Kamis, 13 Juni 2013

Ikatan Batin [8]

"JANGANN !!!!!" Teriakan Via semakin kencang. Namun apa daya, tubuh dan kekuatan lelaki itu lebih kuat. Sedangkan ayahnya sudah pingsan dan tak berdaya. Baju Via telah di lepas paksa. Lebih tepatnya di sobek secara kasar.


BRAK !!!!


Pintu rumah itu terbuka dengan kasar. Via dan lelaki yang lain menatap sosok yang menendang kasar pintu tersebut. Air mata turun deras di kedua pipinya. Sosok yang sangat di sayanginya ada di depan matanya. Menolongnya. Di belakang sosok itu, muncul sosok yang lainnya. Dan satu sosok lagi, yang tiba-tiba menghambur menuju Via.

"VIA !!!" Kata sosok itu.

"Ify ??" Tanya Via tak percaya.

"Aku kangen kamu, dek. Aku kangen kamu.."  Kata Ify dengan air mata yang mengalir.

"Kak Lyssa..." Sahut Via pelan.

"Pake ini, Vi." Kata Alvin. Sosok yang tadi menendang pintu rumah ini.

"Thanks." Kata Via. Alvin menganggukkan kepalanya.


"Apa-apaan kalian ini !!" Teriak lelaki itu menarik tangan Ify dengan kasar.

"Apaan sih, lepasin !" Kata Ify mencoba melepaskan tangannya.

"Diam ! Atau kepala saudara mu itu akan pecah !" Ify terperangah. Dilihatnya Sivia yang kini berdiri dengan tangan di belakang dan juga pistol di sebelah kiri kepalanya.

"Engga, engga !!" Teriak Ify.

"Maka dengan itu diam !!" Seketika itu Ify diam seribu bahasa. Tatapannya hanya tertuju pada Via. Alvin dan yang lainnya mau tidak mau berhenti melawan.


Lelaki itu mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya. Kini pisau itu berada di samping lehernya. Seakan siap menggores lehernya itu. Ify menahan nafasnya dan berusaha untuk tidak begitu takut. Dia menatap Alvin dan Rio yang sudah pasang ancang-ancang menyerang. Alvin menggerakkan jari telunjuknya. Mengarahkan Rio untuk menerjang lelaki yang menyandera Ify.

Dengan satu hentakan kencang, Ify berhasil membebaskan tubuhnya dari lelaki bejat itu. Walaupun terlihat sedikit darah mengucur dari pipi kirinya. Tidak terlalu parah. Terlihat perkelahian antara Rio dan lelaki bejat itu. Alvin menggunakan kesempatan ini untuk menerjang lelaki yang menyandera Via. Via menggigit tangan yang melilit lehernya. Seketika itu pula pegangan di lehernya terlepas. Ify menarik Via keluar dari rumah itu.

Di luar rumah, terlihat Agni yang langsung membuka pintu mobil. Membiarkan Ify dan Via masuk. Tak lama Cakka datang dengan membopong Ayah Ify dan Via. Setelah mengecup pelan puncak kepala Agni, Cakka kembali masuk ke dalam rumah, membantu Alvin, Rio dan Iel. Agni menyalakan mesin mobil da langsung tancap gas dari rumah itu. Terdengar isak pelan dari Ify dan Via yang terus saja memanggil-manggil Ayahnya itu. Agni menelan ludahnya dan langsung menambah kecepatan agar cepat tiba dirumah sakit.

***

"Oke, sekarang anak-anak cewek udah pada pergi." Kata Iel membuka kemejanya.

"Tinggal kita aja di sini." Cakka meremas-remas kedua tangannya. Membuat tangannya itu berbunyi. (ngertikan?)

"Kita bisa ngelakuin apa aja sekarang." Rio memutar kepalanya perlahan.

"It's Show Time !" Seru Alvin bersamaan dengan serangan bertubi-tubi dari Rio, Iel, Cakka dan Alvin kepada lelaki-lekaki itu.


Alvin dkk melakukan gerakan secara bersamaan. Membuat para lelaki kekar di depannya kaget dan tidak sempat membuat perlawanan. Alvin menarik kerah baju lelaki yang tadi menyandera Via. Memukulnya tepat di tulang pipinya. Membuat darah segar keluar dari ujung bibir lelaki itu. Belum sempat lelaki itu berdiri, Alvin sudah menghantamnya dengan siku tepat di leher bagian belakang (?). Membuat lelaki itu tak sadarkan diri.

Rio menghantam lelaki di hadapannya dengan sekali gerakan. Beruntung dia ikut eskul karate dari kecil. Sehingga tidak susah untuknya melawan lelaki di hadapannya ini. Rio mengunci gerakan lelaki itu, memegang tangan kiri lelaki itu. Memelintir tangan itu lalu melakukan gerakan memutar. Untuk membanting tubuh lawannya yang lebih besar dibandingkan dengannya.

Cakka memukul perut lelaki di depannya dengan sekuat tenaga. Membuat lelaki itu sedikit terhuyung. Cakka tersenyum mengejek. Lelaki itu berlari menuju Cakka dan berhasil memukul pipi Cakka. Membuat pipi Cakka agak memar. Seketika itu Cakka naik pitam. Dihantamnya lelaki itu dengan berat badannya. Membuat lelaki itu terdorong kebelakang. Menghantam tembok. Cakka menghajar lelaki itu dengan pukulan bertubi-tubi di bagian wajah dan perut. Dalam hitungan detik, lelaki itu tak sadarkan diri.

Di pojok ruangan, terlihat Iel yang kewalahan melawan dua lelaki kekar di hadapannya. Sesaat dia sempat kehilangan keseimbangan dan mendapatkan pukulan tepat di perut. Iel terjatuh menghantam tembok. Cakka, Rio dan Alvin menoleh. Melihat temannya tersungkur tak berdaya seperti itu, mereka naik pitam. Cakka menghantam salah satu lelaki dengan sekali hantam. Alvin menghampiri Iel. Rio melawan lelaki yang satu lagi.

Dua lelaki kekar itu sepertinya lebih kuat dibandingkan dengan yang tiga tadi. Pantas saja Iel kewalahan. Secara, Iel itu adalah ketua dari karate sekolahan. Dia lebih kuat dibandingkan Rio. Cakka memukul perut lelaki itu. Membuat lelaki itu agak terhuyung. Namun dengan sigap, lelaki itu meluncurkan tinjunya mengenai perut Cakka. Cakka mengerang kesakitan. Berlutut menahan rasa sakitnya. Alvin bergerak membantu Cakka. Dilakukannya serangan bertubi-tubi pada lelaki itu. Membuat lelaki itu kewalahn menghadapinya.

Rio juga melakukan hal yang sama pada lelaki kekar di hadapannya ini. Namun, beberapa pukulannya dapat ditangkis. Hingga akhirnya Rio sudah cukup lelah dan akhirnya melayangkan tinjunya ke dagu lelaki itu bersamaan dengan gerakan memutar Rio. Kaki kanan Rio mengenai kepala lelaki itu. Lelaki itu terlempar kearah tembok. Dan tak sadarkan diri.

"Vin." Panggil Rio.

"Gua gak papa." Jawab Alvin.

"Kalo gitu kita bawa Cakka sama Iel kerumah sakit sekarang." Kata Rio. Alvin mengangguk. Mereka membopong teman mereka itu ke mobil.


"Halo, Pak, kami ingin memberitahukan bahwa penculik dari keluarga Reynanta sudah kami lumpuhkan. Mereka sekarang tak sadarkan diri di perumahan Kemuning nomor 17B. Mohon maaf jika kami tidak memberitahukan Bapa lebih dahulu. Karna perasaan kami tidak enak dan juga kami menemukan keluarga Reynanta dengan keadaan yang sangat mengenaskan sehingga tidak sempat berfikir untuk memberitahukan kepada Anda. Sekarang kami dalam perjalanan kerumah sakit Grissy. Ya, baiklah. Terima kasih atas kerjasamanya Pak. Baik." Alvin mengakhiri perbincangannya dengan polisi di hape nya. Rio terlihat serius menyetir walaupun sesekali sempat melirik ke belakang. Dimana Cakka dan Iel tidak sadarkan diri.

***

RumahSakit Riguna

Ify berjalan mondar-mandir sedari tadi di depan pintu ruang ICU. Sedangkan Agni memeluk dan mengelus punggung Via halus. Sedari tadi airmata Via tidak berhenti keluar. Begitu juga dengan Ify. Namun Ify terus saja menghapus jejak airmata yang baru saja keluar itu. Sehingga dia tidak terlihat menangis. Sudah sekitar setengah jam sejak Ayah mereka dimasukkan kedalam ruang ICU. Ify melirik jam tangannya sesekali. Hatinya tak tenang.

"Ify, Via !" Ify dan Via menoleh. Begitupun dengan Agni.

"Mama !" Sahut Ify dan Via bersamaan menghambur kedalam pelukan Ibundanya tercinta itu.

"Kalian gak kenapa-napa kan sayang?" Tanya Tante Gina. Ify dan Via refleks menggelengkan kepalanya yang masih bersembunyi dibalik bahu Ibunya itu.

"Tenang, sayang. Papa bakalan baik-baik aja. Mama yakin itu. Kalian jangan sedih ya. Jangan takut. Kita berdoa sama-sama. Buat Papa, ya, sayang." Kata Tante Gina meredakan tangis kedua putrinya itu. Ify dan Via menatap Ibunya dengan seksama. Mata mereka yang indah begitu mengena dihati Tante Gina. Kesedihan dan ketakutan sungguh terpancar dalam mata indah kedua putrinya itu. Dipeluknya kedua putrinya dengan penuh sayang dan kasih. Agni tersenyum penuh arti melihat kedua saudara kembar itu kini telah bersatu kembali dalam keluarganya.


Pintu ICU terbuka. Para Dokter keluar dari ruangan tersebut. Melepaskan masker dan sarungtangan mereka. Seorang dokter yang memang sudah mengenal keluarga Reynanta dengan baik menghampiri Tante Gina, Ify dan Via.


"Bagaimana Dokter keadaan Papa saya ?" Tanya Ify.

"Papa gak kenapa-napa kan Dok ?" Via melanjuti.

"Ify, Via. Kalian jangan main borong pertanyaan. Tanya nya satu-satu saja, nak." Kata Tante Gina.

"Tidak apa, Bu. Saya paham dengan kekhawatiran mereka terhadap Ayahnya. Saya pun juga akan bertanya seperti itu jika yang di dalam itu adalah Ayah saya." Dokter Nuh tersenyum.

"Jadi begini. Untuk keadaan fisik Bapak Ryan, bisa saya pastikan tidak akan kenapa-napa. Semua sarafnya dan juga otot-otot nya masih bagus. Tidak ada kerusakan dijaringan otak. Tapi, untuk saat ini keadaan kesehatan Bapak Ryan yang saya khawatirkan. Mengingat kesibukannya dalam bekerja, juga dengan penyakit leukimia yang dideritanya sejak 20tahun yang lalu." Jelas Dokter Nuh dengan seksama.

"Kalau untuk pekerjaan, saya sudah sempat bilang kalau dia jangan sampai terlalu capek. Tapi sepertinya perkataan saya tidak di indahkannya. Apalagi, anak saya dua-duanya perempuan. Dia belum bisa mempercayai pekerjaan perusahaan kepada putri-putri saya sedikitpun." Kata Tante Gina sambil mengelus puncak kepala Ify dan Via.

"Nah, karena itu, harusnya Bapak Ryan tidak boleh terlalu capek. Kasihan pada dirinya. Dan penyakit itu juga telah merenggut setengah dari nyawa Bapak Ryan. Jadi saya mohon dengan sangat. Tolong jangan biarkan Pak Ryan terlalu capek. Sebentar lagi para suster akan membawa Pak Ryan keruang perawatan inap biasa. Kalian bisa mengunjungi nya. Tapi jangan terlalu berisik. Saya baru saja menyuntikkan obat tidur dan penenang agar dia beristirahat sejenak." Jelas Dokter Nuh.

"Baik, Dok." Jawab Tante Gina disertai anggukan Ify dan Via.

