikan semburat merah di wajahnya. Rio hanya menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal sama sekali.
"Eh, kamu Ozy kan ?? " Tanya Ify yang sadar akan kehadiran Ozy.
"Iya." Ozy tersenyum. Manis.
"Yang anak sekolah itu ?" Lanjut Shilla.
"Yang tadi pagi dateng itu ?"
"Yang tadi pagi di anterin sama bokap lu ?"
"Yang anak pemilik yayasan ?"
"Yang tadi di anterin pake mercedes ?"
"Yang katanya baru balik dari LA ?"
"Yang tadi pagi bikin gem..."Shilla memberhentikan perkataannya. Mulutnya kini tengah di bekap oleh Iel. Begitu juga dengan Ify yang kini tengah dibekap Rio.
"Bawel lu berdua !" SICARAGO -minus Ify Shilla- serentak berteriak. Ozy tertawa kecil melihat tingkah teman-teman barunya ini.
"Abisnya dia ada di sini. Di antara kita."
"Tapi gak di kenalin ke gua sama Ify."
"Ya, tadikan lagi ngomongin masalah lu di kelas, cantik." Kata Iel pada Shilla.
"Makasih, gua emang cantik. Eh, btw, tadi Kak Ozy kan yang bantuin Ify ?" Tanya Shilla. Ozy mengangguk.
"Wahh, makasih loh, kak. Kalo tadi gak ada kakak, mungkin aku udah jadi perkedel sama Bu Winda." Kata Ify.
"Iya, gak papa kok. Lagian itu juga udah seharusnya. Tapi, kok bisa ampe kayak gitu sih ?" Tanya Ozy.
"Apaan sih ?" Tanya Agni yang belum mendengar masalah tadi.
"Udah, dengerin aja si Ify cerita, kak. Entar juga ngerti." Kata Shilla.
Ify membuka mulut. Menceritakan cerita aslinya secara detail pada teman-temannya itu. Mulai dari awal hingga akhir.
***
Ify berdiri di depan gerbang sekolah. Diliriknya jam tangannya. Sudah lebih dari 1 jam dia menunggu, sekolahan juga sudah mulai sepi. Palingan cuma anak-anak eskul doang yang masih ada di sekitar pekarangan sekolah. Namun, supirnya belum juga menjemputnya. Dia merutuki dirinya sendiri yang tadi pagi ngotot tidak mau membawa mobil sendiri.
TIIN !!!
Sebuah Avanza Silver keluar dari pekarangan sekolah. Ify sudah hafal dengan mobil ini. Mobil Via. Mobil itu berhenti di sebelah Ify. Wajah Via terlihat dari dalam mobil itu. Tepat di balik kemudi.
"Kenapa, Vi ?" Tanya Ify heran.
"Lu belum balik ?" Via balik bertanya.
"Belum, kenapa ?"
"Gak. Thanks tadi udah nolonging gua."
"Iya, sama-sama. Udah seharusnya gua nolonging lu."
"Oh, lu nunggu supir yah ?"
"Iya."
"Eem,.."
"Kenapa, Vi ?"
"Lu mau gua anterin gak ?"
"HAH ??!!"
"Buset, dah. Biasa aja kali."
"Em, abisnya gua kaget. Gak biasanya."
"Yaudah, sekarang lu jawab, mau gua anterin balik kagak ? Sekalian bales budi."
"Em, kagak usah deh. Palingan bentar lagi juga gua di jemput."
"Yaudah kalo gitu. Gua duluan."
Belum sempat Ify menyahut, Avanza itu telah melaju. Meninggalkan Ify sendirian (lagi). Pikirannya melayang. Bingung dengan sikap Via yang tadi menawarkan tumpangan padanya. Sedikit senyum muncul di wajah tirus Ify. Membuatnya semakin menarik di pandangan orang.
"Ify.." Panggil seeorang. Ify menoleh.
"Eh, lu, Yo. Kenapa ?" Tanya Ify.
"Lu kok belum balik ?"
"Belum di jemput Yo."
"Oh, yaudah ayok sekalian sama gua. Kan rumah gua sama lu gak beda jauh. Tapi ke rumah gua dulu, yah." Kata Rio.
"Ngapain ke rumah lu dulu ?"
"Si Acha pengen ketemu, lu. Katanya sih kangen."
"Oh, yaudah kalo gitu. Ayo. Tapi,,"
"Tapi apa ?" Kata Rio menyerahkan helm pada Ify.
"Tapi mampir ke Alfamart dulu, yah. Mau beli eskrim buat Acha." Kata Ify memakai helm tadi. Rio mengangguk.
Motor Ninja merah milik Rio melaju di keramaian. Meninggalkan sekolah tercintanya. Tangan Rio meraih tangan Ify. Seakan menyuruh Ify untuk memeluk pinggangnya. Agar tidak jatuh. Karna memang saat ini Rio melajukan motornya di atas rata-rata. Tanpa di sadarinya, sebuah senyuman kecil terpampang jelas di wajahnya yang tertutupi oleh kaca helm. Begitu juga dengan Ify, untung saja kaca helm itu berwarna agak gelap. Sehingga wajahnya yang kini memerah dapat disembunyikan.
***
Mobil Avanza Silver milik Via memasuki sebuah rumah yang megah. Ya, itulah rumah Ayahnya. Via memarkirkan mobilnya di garasi. Lalu, dia berjalan perlahan memasuki rumah. Tepat di depan pintu rumahnya, seekor anjing golden retriever menggonggong kepadanya. Via menoleh, tersenyum kepada anjing itu.
"Hei, kamu nungguin aku pulang yah, Than ?"Kata Via menghampiri anjing itu. Anjing itu semakin gencar melompat-lompat.
"Kamu udah makan belum ? Pasti belum, deh. Aku ganti baju dulu, ya. Kamu tunggu di sini." Via mengelus perlahan bulu halus dari anjing satu-satunya ini.
Via berjalan menuju kamarnya. "Via's Room ! " . Terpampang tulisan tangannya yang indah itu. Kamar Via dipenuhi lukisan. Ya, itu Via sendiri yang menggambarnya. Entah itu gambar pohon, hewan, bahkan manusia pun ada. 2 orang gadis kecil yang bergandengan tangan. Tepat di dinding belakang ranjangnya. Gambar Via dan Ify.
Via membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Pikirannya melayang mengingat kata-kata yang dilontarkannya secara spontan itu. 'Lu mau gua anterin gak ?'. Entah itu terlontar dari hatinya hanya semata dari otaknya. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata pada dirinya sendiri bahwa itu terlontar karena dia hanya ingin membalas budi. Walaupun sebenarnya hatinya rindu akan kasih sayang dan perhatian kembarannya itu.
Setelah mengganti bajunya, Via menuju dapur. Menyiapkan makanan (DogFood) untuk Nathan, anjingnya itu.
Bersambung..
Gimana ? ada yg kurang gak ? tolong coment dn kritik nya ya ke @chikaStevadit atau wall fb chika_priska@yahoo.com jgn jadi silent readers ya guys. thankiss :*