Senin, 29 April 2013

Ikatan Batin [2]

Malam ini, orang tua Gabriel tidak pulang. Mereka masih ada urusan di luar negri. Biasalah, urusan perusahaan. Perusahaan keluarga Damanik memang sangatlah besar. Perusahaannya kini sudah ada di seluruh bagian negara. Masing-masing negara setidaknya memiliki salah satu perusahaan Damanik. Gabriel memang tumbuh tanpa kasih sayang berlimpah dari kedua orangtuanya. Bisa dibilang mereka jarang bertemu. Namun begitu, dia mengerti urusan keluarganya. Demi dirinya.

Gabriel Stevent Damanik, satu-satunya keturunan dan penerus perusahaan Damanik yang telah berdiri selama 28 tahun. Satu-satunya orang yang akan meneruskan perusahaan keluarga ini. Anak lelaki dengan perawakan tinggi, berkulit sawo matang (coklat), pintar, jago dalam hal menyanyi dan bermain basket. Juga dalam hal memainkan alat musik terutama gitar dan piano. Salah satu bagian dari keluarga Ify.

Teman-temannya sejak kecillah yang membuatnya menjadi anak yang tegar. Karna kebanyakan, sobatnya ini juga memiliki nasib yang sama dengannya, Cakka contohnya. Lelaki yang memiliki gaya seperti Justin Bieber ini memang memiliki nasib keluarga yang tak jauh berbeda dengan Iel. Dia hanya tinggal dengan para pembantu, orang-orang yang dipekerjakan oleh kedua orangtuanya, juga kakak lelakinya. Namun begitu, baik Cakka dan kakaknya maupun Iel tidak pernah meminta lebih pada dua orangtuanya. Setiap kali mereka bertemu dengan orangtuanya setelah lama tak bertemu, mereka pasti langsung jalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama dengan orangtua.

Lain halnya dengan Alvin. Lelaki berkulit putih dan wajah sangat Chinese ini tinggal bersama Omanya. Kedua orangtuanya telah tiada sejak dia kecil. Hanya satu foto yang dia punya. Foto ketika dia bersama kedua orangtuanya untuk terakhir kalinya. Sebelum kecelakaan itu merenggut nyawa kedua orangtuanya dan hampir saja nyawanya juga. Namun begitu, dia tak pernah memperlihatkan perasaan sedihnya melihat orang yang dekat dengan Ibu mereka. Alvin memang cuek, namun bukan berarti dia tidak perduli dengan sekitarnya. Termasuk temannya. Justru dia orang yang paling peka di antara CRAG.

Kalau Rio beda sendiri. Dia hidup bahagia bersama Ayah, Ibu dan adik perempuannya. Memang keluarganya juga memiliki perusahaan yang hampir sama besarnya dengan perusahaan Iel, Damanik's Corps. Namun, ayahnya itu selalu bisa membagi waktu untuk pekerjaan, dan keluarga. Haling's Corps adalah satu dari 5 perusahaan terbesar di dunia. Mario Stevano Aditya Haling adalah penerus pertama dari Haling's Corps di Indonesia dan 5 negara lainnya. Sedangkan adiknya, Raissa Safanah Adinda Haling adalah penerus dari Haling's Corps di Aussie dan 5 negara lainnya.

Malam ini, CRAG bermalam di rumah Iel. Pertama, karna orang tua Iel tidak ada. Kedua, karna mereka memang sedang ada sesuatu yang harus dibahas. Apalagi kalau bukan tentang si kembar itu. Via dan Ify. Saudara Iel yang memang kembar identik itu. Yang diam-diam telah menarik perhatian Rio. Via dan Ify. Salah satu dari mereka telah berhasil meluluhkan hati seorang Mario.

"Wahh, waahh,, Vin. VIN !! Itu yupi guaa !!" teriak Cakka melihat yupinya na'as dimakan Alvin.

"Ah, berisik lu. Beli lagi sono. Yang banyak, ya." kata Alvin cuek. Kembali memainkan psp putihnya.

"Idih, mending belinya pake duit lu. Lah ini, belinya aja pake duit gua." Cakka manyun.

"Makin jelek lu kalo manyun." sembur Rio yang sedari tadi asik main catur dengan Iel.

"Dia mah emang udah jelek, Yo." kali ini Iel yang berbicara.

"Aish, pada sekongkol nih bikin gua keki. Cukup tau gua sama lu semua." kata Cakka ngambek.

"Mirip cewek lu. Pake ngambek-ngambek segala." Alvin yang cueknya selangit angkat bicara. Di angguki oleh suara tawa Iel dan Rio.