"Kalau begitu saya permisi dulu. Mari, Bu, Via, Ify." Sahut Dokter Nuh meninggalkan mereka.



Tante Gina masih berusaha menenangkan kedua putrinya yang tak juga berhenti menangis itu. Agni hanya duduk diam. Membiarkan mereka larut dalam keluarga mereka sendiri. Ekor matanya menangkap sesosok yang dia kenal. Dan juga sosok lainnya yang digiring beberapa suster kedalam ruang UGD. Agni berlari, menghampiri sosok itu. Sosok lelaki yang dicintainya. Yang kini telah lebam di beberapa bagian wajah. Cakka.

Dilihatnya Cakka sedang duduk dengan memegangi perut sebelah kanannya. Agni dapat memastikan bahwa bagian yang dipegang Cakka saat itu tengah memar. Dilihat dari wajah dan juga tangannya yang biru-biru. Rio yang duduk disamping Cakka juga tak kalah parahnya dengan Cakka. Cakka merasakan sebuah tangan memegang puncak kepalanya. Dilihatnya gadisnya berdiri didepannya. Dengan wajah khawatir, cemas dan takut. Tangan Agni memegang pipi Cakka yang agak lebam itu. Di elusnya perlahan.

"Kamu gak papa ?" Tanya Agni.

"Begini bisa dibilang gak papa ?" Cakka balas bertanya.

"Maaf."

"Buat?"

"Semuanya."

"Aku gak papa, Agni."

"Tapi, kalau saja aku gak ninggalin kamu. Kalau saja aku mengajak kamu ikut bersamaku ke Rumah Sakit lebih dulu, kamu gak akan seperti sekarang."

"Dan aku harus meninggalkan sahabat-sahabatku bertarung ? Enggak, Agni. Aku sahabat mereka. Aku ada di saat mereka butuh. Lagian, cuma begini doang kan udah biasa, sayang."

"Kamu yakin ?"

"Aku yakin. Sangat yakin."

"Pipi kamu lebam."

"Tapi tetep ganteng kan." Cakka menaik turunkan alisnya. Menggoda Agni.

"Bodoh !" Agni memukul puncak kepala Cakka.

"Aih ! Sakit, Ni." Ringis Cakka.

"Lagian kamu jail. Orang lagi serius malah diajak bercanda." Sahut Agni.

"Ya maaf, cantik."

"Ga pake acara gombal ya, Kka."

"Hehehee..."



"Bagaimana sahabat-sahabat saya Dok?" Tanya Rio melihat dokter yang keluar dari ruang UGD.

"Tenang saja. Sahabar kalian tidak apa-apa. Hanya sedikit memar dan lebam. Seminggu juga sudah pulih total. Mereka akan saya pindahkan keruang inap biasa. Tapi
kalau mereka mau pulang hari ini juga, akan saya ijinkan." Kata sang Dokter.

"Terima kasih, Dok." Kata Cakka. Dokter itu mengangguk dan tersenyum. Kemudian meninggalkan Rio, Cakka dan Agni.

***

Ruangan bernuansa putih ini dipenuhi keheningan, kekhawatiran dan juga kesetiaan. Ify dan Via terlihat telah tertidur di sofa saling menumpu kepala masing-masing. Wajah mereka terlihat lelah. Masih terlihat setitik airmata di sudut mata mereka. Tante Gina tersenyum kecil. Jam sudah menunjukkan pukul 3pagi. Namun dia masih terjaga. Dia duduk disamping ranjang pasien. Tangannya menggenggam tangan suaminya erat.


Tak sadar, airmata turun mengaliri pipi putih mulusnya. Terlebih lagi disaat dia melihat kedua putri kembarnya yang tertidur pulas dengan wajah polos mereka. Melihat mereka kembali bersama sungguh menyenangkan hatinya. Tangannya bergerak menghapus jejak airmata itu. Disandarkannya kepalanya kesisi ranjang. Sambil tetap menggenggam tangan Om Ryan. Perlahan, dia tertidur.

Rabu, 22 Mei 2013

Ikatan Batin [7]

Tante Gina berdiri di depan ruang ICU. Tangannya di satukan. Tubuhnya sedikit bergetar. Air mata turun dari mata indahnya. Iel mencoba menenangkan Tantenya itu. Namun apa daya, dia tidak dapat. Tante Gina begitu sayang akan Ify. Semenjak Ify dan Via di pisahkan. Apalagi kondisi Ify yang lebih lemah dibandingkan Via. Padahal dia yang lahir lebih dulu.

Sudah lebih dari setengah jam Tante Gina berdiri, menunggu dokter keluar dari ruang ICU. Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Dengan dua orang suster yang berjalan ke arah meja resepsionis.

"Bagaimana keadaan anak saya, Dok ?" Tanya Tante Gina.

"Tenang saja, Bu. Anak Ibu tidak apa-apa. Mungkin hanya karena kesehatan tubuhnya yang memang lebih rentan daripada kita yang di sini. Dan lagi, sepertinya keadaan jiwanya agak tergoncang. Menyebabkan dia drop." Jawab Dokter tersebut.

"Tapi, dia tidak apa-apa kan, Dok ?" Iel membuka mulut.

"Tidak apa-apa. Untuk kali ini, dia tidak apa-apa." Jawab Dokter tersebut.

"Untuk kali ini ?" Iel mengerutkan kening.

"Ya, untuk kali ini dia tidak apa-apa. Tapi, lebih baik kalian semua jangan membuat anak itu banyak pikiran. Karena kalau dia banyak pikiran, itu akan mengganggu kesehatan tubuhnya. Dan bisa menyebabkan dia drop kembali. Bahkan bisa yang lebih fatal. Mengingat kesehatan tubuhnya memang rendah." Jelas Dokter.

"Baik, Dok." Iel menjawab lemah.

"Kalau begitu saya tinggal, ya." Kata Dokter tersebut. Iel dkk dan Tante Gina mengangguk.



"Permisi, Saudari Ify akan kami pindahkan ke ruang perawatan biasa sebentar lagi. Saya butuh tanda tangan wali atau orangtua untuk mengurus administrasi dan juga beberapa berkas lainnya." Jelas seorang suster.

"Saya yang akan menandatangani itu semua, Sus." Kata Iel.

"Gak usah, Yel. Biar Tante aja." Cegah Tante Gina.

"Tante, lebih baik Tante dan yang lainnya nemenin Ify di ruang perawatan. Biar Iel aja yang tanda tanganin semua ini. Papa dan Mama pasti mau mengerti, Tan."

"Tapi, Yel. Tante jadi gak enak sama keluarga kamu. Lagian, kalau hanya bayar rumah sakit saja, Tante juga sanggup."

"Ini bukan soal sanggup atau enggaknya, Tan. Tapi ini soal kesehatan Ify. Yang di butuhkan Ify saat ini adalah sosok Ibu yang berada di sampingnya. Jadi lebih baik Tante
nemenin Ify. Tetap di samping Ify untuk beberapa saat ke depan. Jagain Ify."

"Baik. Tante menyerah. Terserah kamu saja. Nanti biar Tante ganti semua biayanya." Gabriel tersenyum mendengar perkataan Tante nya itu dan berjalan ke meja resepionis.

***

Ini sudah seminggu setelah kasus penculikan Via dan Ayahnya. Ify masih di rumah sakit. Walaupun sudah sadar, kesehatan tubuhnya belum membaik. Tante Gina masih setia menemani Ify di rumah sakit. Sedangkan Iel dan yang lainnya masih harus tetap masuk sekolah. Walaupun mereka selalu menjenguk Ify tiap hari. Dan ikut membantu penyelidikan kasus Via dan Ayahnya.

"Ify, sayang.." Panggil Tante Gina.

"Kenapa, Ma ?" Jawab Ify menatap ke jendela. Tatapannya kosong.

"Lyssa kangen sama Zia?"

"Kangen banget. Lyssa kangen banget sama Zia. Juga sama Papa."

"Mama juga, sayang."

"Kapan, Ma?"

"Kapan apa ?"

"Kapan mereka kembali ?"

"Mama belum tau, sayang. Polisi, Iel dan teman-temannya juga mencari mereka."

"Lyssa takut, Ma."

"Takut apa, sayang?"

"Lyssa takut Zia dan Papa kenapa-napa."

"Tenang, sayang. Mereka akan baik-baik saja. Kita berdoa saja, yah." Perkataan Tante Gina barusan membuat Ify mengangguk. Mereka berdua berdoa untuk keselamatan anggota keluarga mereka yang lain.

***

"Bagaimana, Pak? Apa sudah ada kemajuan ?" Tanya Iel pada seorang polisi. Kali ini, Iel dan Alvin pergi ke kantor polisi untuk menanyakan kabar penyelidikan kasus Via dan Ayahnya.

"Belum. Kami masih menelusuri bukti-bukti dari rumah tersebut. Tapi sampai saat ini, belum ada yang menunjukkan kami pada satu titik." Jelas polisi tersebut.

"Yasudahlah, Pak. Kalau memang kami ada bukti, kami akan memberitahukan kepada pihak polisi. Kami juga akan membantu sebaik mungkin." Jelas Alvin.

"Baik. Terima kasih juga pada bantuan kalian pada penyelidikan ini."

"Tentu saja, Pak. Mereka keluarga saya. Keluarga kami." Kata Iel tegas. Polisi itu mengangguk.

***

"IFYY !!!!!"

"IPOOONNNGGGG !!!!!!!"



Teriakan dari teman-temannya itu membuat Ify menoleh dan menutup kedua telinganya. Sedangkan Tante Gina hanya tersenyum kecil melihat kelakuan teman anaknya itu.


"Heh ! Ini tuh rumah sakit ! Bukan hutan !" Ify marah-marah.

"Hehee.. Maaf, Fy. Kan kita kangen sama lu." Shilla berjalan memeluk Ify.

"Kangen ? Perasaan kalian semua kesini tiap hari, deh." Kata Ify. Balas memeluk Shilla dengan senyuman menghiasi wajahnya.

"Tapi kan di sekolah kagak ketemu, Fy." Cakka menjawab.

"Emang kenapa kalo di sekolah gak ketemu ?" Ify mengerutkan kening. Menatap Shilla bingung.

"Soalnya gak ada yang bisa di isengin di sekolah." Sahut Rio.

"Sialan lu, Yo !" Kata Ify sembari melempar apel yang berada di sampingnya.

"Eits ! Gak kena, Weeekk.."

"Ni anak berdua malah pacaran.. Ckckck.." Iel geleng-geleng kepala melihat teman dan sepupunya malah berantem.

"Lu minta di timpuk apel juga, Yel ?" Kata Rio melempar-lempar apel di tangannya. Iel menoleh pada Rio dan Ify bergantian sambil menunjukkan jarinya yang berbentuk
'V' sambil nyengir.

"Udah, deh, udah. Kalian ini kalo udah ketemu gak pernah ya gak saling ledek." Kata Tante Gina sambil tertawa-tawa.


Tiba-tiba, Ify merasa tubuhnya melemah. Seakan-akan ada yang memukulnya dengan keras. Ify memegang dadanya sambil menutup matanya. Seakan menahan rasa sakit di dadanya. Perasaannya langsung tidak enak. Pikirannya melayang pada Via.


"Fy, kamu kenapa?" Tanya Tante Gina. Ify tidak menjawab. Masi menahan rasa sakitnya.

"Ify, kenapa?" Tanya Iel pula. Mendekat pada Ify.

"Ipong, lu kenapa?" Tanya Shilla. Yang lainnya langsung menatap Ify dengan tatapan cemas.

"Fy? Fy? Ify !!!" Teriak Tante Gina saat tiba-tiba Ify pingsan. Ify pingsan, LAGI !

***

Sedangkan di suatu tempat, tepatnya di sebuah rumah kecil, Via dan Ayahnya kembali di siksa. Mereka di sekap di sebuah rumah kecil yang di jaga oleh 5 orang lelaki berbadan kekar. Kekuatan Via dan Ayahnya tidak dapat melawan mereka berlima. Terlihat ayah Via yang tidak dapat lagi bergerak. Badannya memar-memar habis di pukuli. Juga darah yang keluar dari beberapa luka yang lumayan fatal. Sedangkan Via, kali ini mereka memukuli Via dengan ganas. Karena Via tidak kunjung menjawab semua yang di tanyakan.

"JAWAB ! DIMANA BOKAP LU NYEMBUNYIIN DUITNYA ?!!" teriak salah satu lelaki itu.

"Saya.. saya tidak tau !" Jawab Via menahan sakit di tangan dan kedua pipinya.

"GAK MUNGKIN LU GAK TAU ! LU ANAKNYA !" teriak lelaki itu lagi, kali ini sambil menampar Via. Via terjatuh. Tubuhnya sudah tidak kuat berdiri lagi.

"Hem.. kalo di liat-liat, wajah lu cantik juga." Kata lelaki itu sambil memegangi wajah Via. Via ketakutan. Air matanya terjatuh.

"Ka.. kalian.. kalian mau apa ?" Kata Via berjalan mundur. Berusaha mendekati ayahnya.

"Kita gak ngapa-ngapain kok. Cuma mau lu doang. Lu cantik loh. Manis pula."

"Kalian.. kalian jangan macam-macam."

"Kita gak macem-macem kok. Cuma satu macem aja."

"Jangan !!" Teriak Via saat salah satu lelaki itu berusaha membuka baju Via.

"JANGANN !!!!!" Teriakan Via semakin kencang. Namun apa daya, tubuh dan kekuatan lelaki itu lebih kuat. Sedangkan ayahnya sudah pingsan dan tak berdaya. Baju Via telah di lepas paksa. Lebih tepatnya di sobek secara kasar.

Rabu, 08 Mei 2013

Ikatan Batin [6]

Ify yang tengah bosan itu menatap laptopnya. Entah sudah berapa bulan laptop itu tidak dia sentuh. Alasannya karna malas dan sedang sibuk. Ify mengangkat kedua bahunya dan berjalan menuju laptopnya di atas meja belajar.

"Maen twitter ah, udah lama tuh twitter gua diemin." Ujar Ify iseng.

Baru juga dia membuka akun Twitternya dan mengklik ikon 'Mention', terlihat mention-mention tidak penting dari Rio dkk, Shilla dan juga beberapa yang lainnya.

@riostevadit
Wohoooooooyyyyy !!! @gabrielstev @Iamalvinjo_ @CakkaNRG @AgniAgniAza @Ashillazhrntiara @IfyAlyssa

@gabrielstev
Ha ?? "@riostevadit Wohoooooooyyyyy !!! @gabrielstev @Iamalvinjo_ @CakkaNRG @AgniAgniAza @Ashillazhrntiara @IfyAlyssa"

@CakkaNRG
Gila lu yo ? "@riostevadit Wohoooooooyyyyy !!! @gabrielstev @Iamalvinjo_ @CakkaNRG @AgniAgniAza @Ashillazhrntiara @IfyAlyssa"

@Iamalvinjo_
RT "@CakkaNRG Gila lu yo ? @riostevadit Wohoooooooyyyyy !!! @gabrielstev @Iamalvinjo_ @CakkaNRG @AgniAgniAza @Ashillazhrntiara @IfyAlyssa"

@riostevadit
hei kau kurus ! @IfyAlyssa

@Ashillazhrntiara
Ipong ! @IfyAlyssa

@AgniAgniAza
Fy, main yuk ! @IfyAlyssa

@Ashillazhrntiara
Ify doang yg d ajk kak? "@AgniAgniAza Fy, main yuk ! @IfyAlyssa"

@CakkaNRG
RT ! "@Ashillazhrntiara Ify doang yg d ajk kak? "@AgniAgniAza Fy, main yuk ! @IfyAlyssa"

Dan masih banyak mention-mention gak jelas yang menumpuk. Ify tersenyum kecil dan mulai mengetik sesuatu. Setelah selesai, di tekannya 'Tweet'

@IfyAlyssa 1s 22.37
Fans gua nih ! byk bgt mention dri mreka ! @Ashillazhrntiara @AgniAgniAza @riostevadit @gabrielstev @CakkaNRG @Iamalvinjo_


Kebetulan di saat yang sama, Via sedang on twitter juga dan melihat tweet Ify yang paling terakhir. Dia bergidik dan menuliskan sesuatu.

@Viazizah 1s 22.39
Najong ! gtu doang bangga ! Cuih ! Sadar dri mbakbroo~ masi bykan gua kali fansnya.Ck

***

Via terbangun pukul 2 pagi. Dia tak bisa tidur lagi. Entah apa yang membangunkannya. Namun, hatinya tidak tenang.

"Aelah, palingan cuma perasaan gua doang." Kata Via kembali merebahkan tubuhnya dan menutup matanya.

"Aih, gua jadi gak bisa tidur lagi. Cari susu lah di dapur." Kata Via dan langsung pergi menuju dapur.

Saat tiba di dapur, Via mendengar suara krasak-krusuk dari arah ruangan ayahnya.Via mengerutkan keningnya.

"Gak mungkin jem segini Papa masih bangun dan kerja." Kata Via. Dia mengambil tongkat kecil yang memang ada di dapur. Untuk berjaga-jaga.

Saat hampir sampai di ruang kerja ayahnya, Via mendengar suara orang berbisik-bisik. Bukan hanya satu atau dua. Mungkin lebih. Sekitar tiga empat orang. Via mengeratkan pegangannya pada tongkat itu. Dan mendorong pintu ruangan tersebut pelan. Karna memang pintunya sedang terbuka sedikit saat itu. Terlihat ayah Via yang sedang terikat di kursi dengan darah segar mengucur dari kepalanya. Via menutup mulutnya dan menahan suara jeritannya.

Air mata mengalir di pipinya. Tak tahan melihat ayahnya yang sedang tak berdaya itu. Benar dugaan Via, ada 4 orang lelaki dengan pakaian hitam mengelilingi ayahnya. Satu lagi sedang mengacak-acak isi meja kerja ayahnya. Via mencari hp nya. Untung tadi dia sempat membawa hpnya itu. Hanya satu nama yang terlintas di benaknya saat ini. Alvin !

Jari Via mulai bergerak dengan lincah di atas keypad hapenya itu. Send ! Via menggigit bibirnya dan berjalan mundur agar tak terlihat orang-orang itu. Namun, apa yang Tuhan kehendakkan berbeda. Via tak sengaja menabrak meja dan menjatuhkan vas bunga. Via langsung gemetar. Tak bisa bergerak sedikitpun. Pandangannya tertuju pada pintu ruang kerja ayahnya yang kini tengah berdiri seorang lelaki berpakaian hitam tadi.Di tangannya terdapat balok berukuran sedang. Yang terkahir kali Via lihat, balok itu bergerak ke arah belakang badannya. Dan pandangannya gelap seketika.

***

Pagi ini Alvin terbangun jam 5 pagi. Dia mengucek matanya dan berdiri di balkon kamarnya. Menikmati udara pagi yang masih segar itu. Alvin mengambil handuknya dan berjalan menuju kamar mandi.

Jam 6 lewat 15 menit Alvin turun ke lantai satu. Tepatnya dapur. Terlihat Omanya yang sedang menyiapkan makanan itu. Alvin tersenyum kecil melihat Omanya yang memang rajin itu. Kekayaan keluarganya pun telah di lanjutkan oleh Oma nya. Walaupun terkadang Alvin ikut membantu beberapa proyek.

"Pagi, Oma." Sapa Alvin.

"Oh, pagi, Vin. Ini, makan dulu roti nya." Kata Oma. Alvin mengangguk dan memakan roti tersebut. Tak lama kemudian, Alvin melirik jam tangannya. 6 lewat 30. Dia harus
jalan sekarang kalau gak mau telat.

"Oma, Alvin jalan sekarang, yah. Takut kesiangan." Kata Alvin.

"Iya, hati-hati, ya, Vin." Kata Oma. Alvin mengangguk dan mencium pipi Oma nya.

***

Alvin menaruh tasnya di samping Gabriel. Gabriel, Rio, Ozy, Cakka dan Agni yang sedang bercengkrama itu langsung menoleh.

"Tumben gak telat, mas?" tanya Cakka.

"Bangunnya kepagian." Sahut Alvin.

"Tumben." Kata Rio. Alvin mengangkat kedua bahunya.



Sedangkan yang lain kembali sibuk dengan obrolannya, Alvin memilih memainkan bb nya. Terlihat satu bbm yang belum di bacanya.

"Dari Via?" batin Alvin.

Sivia Azizah : Vin ! Tolongin gua !

Alvin mengerutkan keningnya. Bingung dengan isi pesan dari Via itu. Singkat, namun tidak dapat dimengerti olehnya.

"Ngapain lu, Vin ?" Tanya Iel.

"Nih, bbm dari sodara lu." Kata Alvin menyerahkan bb nya. Wajah Iel langsung pucat.

"Kenapa, Yel?" Tanya Rio yang melihat perubahan wajah Iel.

"Ayo kita ke Ify sekarang !" Kata Iel.

"Bentar lagi masuk, Yel." Kata Cakka.

"Hari ini Pak Dodi gak masuk !" Kata Iel membawa bb Alvin keluar kelas.

***

*Kelas Ify*

Bel masuk sudah berbunyi dari tadi, namun guru tak kunjung masuk ke ruang kelas Ify. Hanya pesan singkat di papan tulis yang sedari tadi pagi sudah ada di sana. Ify dan Shilla sibuk mengerjakan tugas dari guru tersebut. Begitu juga anak-anak yang lain. Walaupun kelas masih terdegar berisik. Tiba-tiba pintu kelas terbuka. Pandangan semua orang tertuju di sana.

"Ngapain mereka ?"batin Ify. Shilla menyikut Ify. Menanyakan ada apa. Namun Ify hanya mengangkat bahunya.

"Ify, Shilla, keluar bentar, tolong." Kata Iel. Membuat Ify dan Shilla saling pandang. Namun tetap berjalan keluar kelas. Mengikuti Iel dkk.

"Kenapa, kak ?" Tanya Ify.

"Nih." kata Iel menyerahkan bb Alvin. Ify dan Shilla mengerutkan kening dan mulai membaca apa yang tertulis di sana.


Sivia Azizah : Vin ! Tolongin gua !

bbm singkat dari Via itu langsung menusuk hati Ify. Perasaannya langsung tidak enak. Entah apa yang terjadi. Namun, perasaannya tidak enak. Pikirannya melayang entah kemana. Wajahnya tak kalah pucat dengan wajah Iel tadi. Ify langsung lemas. Untung saja Rio sigap memapah Ify untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan di depan setiap ruang kelas.

"Fy, hari ini Via masuk ?" tanya Iel pelan. Tidak ingin adik sepupunya ini drop. Ify menggeleng pelan.

"Kemarin dia ada ngomong yang aneh-aneh ?" Tanya nya lagi. Ify kembali menjawab dengan gelengan.

"Perasaan kamu gak enak, Fy?" Iel kembali bertanya. Namun lebih pelan. Kali ini Ify mengangguk. Dan tanpa di sadarinya, air matanya jatuh. Tangannya memegang
dadanya.

"Sesak, Kak." kata Ify. Iel memeluk Ify.

"Tenang, Fy. Tenang." Kata Iel menenangkan.

"Perasaan Ify gak enak. Takut, sesak, sakit, pedih, kak."

"Tenang, Fy. Kita mesti kerumah Via buat mastiin ini semua gak seperti yang kita bayangkan." kata Iel. Ify mengangguk. Begitu juga yang lainnya.

"Ayo berangkat. Biar gua yang bikin ijinnya." Kata Ozy. Iel tersenyum seakan berterima kasih pada Ozy.

***

*Rumah Via*

Banyak mobil polisi yang berada di depan rumah Via. Garis polisi telah melintangi setiap sudut rumah itu. Perasaan Ify kembali tidak enak. Dia merasa Via sedang dalam bahaya. Sejak tadi dia coba menghubungi handphone Via, namun tidak sambung. Matanya tertuju pada satu polisi yang saat itu sedang berjaga di luar rumah. Menjadga massa yang hendak meliput.

"Permisi, pak. Orang yang tinggal di rumah ini kenapa?" tanya Ify sopan. Juga pelan.

"Kamu siapa nya ?" Tanya polisi itu.

"Saya kakak kembar dari anak perempuan yang tinggal di sini. Ayah dan ibu kami cerai dan menyebabkan kami harus berpisah, pak." Jelas Ify. Polisi itu melirik temannya dan memberi kode untuk berjaga di depan dengan polisi lainnya.

"Dan mereka itu ?"

"Mereka teman saya, pak. Mereka teman dari adik kembar saya pula."

"Apakah kamu bisa memastikan bahwa kamu memang kakaknya ?"

"Bisa, saya punya foto saat kami masih bayi dan juga foto terakhir sebelum kami berpisah." Ify mengeluarkan dua lembar foto dari dompetnya dan menyerahkan pada polisi tersebut.

"Mari ikut saya ke dalam." Kata polisi itu disertai anggukan dari Ify dkk.


Sesampainya di ruang tamu rumah Via, Ify menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya melemas. Air matanya kembali jatuh. Ruang tamu dan mungki seluruh rumah ini telah acak-acakan. Habis di amuk oleh seseorang. Ify tak sanggup melihat dan memilih untuk memejamkan matanya. Rio memeluk Ify erat. Dan membiarkan Ify membenamkan wajahnya di dada Rio.

"Pak, apa yang terjadi di sini ? Kenapa.. kenapa ini semua.." Kata-kata Iel terputus-putus. Wajahnya kembali memucat. Agni dan Shilla menangis. Tak sanggup melihat kekacauan di rumah ini.

"Jadi begini. Tadi pagi, sebuah telepon dari tetangga sebelah masuk ke kantor kami. Beliau bilang, bahwa pukul 4 pagi mendengar suara berisik, suara teriakan dan juga suara pistol dari rumah ini. Kami langsung datang ke rumah ini dan bersiap-siap. Namun saat kami tiba di sini, rumah ini sudah dalam keadaan kacau. Apalagi di ruang kerja di sana itu. Ada kursi dengan tali yang menandakan seseorang tadinya sedang di ikat di sana. Juga balok dengan sedikit darah di ujungnya yang menandakan seseorang dipukul hingga terluka. Namun, orang yang tinggal di rumah ini hingga kini belum di temukan. Tidak dapat kami pastikan mereka masih hidup atau tidak." Jelas polisi itu.

Tangisan Ify semakin kencang. Kata-kata polisi itu sungguh mengena di hatinya. Entah apa yang sedang terjadi pada Via dan ayahnya kini. Perasaannya tak tenang. Begitu juga Agni dan Shilla yang tak kalah histerisnya.

"Shh,, tenang, Fy. Tenang." Hibur Rio.

"Gimana gua bisa tenang, Yo. Adik sama Papa gua di culik. Dan polisi pun gak bisa pastiin mereka masih hidup atau enggak." Kata Ify dengan sedikit isakan.

"Tenang, Fy. Kita semua harus positive thinking. Kita semua harus percaya kalo bokap sama adek lu gak kenapa-napa. Mereka masi hidup."

"Tapi, Yo. Perasaan gua gak tenang. Gua takut mereka kenapa-napa."

"Tenang, Fy. Kita semua di sini melakukan yang terbaik yang kita bisa."

"Gua mau adik sama bokap gua, Yo ! Gua mau mereka ! Gua mau cari mereka sekarang juga ! Gua mau merekaa !!!!" Teriak Ify semakin histeris. Dan tiba-tiba saja Ify kehilangan keseimbangan dan dia terjatuh. Ify pingsan !





Bersambung...

Gimana ? Jelek yah ? Tinggalkan jejak dengan coment dan kritik ke twitter @chikaStevadit atau fb chika_priska@yahoo.com yaa . Thankiss :*

Senin, 06 Mei 2013

Ikatan Batin [5]

*Via BBM*

Alvin Jo : Vi, gua punya sesuatu buat lu
Sivia Azizah : apaan ?
Alvin Jo : Sending a photo (Accept,,,Decline)
Sivia Azizah : apaan tuh ?
Alvin Jo : Buka aja.

Via mengerutkan keningnya. Namun di tekannya Accept. Tak lama kemudian foto itu terbuka. Via bengong. Itu foto dirinya. Dan itu baru di ambil sekitar beberapa jam yang lalu.

"Jangan bilang suara yang tadi gua denger itu dari hape nya Alvin?" Kata Via.

"Jangan bilang kalo Alvin tadi ngeliat gua naik mobil Sion ?" Katanya lagi.


Sivia Azizah : kpn lu ambil tuh foto?
Alvin Jo : tdi
Sivia Azizah : Trus? lu liat gua pegi ama sapa?'
Alvin Jo : Kgak. Gua cuma motret lu pake I-Phone gua. trus gua lngsung jlan.
Sivia Azizah : lu yg tdi naek CBR ijo ?
Alvin Jo : Iya
Sivia Azizah : thx. Nice pict
Alvin Jo : Ur'well

***

"Kak, ntar jemput, yah !" Kata Acha. Rio mengangguk dan melajukan mobilnya menuju gedung SMA Yordanian. SMP dan SMA Yordanian memang satu yayasan namun berbeda gedung. Walaupun tempatnya tak terlalu jauh.

Mobil Jazz itu berhenti di parkiran. Tepat saat Ify dan Shilla turun dari mobil Jazz Shilla.

"Fy, Shill !! " Teriak Rio.

"Apaan sih,Yo? Pake teriak-teriak segala." Kata Shilla.

"Tau nih. Jarak aja gak nyampe 5 meter." Sambung Ify.

"Hehee. Lu berdua kan budek. Jadi mesti diteriakin." Kata Rio yang langsung kabur begitu melihat Ify dan Shilla yang telah melotot.

"RIOOOOO !!!!!!!!!!!" Teriakan Shilla dan Ify terdengar hingga koridor utama yang memang berada tak jauh dari parkiran.



"Yel !" Rio langsung berlindung di belakang Gabriel begitu melihat temannya itu.

"Nape lu ? Kayak di kejar setan." Kata Iel.

"Bukan cuma setan, Yel. Duo Setan !" Ceplos Rio.

"Apa lu bilang, hah ?!!" Kata Ify yang kini tepat berada di depan Iel dan Rio.

"Tuhkan gua bilang juga apa, Duo Setan, Yel."

"Heh, sompret ! Sodara gua nih !" Kata Iel menjitak kepala Rio.

***

Pelajaran hari ini berjalan lancar. Tak terasa sudah waktunya pulang. CRAGO berjalan santai menuju parkiran.

"Weh, hari ini pada kerumah lu, ya Yo." Kata Cakka.

"Ngapain?" Tanya Rio memutar-mutar kunci mobilnya.

"Ngepel." Jawab Alvin asal.

"Wah, boleh tuh. Boleh. Tiap hari aja ke rumah gua. " Kata Rio.

"Sialan, lu. Lu kirain kita-kita babu lu ?" Kata Iel.

"Udah deh. Yo, gua juga penasaran sama rumah lu. Pengen tau rumah lu yang mana. " Kata Ozy menengahi.

"Lu nge fans sama gua ? Ampe pengen tau rumah gua segala. Hahahaa." Kata Rio.

"Sialan. Gua ngomong serius malah di anggep becanda."

"Yaaaaahhh. Jangan ngambek dong, Zy. Iya deh, iya. Lu pada ke rumah gua hari ini. Tapi gua mau jemput adek gua dulu."

"Emang adek lu sekolah di mana ?" Tanya Ozy.

"SMP Yordanian."

"Oh, yaudah. Gua sama Cakka naek mobil gua. Si Alvin sama Iel bawa motor sendiri."

"Sip, gua duluan. Bye."

"Bye."

***

Rio menghentikan mobil yang di kendarainya tepat di depan seorang gadis mungil. Acha. Terlihat Acha yang sedikit berkeringat karena berdiri di bawah sinar matahari yang sedang terik.

"Sorry, lama, ya, Dek?" Tanya Rio.

"Gak papa, kak. Ayo jalan, deh. Aku capek banget." Jawab Acha mengibas-ibaskan tangannya di dekat wajahnya.

"Kasian, deh Adik kakak yang satu ini." Kata Rio mengacak-acak rambut Acha dan melajukan mobilnya.

"Iih, tuhkan, rusak deh rambutku."

"Yaelah, tinggal di sisir juga rapi lagi, dek."

"Tapi repot."

"Repot sih pake bawa sisir segala." Rio tertawa kecil melihat adiknya itu mengeluarkan sisir dari tas sekolahnya.

"Biariin. Kan aku cewek. Jadi mesti siap sedia. "

"Iya deh, iya.. Eh, dek."

"Kenapa?"

"Hari ini temen-temen kakak pada mau main di rumah."

"Cakka, Iel, Alvin ?"

"Iya, tapi masih ada satu orang lagi. Anak ketua yayasan."

"Hah ?Anak ketua yayasan beneran pindah ke SMA Yordanian?"

"Emangnya SMP udah pada tau ?"

"Udah beredar kak beritanya. Aku kira itu cuma berita hoax. Setau aku kan anaknya Ketua Yayasan itu di LA."

"Emang sih. Tapi, nyatanya dia malah mau main ke rumah kakak. Dia baik kok, asik pula."

"Iya deh. Terserah kakak aja. Asal jangan isengin aku."

"Wahh, kalo itu gak janji deh, ya."

"Kok gitu ?"

"Karna yang biasanya nge jailin kamu kan temen kakak. Bukan kakak."

"Iya sih. Kalo kakak mah tiap hari juga udah ngejailin aku."



Rio tersenyum kecil mendengar perkataan adiknya itu. Ya, mereka memang dekat. Dan lagi, orangtua mereka sedang pergi seminggu untuk pekerjaan. Memang sudah lama kedua orangtuanya tidak bepergian jauh dan lama soal pekerjaan. Jadi Acha dan Rio tidak terlalu memusingkan hal itu.

***

"Waah,, gila kamar lu, Yo. Makin parah aja. Ckck." Iel langsung mengitari kamar Rio yang saat itu tengah dihantam batu karang.

"Yaelah, emak gua kan lagi gak di rumah, jadi gak ada yang beresin." Sahut Rio.

"Adek lu ?" Tanya Alvin.

"Dia kan juga mesti beresin kamar dia sendiri, beresin rumah juga. Masa iya gua nyuruh dia beresin kamar gua." Rio menjawab.

"Tapi kan seenggaknya lu bisa minta tolong dia bantuin lu. Bukan beresin kamar lu." Cakka ikutan.

"Dia adek gua, bukan pembokat gua." Rio memilih duduk di atas karpetnya.

"Lu punya adek?" Tanya Ozy.

"Punya. Kan tadi di sekolah udah gua bilang mau jemput adek gua."

"Oh iya. Cewek?"

"Iya."

"Cakep loh, Zy." Kata Iel.

"Imut-imut lucu gitu deh." Cakka melanjuti.

"Sayangnya bukan tipe gua." Alvin ikut-ikutan.

"Gua gak nanya, Viinn !!!" Rio kesel sendiri.


Terdengar ketuk pintu pelan dari luar kamar. Rio dan yang lainnya menoleh. Pintu terbuka dan muncullah Acha. Layaknya di film-film, saat pemeran wanita muncul, akan dibuat slow motion dengan efek angin-angin. Begitu juga saat Acha masuk ke kamar Rio. Setidaknya begitulah yang terjadi di mata Ozy. Seperti saat dia melihat seorang bidadari masuk ke dalam. Rio dan yang lainnya merencanakan sesuatu.

"1..2..3 !!" Seru Rio walaupun pelan. Acha hanya diam di tempat, belum bersuara.

"OZYY !!! ADEK GUA TENGGELEEMMM !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" Teriak Rio histeris.

""MANAA? MANAA  ????? SINI GUA YANG TOLONGIN, GUA YANG GENDONG, PINGSAN GAK ? KALO PINGSAN GUA YANG KASIH NAPAS BUATAN !" Ozypun tak kalah histeris.

"Itumah mau lu, tikus !" Alvin, Iel dan Cakka serempak menjitak Ozy.

"Adek gua, kunyuk !" Rio melempar bantal ke arah Ozy. Tepat di wajah Ozy.