"AAAAHHHH !!!!!!!" Cakka berteriak.

"BERISIIKKK !!!!!!" Iel, Rio, dan Alvin berteriak. Cakka menutup kedua telinganya.

"Gila lu bertiga. Makan toa mesjid ye?" Cakka menggelengkan kepalanya.

"Bacot lu. " Iel kembali memfokuskan pandangannya pada layar laptopnya.

"Ngeliatin siapa lu, yel?" tanya Cakka.

"Ngeliatin twitternya si Ify. " Jawab Iel sembari memutar laptopnya mengarah pada ketiga temannya itu.

2s 20.47
@IfyAlyssa
Mgkn gua bru sdar, kalo sbnernya gua suka sama dia :')

1minute 20.46
@IfyAlyssa
Just miss him !

10minute 20.36
@IfyAlyssa
Anata Daisuki !!!

***

Ahmad Fauzy Adriansyah. Sebuah nama yang langsung menggelegar di SMA Yordanian. Seorang anak baru pindahan dari Los Angeles. Yang kabarnya adalah anak dari pemilik sekolah ini. Memang pernah ada kabar yang berkata bahwa anak pemilik sekolah tinggal di luar negri. Tapi tidak ada yang tahu siapa namanya. Dan tiba-tiba saja Ozy -panggilannya Fauzy- datang dari LA ke SMA ini.

Jam sekolah sudah menunjukkan pukul 07.30. Namun kegiatan belajar mengajar belum juga dimulai. Semua guru berdiri di sepanjang gerbang sekolah. Seluruh murid berdesak-desakan di koridor dan lapangan sekolah. Memperhatikan para guru mereka yang tampak gelisah. Begitu juga dengan kepala sekolah. Tidak lupa Via dan dayang-dayangnya yang juga berada di lapangan basket, memperhatikan kepala sekolah yang tampak gelisah dan bingung.

Sedangkan Ify, Shilla, Agni dan CRAG berdiri berdampingan di koridor sekolah. Pandangan mereka menuju satu titik. Gerbang SMA Yordanian. Tiba-tiba, sebuah limousin dan mobil mercedes masuk ke dalam pekarangan sekolah. Para guru langsung membungkukkan badan mereka. Seakan-akan memberi hormat kepada atasan. Dari arah limousin, supir itu keluar dan membukakan pintu. Seorang lelaki paruh baya turun dari limousin dan langsung menyuruh para guru untuk berhenti membungkuk. Lelaki itu mengalihkan pandangannya ke arah mercedes.

Pintu mobil mercedes itu terbuka. Seorang lelaki tampan turun dari mobil itu. Serentak berbagai teriakan terdengar dari segala penjuru sekolah. Ozy, lelaki yang turun dari limousin itu mengalihkan pandangannya kepada para manusia yang sedang berdesak-desakan di lapangan dan juga koridor. Menebarkan senyum manisnya itu kepada para wanita di sekolah ini. Teriakan kembali terdengar riuh.

Via yang memang mempunyai niat untuk mendekati Ozy mulai berjalan ke arah Ozy. Tentunya di ikuti oleh dayang-dayangnya. Ozy yang melihat Via mendekatinya mengalihkan perhatiannya. Di perhatikannya Via dari ujung rambut hingga ujung kaki. Memang Via itu sangat sempurna. Ozy menampilkan senyum manisnya kepada Via, sekali lagi. Via membalas senyum itu.

"Hai, pasti kamu itu Ozy yah ? Anak pemilik sekolah ? Kenalin, aku Sivia Azizah Reynanta. Panggil aja Via. Aku itu kapten cheers dan ratu di sekolah ini." Via memperkenalkan dirinya. Mendengar perkataan Via barusan, Ozy bergidik.

'Gila nih cewek. Pede gila, masbrooo.' batin Ozy.

"Ahmad Fauzy Adriansyah. Panggil aja Ozy. " Ozy tersenyum dan menyebutkan namanya.

"Ohya, Zy, kamu pasti bakalan jadi raja di sekolah ini, trus aku kan emang udah jadi ratu. Trus entar kita bakalan jadi pasangan. Kan serasi banget, Zy." Kata Via. Ozy
hanya tersenyum. Namun kali ini senyumannya kecut.

"Ozy, kamu sekolah di sini ya? " Kata Om Dylan. Papa dari Ozy.

"Iya, Pa." jawab Ozy.

"Kalian ! Kalian harus mengajar anak saya dengan baik. jangan sampai dia ketinggalan pelajaran !"

"Iya, Pak !"