"Heh, sialan, lu pada. Udah kaya apaan tau jitak aja pake kompakan segala." Ozy merengut. Acha tertawa kecil melihat tingkah kakak dan teman-temannya yang bisa dibilang spesies langka ini.


"Cha, kamu ngapain ke kamar kakak ? Entar di makan loh sama Cakka." Kata Rio.

"Hah ? Kak Cakka kanibal ? Makan sesama ? Iih, takut. Gak mau deket-deket Kak Cakka lagi." Sahut Acha.

"Idih, Neng Acha mah gitu. Mario SiPesek Bin Jelek mirip kayak Mpok Nori gitu di percaya. Kalo kakak kanibal mah, mereka semua ini udah kakak makan." Kata Cakka.

"Oh iya, hehee."Acha cengengesan.

"Ga pake ngatain gua, Jelek."Rio menjitak Cakka.

"Emang kenyataan jelek kok."Karna gak seneng, Cakka balik jitak.

"Dibandingin lu gua masih lebih cakep."

"Cakepan gua kemana-mana."

"Gua tuh cakep."

"Gua ganteng."

"Gua imut."

"Gua manis."

"Gula kali. Ck. Gua kembarannya JB."

"Juragan Bakso iya. Gua dikejar-kejar cewek."

"Tukang ngintip ya pake di kejar-kejar segala. Gua banyak fans."

"Berasa artis lu ?"

"Emang gua artis."

"Artis apa? yang suka betulin kabel itu yah ?"

"Sialan, lu. Gua tuh musisi tau."

"Musisi ? Ga salah tuh? Ck."

"Heh, gua emang musisi tau, mau denger suara gua ? Nih ya,, Ehmm.ehmm.. Kuuu.."



Belum juga Rio mulai bernyanyi, Iel, Alvin, dan Ozy menimpukinya dengan bantal. Acha cengo ngeliat kakaknya di timpuki rame-rame. Cakka merasa menang.

"Panjang tuh idung." Kata Iel.

"Idung panjang? kagak, ah. Masi normal idung gua." Kata Cakka memegangi hidungnya.

"GUBRAKKK !!!" Serentak Iel, Alvin, Ozy, Rio dan Acha menepuk dahi masing-masing.

***

Malam ini wajah Ozy di hiasi senyuman. Senyumannya yang manis terus saja berkembang dari saat dia pulang dari rumah Rio hingga sekarang. Masi tebrayang wajah Acha, adik Rio itu di kepalanya. Saat Acha masuk ke kamar Rio, saat Acha membawakan minuman, saat Acha tertawa melihat tingkah Rio dkk, dan juga saat Acha melakukan hal lainnya di depan matanya.

Semua yang Acha lakukan kembali terulang di kepala Ozy. Ozy sedang dilema. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada adik Rio itu. Entah apa yang membuatnya jatuh cinta. Entah itu wajahnya, rambutnya, tingkah lakunya ataupun yang lainnya. Tapi satu yang dia ketahui dengan pasti. Hatinya selalu berdegup kencang saat Acha sedang di dekatnya.

Ozy mengambil I-Phonenya, tadi diam-diam Ozy memotret Acha. Pas sekali saat itu Acha sedang tertawa melihat Rio yang sedang di bully dengan anak-anak yang lainnya. Ozy menatap foto itu lama sekali. Sehingga tanpa sadar, dia tertidur dengan hp di samping bantalnya dengan layar yang masih menampakkan wajah manis Acha itu.

***

Tak beda jauh dengan Ozy, Acha juga sedang dilema. Entah bagaimana, sepertinya dia juga punya perasaan yang sama dengan Ozy. Hatinya juga tak siap jika sedang berdekatan dengan Ozy. Seperti saat tadi, Acha di ajak bermain bersama di kamar Rio dengan teman-temannya. Dan pastinya ada Ozy di sana. Acha duduk di kursi dan menopag dagunya dengan kedua tangan di atas meja belajar.

Pikirannya kembali melayang saat-saat dia bersama Ozy. Entah itu bermain bersama, bernyanyi bersama, tertawa bersama, ataupun yang lainnya. Tanpa sadar, Acha tersenyum kecil mengingat hal itu. Pipinya agak memerah saat dia mengingat tangan Ozy yang menariknya untuk bernyanyi bersama. Acha berdiri dan merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya.

Tak lama kemudian matanya mulai terlelap. Kedua tangannya memeluk guling dengan wajah manisnya yang di hiasi senyuman.

Tokk tokk !

Rio mengetuk pintu kamar adiknya itu. Karna tak ada jawaban, dia membukanya perlahan.

"Dek??" Panggil Rio pelan. Matanya tertuju pada wajah manis Acha yang sedang tertidur lengkap dengan senyuman manisnya.

"Udah tidur ternyata. Tapi, tumben amat tuh anak tidur pake senyam-senyum segala?"Rio hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan berfikir mungkin Acha sedang mimpi indah. Rio keluar dan menutup pintu kamar Acha dengan perlahan. Tak ingin membangunkan adiknya yang sepertinya sedang kelelahan itu.




Bersambung..










Gimana ? Jelek yah ? Tinggalkan jejak dengan coment dan kritik ke twitter @chikaStevadit atau fb chika_priska@yahoo.com yaa . Thankiss :*

Jumat, 03 Mei 2013

Ikatan Batin [4]

Ify turun dari Ninja Rio menenteng sebuah kantong Alfamart. Dia melepas helm dan berjalan kearah rumah. Dilihatnya Acha - adik Rio yang hanya berbeda 1 tahun -  tengah duduk menonton tv seorang diri. Dari belakang sofa, Ify mengendap. Menaruh kantong Alfamart tadi didalam kulkas yang arahnya memang bersebelahan dengan ruang tamu. Ify menutup mata Acha dengan kedua tangannya. Acha memberontak.

Rio yang baru saja masuk dan melihat adiknya dikerjain seperti itu hanya melotot. Seingatnya, Acha ini paling takut gelap. Nah, sekarang matanya ditutup sama Ify. Otomatis kan gelap tuh penglihatannya.

"Iih ! Ini siapa ?! " Kata Acha setengah teriak. Ify tetap diam sambil menutup mata Acha. Rio juga diam, tak bersuara. Malah meninggalkan Ify dan Acha yang masih saja teriak-teriak ketakutan. Untungnya Mama Rio lagi gak di rumah.

"Kalo gak dilepas, Acha cubit yah ?!"

"Satu.. Dua.. Ti... Ti... Ti..."

"Lama amat sih, bilang tiga !" Kata Ify yang habis kesabaran. Melepaskan tangannya yang menutup mata Acha. Acha menoleh, ternganga melihat Ify yang sedang cengir.

"KAK IPONG !!!" Teriak Acha. Ify hanya cengir gak jelas sambil menaruh tasnya di sofa.

"BERISIK, ACHA !!" Terdengar teriakan Rio dari lantai dua. Ya, kamar Rio dan kamar Acha memang dilantai dua. Kamar orangtuanya dan kamar tamu ada di lantai dua.

"Bawel lu, Yo !" Ify setengah berteriak.

"Lagian si Acha teriak-teriak. Udah kaya di hutan aja. Wong manggil lu doang. Padahal lu di depan dia. Ck." Rio turun dari lantai dua. Menghampiri Acha dan Ify yang kini sedang bercanda di sofa.



"Ih, Kak Ipong mah, iseng." Kata Acha memegangi tangan Ify yang hendak menggelitikinya.

"Enak aja kakak di bilang iseng. Nih, rasain !" Tangan Ify semakin gencar menggelitiki Acha. Acha tertawa sampai air matanya keluar.

"Udah deh, kak. Ampun. Acha gak kuat kalau di suruh ketawa lagi." Kata Acha menyudahi.

"Iya, cantik. Hahaha." Ify berdiri berjalan menuju dapur.

"Kak, kakak mau kemana ?" Tanya Acha.

"Mau ke dapur. Kenapa ?" Jawab Ify.

"Mau ngapain?"

"Mau ngambil bantal sama guling. Ya mau ambil makanan lah."

"Di belakang gak ada makanan, kak."

"Kok bisa ? Biasanya Mama kamu kan suka masak sebelum pergi."

"Tadi Mama emang mau masak buat aku sama Kak Rio, tapi itu pagi. Kalau di tinggal ampe siang gini kan udah gak enak. Jadi aku bilang aja gak usah. Kan bisa beli
sama Kak Rio ntar."

"Oh. Kalau gitu kakak aja deh yang masak."

"Serius kak ?"

"Serius, cantik."

"Ntar gua sama adek gua gak bakalan keracunan, kan?" Goda Rio.

"Ya kagaklah. Malah ketagihan. Tapi buat makanan lu boleh juga tuh, Yo." Ify berjalan santai ke dapur diikuti oleh Acha.



Rio memperhatikan Ify yang kini sedang sibuk memotong-motong sayuran. Ya, memang bukan sayuran kesukaan Rio. Namun, mau tidak mau Rio harus memakannya jika tak mau di hantam oleh Ify. Diam-diam Rio tersenyum kecil melihat Ify yang sibuk di dapur. Entah kenapa, dia merasa seperti satu keluarga. Dia sebagai Ayahnya, Acha sebagai anaknya, dan Ify, sebagai Ibunya.

Tercium sesuatu yang wangi. Yang sukses membuat perut Rio berdansa ria. Ify menaruh ayam goreng mentega, brokoli cah udang, dan nasi putih di atas meja makan. Acha langsung duduk dan mengambil piring. Ify duduk di samping Acha. Dan Rio duduk di depan Ify. Tak sengaja saat ingin mengambil nasi, tangan Rio dan Ify bersentuhan. Mereka terdiam beberapa saat. Menikmati pandangan mata satu sama lain. Acha yang melihatnya gerah.


"Hadeeehhh, panas banget sih di sini !" Acha mengipas-ngipaskan tangannya di dekat wajahnya. Rio dan Ify pun tersadar.

"Panas apaan sih? Adem kok !" Elak Rio.

"Adem ? Yakin, kak ? Kok tuh muka merah amat ? Ngalahin kepiting rebus !" Acha kembali menggoda Kakaknya itu.

"Sialan kamu, dek." Jawab Rio. Acha menjulurkan lidahnya.

"Udah, udah. Makan aja, yuk. Ntar keburu dingin !" Ify mengalihkan pembicaraan dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang juga memerah saat itu.

***

Seorang lelaki berperawakan chinese itu mengendarai CBR hijau miliknya dengan pelan. Bahkan teramat pelan. Tidak biasanya lelaki ini mengendarai motor dengan pelan seperti ini. Dia menghentikan motornya seketika di tengah jalan. Untung saja jalanan itu sedang sepi. Ya, memang bukan jalanan umum yang pasti selalu ramai. Tapi, tatapan lelaki itu tertuju pada sebuah sosok yang berada tak jauh dari sana.

Senyum menyungging di wajah lelaki itu. Dapat tergambar jelas bahwa lelaki itu tersenyum senang melihat sosok tersebut. Senyuman di wajah lelaki itu lebih terlihat seperti sedang jatuh cinta. Entahlah, hanya lelaki itu yang tau. Dikeluarkannya I-Phone nya dan diarahkan pada sosok itu.

JEPRET !

Setelah memotret dan memasukkan I-Phonenya ke kantong, dia melajukan CBR nya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan sosok itu tetap di tempatnya sedia kala.

***

JEPRET !

Suara itu membuat Sivia menoleh. Di liriknya kanan dan kiri. Namun tak terlihat seorang pun di sana. Hanya suara motor yang di kendarai dengan kecepatan tinggi. Sivia mengangkat bahunya dan kembali meneruskan kegiatannya di depan rumah. Terlihat jelas Earphone di telinganya yang sebelah kiri, BB Tourch putih di tangan, juga baju yang membuatnya terlihat cantik.

Tak lama sebuah mobil berhenti di depan rumahya. Lebih tepatnya di depannya. Sang pengendara mobil menyuruhnya untuk masuk. Sivia tersenyum dan membuka pintu mobil. Wajahnya terlihat ceria sambil memasuki mobil swift hitam itu. Dan mobil itu kembali berjalan dengan mulus mengikuti alur jalanan.

***

Rio mengendarai mobil jazz biru muda yang sebenarnya milik Acha itu. Acha juga ada di dalam mobil itu. Mereka baru saja mengantar Ify ke rumahnya. Acha terlihat sibuk dengan BB Onix nya sedangkan Rio berkonsentrasi dengan jalanan di depannya. Terdengar alunan lagu dari mulut Acha.

Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku
Warna-warna indahmu

Rio mendengarnya dengan seksama. Suara merdu Acha terus saja mengalun dengan indahnya di dalam mobil. Rio tersenyum kecil mendengar suara adik semata wayangnya itu.

"Suara kamu bagus, Cha." Kata Rio, walaupun tatapannya tetap lurus ke depan.

"Makasih, kak." Jawab Acha. Dia lalu meneruskan nyanyiannya.

Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Sekali lagi, Rio tersenyum mendengar suara Acha. Dan kali ini dia ikut bernyanyi sambil terus berkonsentrasi pada jalan.

Sifatmu nan s'lalu
Redahkan ambisiku
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu

Saat kau disisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Bayangan seorang gadis muncul di benak Rio. Membuatnya tersenyum penuh arti sambil terus bernyanyi dan juga tidak mengurangi konsentrasinya pada jalanan yang semakin padat di depannya.

***

"Kita mau kemana ?" Tanya Via pada lelaki di sebelahnya.

"Entah. Emang kamu maunya kemana ?" Lelaki itu balas bertanya.

"Em,, kemana yah ? Gimana kalau kita ke Resto Luxer aja ?"

"Yang di Danau itu ?"

"Iya .. !" Sivia mengangguk dan tersenyum. Begitupun lelaki itu. Swift milik lelaki itu melaju membelah angin malam yang lumayan kencang itu.


*Luxer Resto*

Seorang waiter mengajak Via dan lelaki itu berjalan menuju meja tepat di dekat danau. Tempat kesukaan Via. Setelah memesan makanan, Via dan lelaki itu kembali berbincang.

"Kamu cantik banget hari ini, Sivia." Kata lelaki itu. Mengelus pelan pipi Via yang kini memerah.

"Makasih." Jawab Via malu-malu.

"Tapi beneran loh. Kamu malem ini lebih cantik dari hari-hari sebelumya."

"Sion ! Iih, mulai deh kamu nge gombal." Via memukul kan tangannya pada lengan Sion pelan.

"Aduh, sakit, Vi. Tapi beneran tau. Aku gak pernah bohong sama kamu, cantik." Sion kembali menggoda Via. Kini wajah Via benar-benar merah.

"Ciee, mukanya merah banget, neng. Perasaan di sini adem loh, gak panas." Sion mencolek pipi gembul Via. Membuat Via manyun.

***

Sedangkan pada waktu yang sama namun berbeda tempat, Cakka dan Agni sedang pacaran di taman komplek.

"Cakkaaa.. Dingin !!" Agni memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya.

"Lagian kamu gak bawa jaket." Cakka melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Agni.

"Kamu sih main tarik aja. Mana sempet aku ngambil jaket di kamar."

"Hehehee. Abisnya aku kangen banget sama kamu."

"Hemm..."



Jawaban Agni barusan mengakhiri perbincangan mereka. Kini mereka berdua terdiam. Agni menatap langit malam yang kini dipenuhi dengan bintang. Dia tersenyum kecil menatap bintang-bintang itu. Cakka memperhatikan wajah Agni yang kini sedang tersenyum. Tangannya mengelus pipi Agni lembut. Agni menoleh. Sedangkan Cakka menggenggam tangan Agni erat. Ya, mereka memang telah berpacaran selama kurang lebih hampir setahun. Sekitar 2 bulan lagi, mereka akan merayakan hari jadi mereka yang setahun.


"Agni.." Kata Cakka. Tangannya masih menggenggam tangan Agni erat.

"Kenapa, Kka ?" Tanya Agni.

"Masih inget gak waktu aku nembak kamu ?"

"Ingetlah, masa sih aku ngelupain hal itu ?"

"Iya, waktu itu aku nembak kamu di lapangan indoor."

"Tepat setelah kamu ngelakuin three point."

"Dan aku menyuruh kamu melempar bola basket ke dalam ring."

"Lebih tepatnya nyuruh aku milih. Masukin bolanya lay up kalo aku nerima kamu. Tapi ngelempar three point kalo aku nolak kamu."


Cakka tersenyum mendengar perkataan gadis yang memenangkan hatinya itu.

"Dan kamu sempet ngerjain aku waktu itu." Kata Cakka.

"Kamu juga ngerjain aku. Bilangnya anak-anak udah pada balik. Ternyata mereka ngumpet di belakang tribun penonton."

"Hahahaa.. Abisnya muka kamu lucu banget waktu aku tembak. Merah-merah gitu, deh."

"Cakkaaa... jangan mulai deh, yah !"

"Hahahaa.. iya, cantik. "

"Tapi, Kka.."

"Kenapa?"

"Kamu yakin udah gak mau jadi playboy ?"

"Kenapa nanya kaya gitu ?" Wajah Cakka berubah menjadi cemas. Takut gadisnya itu memikirkan hal yang aneh-aneh. Ya, memang dulunya Cakka adalah seorang
playboy. Namun, melihat kegigihan Agni melawannya saat bermain basket, perasaannya pada gadis itu mulai tumbuh. Dia tidak lagi mempermainkan gadis lain. Dia
menetapkan hatinya pada gadis di hadapannya ini.

"Aku.. aku takut kamu balik lagi jadi playboy dan ninggalin aku." Kini terlihat sedikit air mata di ujung mata indah Agni. Cakka memeluk Agni erat.

"Tenang aja. Aku gak bakalan jadi playboy lagi. Aku gak akan ninggalin kamu. Karna cuma kamu yang aku mau. Cuma kamu yang bisa ngertiin aku. Cuma kamu yang akan selalu ada dihatiku." Perkataan Cakka itu sedikit menenangkan Agni.

"Janji ?" Agni menghapus jejak air mata dari kedua pipinya.

"Aku, Cakka Kawekas Nuraga, pacar dari Agni Tri Nubuwati berjanji gak akan jadi playboy lagi, gak akan mengkhianati Agni, dan gak akan ninggalin Agni." Ucap Cakka serius. Agni tersenyum dan melepaskan pelukan Cakka. Cakka mencium kening Agni.

"Yaudah, ayo pulang. Udah malem." Kata Cakka. Agni mengangguk dan mengikuti langkah Cakka menuju sebuah motor. Motor kesayangan Cakka. Ninja biru.

***

"Via ! Dari mana saja kamu, hah ?!" seorang lelaki berumur 40-an itu berteriak melihat anak gadisnya itu baru pulang. Via melirik jam tangannya. 23.25

"Abis pergi sama Sion, Pa." Jawab Via se adanya.

"Kenapa baru pulang jem segini ?! Kamu itu cewek, Via ! Cewek ! Bukan cowok yang bisa se enaknya pergi dan pulang !" Via melengos. Malah meninggalkan lelaki itu di ruang tamu masih dengan ocehannya.


*kamar Via*

Setelah mengganti gaunnya dengan baju tidur, Via merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Di liriknya BB miliknya yang berbunyi dari tadi.

"Siapa, sih yang nge Bbm gua malem-malem ginii ? Gak tau orang mau tidur apa ? Ck." Ucap Via.



Bersambung....


Gimana ? ada yg kurang gak ? tolong coment dn kritik nya ya ke @chikaStevadit atau wall fb chika_priska@yahoo.com jgn jadi silent readers ya guys. thankiss :*

Selasa, 30 April 2013

Ikatan Batin [3]

"Sivia ! Kesini kamu !" Via berdiri. Dia mulai berjalan ke arah Bu Winda. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam saat berada di samping Bu Winda.

"Sekarang kamu kerjakan soal yang baru saja saya tulis di papan tulis ini !" Kata Bu Winda. Sebuah spidol yang memang sudah dipegang olehnya di berikan pada Via.

'Mampus gua! Mana ngerti gua ini. Kayaknya belum di ajarin deh.' batin Via.



Ify memperhatikan soal yang dituliskan Bu Winda dengan seksama. Tangannya berputar-putar di selembar kertas. Dia menggelengkan kepalanya. Tanda bukan rumus itu yang dipakai untuk memecahkan soal tersebut. Ify kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Dilihatnya wajah Via mulai gelisah. Perasaan Ify jadi tak enak. Dia tau, bahwa Via pasti takut. Dia tak dapat memecahkan soal itu.

Ify mengacak-acak rambutnya pelan. Dia juga tidak dapat memecahkan soal tersebut. Tidak menggunakan rumus geometri ataupun rumus-rumus lain yang telah dipelajarinya dulu. Tidak ada satupun rumus yang benar untuk memecahkan soal tersebut. Tiba-tiba matanya membulat. Dia menyadari sesuatu. Sesuatu yang daritadi harusnya sudah disadari. Sesuatu yang telat disadarinya dan membuat saudara kembarnya itu jadi ketakutan seperti ini.

***

"Bu Okky !!" Teriak Rio. Bu Okky mengalihkan pandangannya kepada lelaki itu.

"Kenapa Rio ?" Tanyanya.

"Kenapa harus sesuai dengan undang-undang?" tanya Rio.

"Iya, Bu. Kan undang-undangnya aja gak konsisten Bu. Udah berulang kali diubah." Lanjut Iel.

"Lagian yah, Bu. Percuma juga kita mengikuti Undang-undang Indonesia. Sekarang makin banyak Bu yang gak tau namanya undang-undang. Mereka melakukan segala
sesuatunya seenak jidat mereka." Alvin ikutan.

"Dan, Bu. Emangnya Ibu gak pernah ngelakuin sesuatu yang berlawanan dengan UU Indonesia?" Ozy juga jadi terpengaruh.

"Bu Okky !!!!! Lihat nih Bu ! Gara-gara kata Ibu kita mesti mengikuti peraturan perudang-undangan di Indonesia, muka saya jadi kayak JB nih Bu. Kan gak mirip sama muka-muka Indo Bu. Berarti saya bukan orang Indo. Dan saya gak harus mengikuti UU Indo kan, Bu ?" Cakka malah gak nyambung.

"GA NYAMBUNG CAKKAAAAA !!!!!" Alvin, Rio, dan Ozy berteriak. Sedangkan Iel melayangkan jitakannya ke kepala Cakka.

"Sudah. Sudah. Begini yah Cakka. Masalah wajah kamu yang mirip JB itu. Sepertinya Ibu tidak setuju. Karna wajah kamu itu lebih mirip sama.." Kata-kata Bu Okky
tergantung.

"Robert Pattinson ya, Bu ??" Sambung Cakka.

"Bukan.. Tapi lebih mirip sama wajah JOJON. " Kata Bu Okky.

"BUAHAHHAHAHAHAHAHAHA!!" Tawa CRAGO-minus Cakka tentunya- meledak. Begitu juga dengan tawa dari anak-anak sekelas. Bu Okky juga terlihat sedang menahan tawa. Cakka memajukan mulutnya.

"Kalo lagi manyun muka lu agak mendingan, Kka. Mirip sama Budi Anduk kalo kayak gini. Hahahahahaha." Kata Alvin di sela-sela tawanya memperhatikan Cakka yang
manyun. Cakka dan Alvin kan memang sebangku.

Tok.. tok.. tok..

"Permisi, Bu. Ibu dipanggil oleh Pak Rian. Dan di suruh keruangannya sekarang juga." kata seseorang.

"Baik. Anak-anak, maaf pelajaran kita hari ini terpotong. Kalian kerjakan saja soal yang ada di halaman 213 buku cetak. Tulis soal dan jawabannya. Bagian A sampai C.
Kumpulkan ke ketua kelas. Dan ingat, selesai atau tidak selesai harus tetap dikumpulkan. Paling lambat besok pagi sebelum bel masuk." Setelah berkata begitu, Bu Okky keluar dari ruang kelas.

"Weh, keluar nyok. Bosen gua."Kata Rio. Alvin yang sedang asik dengan BB Torch putihnya itu hanya menengok dan mengangkat bahunya. Seraya berkata 'Terserah lu'. Sedangkan Cakka dan Ozy yang dari tadi lagi bergaje ria hanya manggut-manggut setuju.

"Gua ikut weh, perasaan gua gak enak." Kata Iel.

"Si kembar itu ?" Tanya Rio. Iel mengangguk.

"Siapa ? Si kembar ?" Tanya Ozy.

"Mendingan lu ikut aja deh, ya. Kalo di jelasin bisa panjang banget. Dari lebaran Kambing sampe lebaran Gajah juga gak selese-selese."Kata Cakka.

"Hayuk jalan. Gak pake lama."Alvin menarik tangan Ozy keluar kelas. Menuju kelas 'Si Kembar'.

***

Sebuah tangan teracung ke udara. Bu Winda yang sedang memperhatikan Via mengalihkan pandanganya pada sang empunya tangan tersebut. Seorang gadis berdiri dari tempat duduknya. Masih dengan tangan yang teracung. Bu Winda membenarkan letak kacamatanya. Wajah gadis itu yang serius membuat Bu Winda menjadi bingung. Tangan gadis itu pun tak hendak turun walaupun sudah ditatapi oleh Bu Winda.

"Ada apa Alyssa ?" Tanya Bu Winda pada sang empunya tangan.

"Saya ingin protes, Bu." Jawab Ify tegas. Tangannya masih saja teracung.

'Gila tuh anak. Mau protes apaan ke Bu Winda?'

'Berani amat protes sama tu guru killer.'

'Nyari mati si Ify.'

'Protes apa kali? ga sayang idup nih si Ify.'
Batin anak-anak sekelas yang merutuki kata-kata Ify barusan.

"Protes apa Ify? Turunkan tangan kamu." kata Bu Winda. Matanya memandang Ify tajam.

"Saya mau protes tentang soal yang Ibu berikan pada Via." kata Ify santai. Menurunkan tangannya dan membalas tatapan tajam Bu Winda dengan santai.

"Memangnya ada apa dengan soal yang saya berikan kepada Via? Ada yang salah ?

"Tentu saja ada !" Ify mulai naik pitam. Shilla memegangi tangan Ify. Mencoba untuk menghilangkan amarah Ify sedikit. Via memperhatikan wajah Ify yang sedang marah itu. Dia merindukan sosok Ify yang selalu membantunya saat kesusahan. Seperti sekarang ini.

"Memangnya apa yang salah ? Coba jelaskan pada saya. Atau jangan-jangan kamu hanya ingin menolong Sivia karna dia saudara kembarmu ?"

"Tidak ! Saya tidak sedang mencoba membantu Via. Saya melakukan hal yang benar. Karna sampai otak kita semua meluap juga gak bakalan ketemu jawaban dari soal itu !"


Anak-anak satu kelas bengong. Ify ngomong kayak gitu ke seorang guru. Guru killer pula. Lintar yang memang paling pintar di kelas memperhatikan kembali soal di papan tulis itu.


"Kenapa bisa begitu?"

"Tentu saja seperti itu. Soal yang Ibu tulis di papan tulis itu kan hanya asal-asalan. Ibu hanya ingin memberi pelajaran pada Via. Dan lagi, soal itu kalau diperhatikan
adalah soal gabungan. Yang dapat dipecahkan dengan cara...." Kata-kata Ify terputus.

"Dipecahkan dengan cara gabungan dari rumus yang pernah kita pelajari saat kelas 10 dan rumus yang bakalan kita pelajari saat kelas 12 nanti. Tapi jarang orang tau rumusnya karna memang rumus itu tidak terlalu penting di Matematika." Sambung Lintar.

Wajah Bu Winda merah padam. Seisi kelas memasang wajah galak pada Bu Winda. Terutama Ify yang kini wajahnya seperti orang yang ingin membunuh. Via bengong. Wajahnya juga merah. Namun itu merah karna kesal, sedih, dan juga malu.


"Pantas saja dari tadi saya gak nemuin jawabannya. Ternyata..."Kata Via terpotong. Matanya menatap Bu Winda tajam. Bu Winda yang tak terima malah ikut terpancing emosinya.

"Siapa suruh kamu melamun saat saya memberikan tugas. Makanya kamu itu kerjakan tugas dari saya. Jangan melamun saja !!" Kata Bu Winda yang sudah terpancing emosinya.

"Bu, bagaimana kalau Ibu mengerjakan soal yang di papan tulis itu ?" Kata Ify.

"Iya, Bu. Saya juga penasaran dengan cara menyelesaikannya."Kata Irva.

"Ayo, Bu. Kerjakan soal yang di depan itu. Saya penasaran juga nih, Bu." Sambung Rizky.



"APA-APAAN KALIAN INI, HAH ? SAYA GURUNYA ! BUKAN KALIAN ! KALIAN TIDAK BERHAK MENYURUH-NYURUH SAYA ! SAYA MENYURUH SIVIA UNTUK MENYELESAIKAN SOAL ITU ! KENAPA JADI KALIAN YANG MENYURUH SAYA ?!!!" Bu Winda berteriak.

"Kalau saya yang menyuruh Anda ?" Sebuah suara dengan khas cengkoknya terdengar. Di ikuti dengan pemilik suaranya. CRAG pun masuk ke ruangan itu. Ify mengembangkan senyumnya. Via sedikit terkejut.

"Eh,, Anda.. Itu.. Em.." Bu Winda terlihat gelagapan.

"Kalau saya yang menyuruh Anda bagaimana ? Bisa Anda kerjakan ?" Kata Ozy, orang yang tadi bertanya.

"Tapi.. Saya.."

"Tapi apa, Bu ? Bukankah Ibu yang menulis soal itu ? Tentunya Ibu dapat mengerjakannya, bukan?"

"Memang benar.. Tapi.. Itu.. Saya.."

"Kenapa, Bu? Tidak bisa mengerjakannya ? Perlu saya yang mengerjakannya ?"

"Eh ?? Memangnya kamu bisa ?"

"Kalau saya bisa bagaimana? Apa Ibu akan mengambil resiko dari saya ? Saya bisa saja menelpon Ayah saya dan menyuruhnya untuk memecat Anda sekarang. Dan lagi, saya memang tidak suka cara Anda mengajar seperti ini."

"Coba saja. Saya saja yang membuat soal belum tentu dapat mengerjakannya."

"Baiklah kalau memang Ibu sudah mau menerima resikonya."


Ozy berjalan menuju papan tulis. Di raihnya spidol yang memang sudah ada di sana. Tangannya bergerak. Membuat berbagai tulisan. Otaknya yang memang sudah bisa dibilang canggih itu dapat menghitung dengan akurat. Dia yang sudah biasa diberikan soal dadakan yang memang seperti itu dapat mengerjakannya tanpa salah. Ternyata, jawaban dari soal itu adalah beberapa juta. Sungguh nilai yang sangat susah untuk didapatkan jika otak kita pas-pasan. Hampir satu papan tulis penuh dengan tulisan Ozy yang rapi itu. Akhirnya dia berhenti. Memperlihatkan hasilnya kepada Bu Winda dengan senyuman khasnya.

"Bagaimana, Bu ? Siap menerima resiko ?" Tantang Ozy.

"Tidak. Saya tidak percaya !" Bu Winda meraih sebuah kalkulator dan menghitung sendiri soal yang dibuatnya. Ternyata jawaban Ozy memang benar. Bu Winda kalah dengan Ozy yang menghitung dengan manual.

"Bagaimana, Bu ? Jawaban saya benar, kan ? Jadi, Anda siap?" Ozy mengeluarkan I-Phone 4 miliknya. Berpura-pura mencari kontak nama ayahnya. Wajah Bu Winda pucat pasi. Dia tak habis pikir telah menantang anak dari Bosnya sendiri yang ternyata tak dapat dipungkiri kecerdasannya.



Ozy tersenyum kecil. Memasukkan kembali I-Phonenya. Dan berjalan santai keluar kelas. Sebelum dia melewati pintu kelas, dia berbalik dan berkata

"Tenang saja. Saya tidak se naif itu membuat Anda berhenti karna hal sepele seperti ini. Namun kalau sampai terulang, jangan harap mendapat belas kasihan dari saya." CRAGO berjalan keluar kelas dengan senyum kemenangan. Tepat mereka keluar, bel istirahat juga berbunyi.

***

*kantin*

"Buahahahahaah !! "Gelak tawa CRAGO terdengar nyaring. Mereka masih membayangkan raut wajah Bu Wwinda, sang guru Killer tadi saat ketakutan. Camkan, KETAKUTAN.

"Gila, lu Zy. Lu gak liat apa tuh guru mukanya kaya gimana." Kata Rio yang masih saja tertawa.

"Mukanya gak nahan, weh. Gak nahan sumpah. Pengen gua foto tadi tuh. Masukin ke facebook, twitter, yahoo, line, whatsapp, instagram,..." Kata Cakka terpotong.

"Semuanya aja, Cakk." Kata Alvin yang kini sedang minum jus jeruk. Namun, masih ada sedikit senyum di wajahnya. Mengingat wajah guru killernya tadi.

"Udah, deh. Udah. Gila kali. Perut gua ampe sakit nih ketawa mulu. By the way, thanks loh, Zy. Lu udah mau nolongin sodara gua itu." Kata Iel.

"Yo'i, sami-sami, nak." Kata Ozy santai meminum jus sirsaknya.

"Eh, by the way, kok tadi lu ampe mau nolongin si Via sih? kan lu benci banget sama dia." Tanya Alvin.

"Walaupun benci, tapi gua gak bisa mungkirin kalo dia juga sodara gua, Alvin sayang." Kata Iel sambil melirik genit pada Alvin. Alvin bergidik.

"Idiiih, gua masih suka cewek, Yel. Suer dah." Alvin berdiri, pindah duduk di samping Rio yang paling memang duduk paling pojok.

"Hahahaha,, gua juga masih suka cewek, Vin. Hahahaha." Iel tertawa. Namun pikirannya juga melayang ke arah yang tadi. Disaat dia meminta bantuan Ozy untuk menolong saudara yang dibencinya itu.


#Flashback On#

Anak-anak CRAGO yang sedang tidak ada guru keluar dari kelas. Dan kebetulan mereka melewati kelas Ify. Iel melirik ke dalam ruangan, pandangannya tertuju pada Ify yang tengah berdiri dengan wajah kesal.

"Tentu saja ada !"

Suara Ify barusan membuat Iel berhenti. Otomatis temannya yang lain juga berhenti. Mereka ikut melihat kedalam ruangan. Beberapa argumen antara Bu Winda, Ify dan beberapa anak lainnya terdengar sangat jelas. Aura dalam kelas itu juga terasa oleh Iel yang kini tengah was-was akan kedua saudaranya itu. Iel menoleh kepada teman-temannya.

"Weh, bantuin Ify weh." Kata Iel.

"Tapi gimana caranya, Yel. Lu kan tau sendiri si Bu Winda tuh killer." Kata Rio.

"Iya, Yel. Tuh guru gak bisa dilawan. Sedikit ngelawan aja sama dia, fatal akibatnya." Alvin ikut mengingatkan. Wajah Iel berubah pucat. Dia teringat akan sifat Ify yang suka naik pitam jika terus di panas-panasi. Juga Via yang paling tidak suka dikerjain. Apalagi seperti ini. Sifat yang sangat membuat mereka berdua sama.

"Biar gua aja." Kata Ozy. Iel menoleh.

"Serius, Zy?" Tanya Iel.

"Serius lah." Ozy terlihat tenang.

"Gila lu, Zy. Tuh guru tuh killernya minta ampun." Cakka turun tangan.

"Wei, lu semua gak lupa kan siapa gua?" Tanya Ozy. CRAG saling pandang. Lalu tersenyum senang.

"Ozy si anak pemilik Yayasan." CRAGO sama-sama berbicara. Senyum mereka seketika sirna mendengar suara Bu Winda.



"APA-APAAN KALIAN INI, HAH ? SAYA GURUNYA ! BUKAN KALIAN ! KALIAN TIDAK BERHAK MENYURUH-NYURUH SAYA ! SAYA MENYURUH SIVIA UNTUK MENYELESAIKAN SOAL ITU ! KENAPA JADI KALIAN YANG MENYURUH SAYA ?!!!"



"Zy, ayo buruan." Kata Iel. Ozy mengangguk lalu membuka pintu kelas tersebut.

"Kalau saya yang menyuruh Anda ?" Kata Ozy santai. Sedangkan anak CRAG saling menahan tawa mereka melihat wajah Bu Winda yang tadi sangar berubah menjadi ketakutan.

#Flashback Off #

Mengingat hal itu, Iel tersenyum kecil. Setidaknya Via jadi punya hutang budi padanya dan teman-temannya. Walaupun lebih kepada Ozy sih sebenarnya. Sedangkan salah satu dari CRAGO tersenyum kecil melihat wajah gadis tadi yang ketakutan berubah menjadi senang melihatnya dan teman-temannya. Wajah yang tidak mungkin dilupakannya. Wajah yang membuatnya ingin terus tersenyum saat mengingatnya.

***

Masih di kantin, namun berbeda meja dengan CRAGO. Ify dan Shilla duduk manis sambil berbincang. Ditemani makanan mereka masing-masing.

"Gila lu, Fy." Kata Shilla. Ify yang hendak memakan baksonya berhenti. Menjawab pertanyaan Shilla dengan bingung.

"Gila kenapa? Jelas-jelas gua masih waras. Ck. Aneh lu." Kata Ify lalu melanjutkan memakan baksonya. Shilla menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
Lalu melanjutkan perkataannya.

"Ya, gila aja. Masa iya lu ngelawan Bu Winda. Udah tau tu guru killer sepenuhnya mati."

"Apa banget de lu, Shill. Lebay. Hahahaa."

"Ketawa lu minta gua bayar tau !"

"Yaudah sini, bayar. Lumayan nambahin duit gua." Kata Ify asal.

"Sialan, lu. Duit bulanan lu juga jarang abis. Masi malak gua pula."

"Ye, gua gak malak lu. Lu kan yang mau bayar gua. Wekk " Ify menjulurkan lidahnya. Di dorongnya mangkuk baksonya yang masih berisi kuah berwarna merah.

"Siapa suruh ketawanya gak nahan, gitu." Kata Shilla manyun.

"Yaah, Shilla ngambek. Kan bercanda doang Shilla.."

"Abisnya lu make acara ngecengg....." Perkataan Shilla terpotong. Melihat CRAGO tengah berdiri di depan meja Ify dan Shilla.



"Hey, kalian udahan makannya ?" Tanya Rio. Melihat Ify yang asyik meminum jus strawberry nya.

"Udah kok, Yo. Emang kenapa?" Shilla menjawab.

"Enggak, cuma mau mastiin lu berdua gak papa." Iel menjawab sekenanya.

"Lah ? Emang kita kenapa?" Tanya Ify menoleh pada Shilla. Shilla hanya menggelengkan kepalanya. Tanda tak tau.

"Itu loh. Insiden di kelas tadi. Lu gak papa kan ?" Tanya Cakka.

"Oh, itu. Enggak papa kok, Kka. " Ify menjawab.

"Heyy !!!" Seorang gadis menepuk bahu Cakka. Wajah Cakka langsung sumringah melihat gadis itu.

"Jiah, baru ketemu sama ceweknya tuh muka pengen gua bayar jadinya." Kata Rio.

"Boleh sini.. sini.. Lumayan nambahin duit gua buat jalan-jalan sama Agni." Kata Cakka merangkul Agni - cewek tadi, pacarnya -

"Idiih, mendingan duitnya gua kasih ke fakir miskin." Rio membuang muka. Mengalihkan pandangannya pada Ify. Tepat pada saat Ify juga sedang memandangnya.



'Gila, kayaknya gua gak punya penyakit jantung. Kok jantung gua geraknya cepet amat, yak?' Batin Rio saat melihat tatapan teduh dari Ify.

'Aiih, gua kenapa ? Kayaknya muka gua panas banget. Ya ampun, Ify. Itu cuma Rio, Rio..' Batin Ify yang juga merasakan hal yang sama. Tatapan Rio barusan, sangat membuat hatinya tenang.



SICARAGO -minus Ify dan Rio- memperhatikan Rio dan Ify. Wajah Ify yang memerah. Dan Rio yang mengacak-acak rambutnya pelan. Mereka saling pandang. Dan mulai muncul ide jahil di kepala mereka. Seperti memiliki ikatan batin, rencana mereka sama.

"HHAYOOOOOOO.......!!!!!!!!!!!!!!!!!!!" Teriakan itu mengangetkan Rio dan Ify.

"Gilaa !! Apa-apan lu pada teriak di kuping guaa ?!!!!" Rio mengusap telinganya yang sekarang tengah berdengung.

"Iya nih ! di kiranya gua budek kalii !!" Ify menutup kedua telinganya. Bibirnya manyun. Membuat yang lain tertawa.

"Ketawa lu pada minta di bayar ! "RiFy berkata.

"Cie,, kompaakkk.. Hahahaa." Shilla menggoda.

"Apaan sih, Shilll..." Ify membuang wajahnya. Menyembunyikan semburat merah di wajahnya. Rio hanya menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal sama sekali.



"Eh, kamu Ozy kan ?? " Tanya Ify yang sadar akan kehadiran Ozy.

"Iya." Ozy tersenyum. Manis.

"Yang anak sekolah itu ?" Lanjut Shilla.

"Yang tadi pagi dateng itu ?"

"Yang tadi pagi di anterin sama bokap lu ?"

"Yang anak pemilik yayasan ?"

"Yang tadi di anterin pake mercedes ?"

"Yang katanya baru balik dari LA ?"

"Yang tadi pagi bikin gem..."Shilla memberhentikan perkataannya. Mulutnya kini tengah di bekap oleh Iel. Begitu juga dengan Ify yang kini tengah dibekap Rio.


"Bawel lu berdua !" SICARAGO -minus Ify Shilla- serentak berteriak. Ozy tertawa kecil melihat tingkah teman-teman barunya ini.


"Abisnya dia ada di sini. Di antara kita."

"Tapi gak di kenalin ke gua sama Ify."



"Ya, tadikan lagi ngomongin masalah lu di kelas, cantik." Kata Iel pada Shilla.

"Makasih, gua emang cantik. Eh, btw, tadi Kak Ozy kan yang bantuin Ify ?" Tanya Shilla. Ozy mengangguk.

"Wahh, makasih loh, kak. Kalo tadi gak ada kakak, mungkin aku udah jadi perkedel sama Bu Winda." Kata Ify.

"Iya, gak papa kok. Lagian itu juga udah seharusnya. Tapi, kok bisa ampe kayak gitu sih ?" Tanya Ozy.

"Apaan sih ?" Tanya Agni yang belum mendengar masalah tadi.

"Udah, dengerin aja si Ify cerita, kak. Entar juga ngerti." Kata Shilla.



Ify membuka mulut. Menceritakan cerita aslinya secara detail pada teman-temannya itu. Mulai dari awal hingga akhir.

***

Ify berdiri di depan gerbang sekolah. Diliriknya jam tangannya. Sudah lebih dari 1 jam dia menunggu, sekolahan juga sudah mulai sepi. Palingan cuma anak-anak eskul doang yang masih ada di sekitar pekarangan sekolah. Namun, supirnya belum juga menjemputnya. Dia merutuki dirinya sendiri yang tadi pagi ngotot tidak mau membawa mobil sendiri.

TIIN  !!!

Sebuah Avanza Silver keluar dari pekarangan sekolah. Ify sudah hafal dengan mobil ini. Mobil Via. Mobil itu berhenti di sebelah Ify. Wajah Via terlihat dari dalam mobil itu. Tepat di balik kemudi.

"Kenapa, Vi ?" Tanya Ify heran.

"Lu belum balik ?" Via balik bertanya.

"Belum, kenapa ?"

"Gak. Thanks tadi udah nolonging gua."

"Iya, sama-sama. Udah seharusnya gua nolonging lu."

"Oh, lu nunggu supir yah ?"

"Iya."

"Eem,.."

"Kenapa, Vi ?"

"Lu mau gua anterin gak ?"

"HAH ??!!"

"Buset, dah. Biasa aja kali."

"Em, abisnya gua kaget. Gak biasanya."

"Yaudah, sekarang lu jawab, mau gua anterin balik kagak ? Sekalian bales budi."

"Em, kagak usah deh. Palingan bentar lagi juga gua di jemput."

"Yaudah kalo gitu. Gua duluan."



Belum sempat Ify menyahut, Avanza itu telah melaju. Meninggalkan Ify sendirian (lagi). Pikirannya melayang. Bingung dengan sikap Via yang tadi menawarkan tumpangan padanya. Sedikit senyum muncul di wajah tirus Ify. Membuatnya semakin menarik di pandangan orang.

"Ify.." Panggil seeorang. Ify menoleh.

"Eh, lu, Yo. Kenapa ?" Tanya Ify.

"Lu kok belum balik ?"

"Belum di jemput Yo."

"Oh, yaudah ayok sekalian sama gua. Kan rumah gua sama lu gak beda jauh. Tapi ke rumah gua dulu, yah." Kata Rio.

"Ngapain ke rumah lu dulu ?"

"Si Acha pengen ketemu, lu. Katanya sih kangen."

"Oh, yaudah kalo gitu. Ayo. Tapi,,"

"Tapi apa ?" Kata Rio menyerahkan helm pada Ify.

"Tapi mampir ke Alfamart dulu, yah. Mau beli eskrim buat Acha." Kata Ify memakai helm tadi. Rio mengangguk.


Motor Ninja merah milik Rio melaju di keramaian. Meninggalkan sekolah tercintanya. Tangan Rio meraih tangan Ify. Seakan menyuruh Ify untuk memeluk pinggangnya. Agar tidak jatuh. Karna memang saat ini Rio melajukan motornya di atas rata-rata. Tanpa di sadarinya, sebuah senyuman kecil terpampang jelas di wajahnya yang tertutupi oleh kaca helm. Begitu juga dengan Ify, untung saja kaca helm itu berwarna agak gelap. Sehingga wajahnya yang kini memerah dapat disembunyikan.

***

Mobil Avanza Silver milik Via memasuki sebuah rumah yang megah. Ya, itulah rumah Ayahnya. Via memarkirkan mobilnya di garasi. Lalu, dia berjalan perlahan memasuki rumah. Tepat di depan pintu rumahnya, seekor anjing golden retriever menggonggong kepadanya. Via menoleh, tersenyum kepada anjing itu.

"Hei, kamu nungguin aku pulang yah, Than ?"Kata Via menghampiri anjing itu. Anjing itu semakin gencar melompat-lompat.

"Kamu udah makan belum ? Pasti belum, deh. Aku ganti baju dulu, ya. Kamu tunggu di sini." Via mengelus perlahan bulu halus dari anjing satu-satunya ini.


Via berjalan menuju kamarnya. "Via's Room ! " . Terpampang tulisan tangannya yang indah itu. Kamar Via dipenuhi lukisan. Ya, itu Via sendiri yang menggambarnya. Entah itu gambar pohon, hewan, bahkan manusia pun ada. 2 orang gadis kecil yang bergandengan tangan. Tepat di dinding belakang ranjangnya. Gambar Via dan Ify.

Via membaringkan tubuhnya di ranjangnya. Pikirannya melayang mengingat kata-kata yang dilontarkannya secara spontan itu. 'Lu mau gua anterin gak ?'. Entah itu terlontar dari hatinya hanya semata dari otaknya. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata pada dirinya sendiri bahwa itu terlontar karena dia hanya ingin membalas budi. Walaupun sebenarnya hatinya rindu akan kasih sayang dan perhatian kembarannya itu.

Setelah mengganti bajunya, Via menuju dapur. Menyiapkan makanan (DogFood) untuk Nathan, anjingnya itu.



Bersambung..

Gimana ? ada yg kurang gak ? tolong coment dn kritik nya ya ke @chikaStevadit atau wall fb chika_priska@yahoo.com jgn jadi silent readers ya guys. thankiss :*