"Kalau begitu Papa pergi ke kantor dulu. Entar biar kakak kamu yang menjemput. " kata Om Dylan sekali lagi. Ozy hanya mengangguk dan menyiratkan senyumannya.
Mobil mercedes dan limousin itu keluar dari pekarangan sekolah. Dan kegiatan di sekolah ini kembali seperti biasa.

***

Kelas XII IPA 1 - kelas CRAG

"Anak-anak, mulai saat ini siswa di kelas ini bertambah satu. Dan kalian pasti sudah tau siapa orangnya. Silahkan masuk."

"Hai semuanya, kenalin nama gua Ahmad Fauzy Adriansyah. Panggil aja Ozy. Gua baru aja pindah dari LA. Dan gua bakalan butuh bantuan kalian. Banyak banget
bantuan dari kalian semua." Ozy tersenyum.

"Baiklah, Ozy. Kamu bisa duduk sama Mario di sebelah sana. Silahkan."

"Baik. Terima kasih, Bu." Ozy berjalan menuju tempat Rio yang memang kosong.




"Hai, lu anak pemilik sekolah, ya ?" Rio bertanya. Pandangannya mengarah kepada Ozy.

"Iya, lu siapa?" Ozy balik bertanya.

"Gua Mario Stevano. Panggil aja Rio. Yang dibelakang itu Cakka Nuraga, Gabriel Stevent, sama Alvin Jonathan. Sohib-sohib gua." Rio mengenalkan mereka satu persatu.

"Cakka."

"Iel."

"Alvin."

"Gua Ozy. Ohya, ntar temenin gua keliling yuk. Pengen gua ngeliat-liat sekolah ini. Semenjak sekolah ini berdiri, belum pernah sekalipun gua coba masuk ke sini. Jadi
penasaran juga." Kata Ozy yang langsung di angguki oleh CRAG.

***

Kelas XI IPS 1 - Kelas Ify, Shilla, Via, Angel, Zahra

"Fy, yang ini gimana sih? Gua gak ngerti deh." Kata Shilla menyerahkan buku matematikanya pada Ify. Sejenak Ify memperhatikan soal yang ditunjuk oleh Shilla. Seakan berfikir, Ify mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mendapatkan cara memecahkan soal itu.

"Jadi tuh gini, pertama, lu sederhanain dulu jadi berapa pangkat 3. Abis itu lu kaliin pangkatnya. Kan kalo kayak gini bisa di coret tuh. Nah, abis ini lu tinggal kali. 12
pangkat 4 itu berapa, yang ini sama ini juga berapa. Abis itu di kaliin. Jangan lupa dibagi 8. Nah, ini hasilnya. Sekarang lu coba aja deh soal selanjutnya." Jelas Ify.

Via memperhatikan Ify sejak tadi. Pikirannya penuh dengan cara untuk mengerjai Ify. Tugas matematika dari gurunya tak dikerjakannya. Bahkan dia tak sempat melihat soalnya sekalipun. Belum dia baca sama sekali. Bu Winda, guru matematika yang sedang memeriksa pekerjaan rumah murid-murid, melihat Via yang dari tadi tak memperhatikan soal darinya. Tak membaca dan mencoba mengerjakan soal darinya.

"Via !" Panggil Bu Winda. Via yang sedang sibuk dengan pikirannya tak mengindahkan panggilan Bu Winda.

"Sivia Azizah !" Panggilnya sekali lagi. Masih sama. Tak di anggap oleh Via. Angel yang duduk sebangku dengan Via menyenggol lengan Via.

"Sivia Azizah Reynanta !!! " Via kaget. Serentak seisi kelas melihat Via.



Bu Winda yang memang terkenal galak itu berdiri. Menulis sesuatu di papan tulis. Via mulai menelan ludahnya. Mulai memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Bu Winda. Dia berpura-pura sedang menulis di buku tugasnya. Teman-temannya memperhatikan tulisan Bu Winda. Sebuah soal. Bu Winda membuat sebuah soal yang bisa dibilang lumayan susah untuk kelas 11 SMA ini.

"Sivia ! Kesini kamu !" Via berdiri. Dia mulai berjalan ke arah Bu Winda. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam saat berada di samping Bu Winda.

"Sekarang kamu kerjakan soal yang baru saja saya tulis di papan tulis ini !" Kata Bu Winda. Sebuah spidol yang memang sudah dipegang olehnya di berikan pada Via.

'Mampus gua! Mana ngerti gua ini. Kayaknya belum di ajarin deh.' batin Via.


Bersambung...


Gimana ? ada yg kurang gak ? tolong coment dn kritik nya ya ke @chikaStevadit atau wall fb chika_priska@yahoo.com jgn jadi silent readers ya guys. thankiss :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar