"Sialan !" batin seorang gadis tirus sembari berlari kecil di koridor sekolahnya. Sesekali diliriknya jam tangan putih berbentuk kepala stitch yang bertengger di pergelangan tangan kirinya. 07.10. sudah 10 menit yang lalu kegiatan mengajar dilakukan. Untung saja tadi dia bisa mengecoh satpam yang menjaga untuk membukakannya gerbang. Kalau tidak, dengan terpaksa dia bolos. Gadis itu terus saja berlari, sehingga dia tidak memperhatikan orang dari arah berlawanan.
BRUK !
"Aiish.." pekik gadis itu.
"Heh ! Lu tuh tetep aja yah gak bisa liat jalan apa ?!!" Bentak gadis yang ditabrak. Kedua gadis itu terjatuh.
"Idiih, gua tuh gak sengaja, Via."
"Heh ! Ga usah sebut-sebut nama gua ! Ga sudi nama gua yang indah itu disebut sama orang menyedihkan kaya lu, Ify !!" Bentak gadis bernama Via itu. Berdiri dan kembali berjalan menjauhi Ify. Ify hanya menghela nafas.
Padahal mereka adalah saudara kembar, identik sekali. Namun, sejak kecil mereka sudah dipisahkan karena perceraian kedua orangtuanya. Via ikut ayahnya. Semua keinginannya diberi. Membuat Via menjadi manja dan egois. Sedangkan Ify, walaupun Ibunya juga orang yang bisa dibilang, sangat berkecukupan, namun dia lebih bisa menahan diri. Tidak manja, namun mandiri, dan tegar. Juga, tidak suka menghamburkan uang Ibunya. Sangat amat berbeda dengan Via yang bertolak belakang dengannya. Perbedaan mereka yang sangat jelas hanya satu, Ify memiliki wajah tirus, sedangkan Via wajah yang bisa dibilang chubby.
Ify berdiri, membersihkan roknya yang sedikit berdebu.Dan kembali melirik jam tangannya.
"Shit, jadi makin telat, dah gua."
***
"Weh, Fy. Makanan tuh harusnya dimakan, bukan diliatin kayak gitu. Kalo tuh ayam masi idup, gua yakin langsung kabur gara-gara lu liatin mulu." Seru gadis berambut panjang di sebelah Ify. Risih juga tuh cewek gara-gara si Ify cuma ngeliatin ayam goreng + nasi yang tadi dipesen. Bukannya dimakan.
"..." Ify tak menjawab. Masih saja memperhatikan ayam gorengnya. Tak menyentuhnya sedikitpun.
"Mendingan buat gua deh, Fy. Kalo lu gak mau." Geram gadis itu. Tangan gadis itu meraih piring di hadapan Ify. Melihat arah pandangannya bergerak, Ify pun tersadar.
"Eeeehh !! Makanan gua, sedeengg !!" Pekik Ify sadar makanannya mau di lahap sahabatnya itu.
"Lagian dari tadi cuma diliatin mulu, mending kan buat gua. Masi laper gua." kata gadis itu mengelus perutnya. Walaupun makan banyak, tapi perut gadis itu gak terlihat buncit ataupun gendut.
"Gila, lu. Udah makan bakso semangkok, nasi goreng sepiring, siomay, sekarang ayam goreng gua juga mau di embat. Itu perut luh tangkinya seberapa sih, Shill?" cibir Ify menunjuk perut Shilla.
"Tangkinya melebihi mobil tangki yang biasanya buat ngisi bensin ke pom bensin." kata Shilla asal sambil minum orange juice miliknya.
"Gila, lu. Udah ah, gua mau makan."
BRAK !
Ify yang baru saja mau menyuapkan makanannya kaget. Hampir saja piringnya jatuh gara-gara gebrakan tadi. Sedangkan Shilla, dia tersedak gara-gara kaget juga. Ify mengangkat wajahnya. Beradu mata dengan gadis dihadapannya. Gadis yang memiliki perawakan yang sama dengannya. Via. Sivia Azizah Reynanta. Saudara kembarnya, Alyssa Saufika Reynanta. Adik kembarnya yang hanya beda 3 menit dengannya yang lahir lebih dulu.
"Minggir lu !!" Bentak Via. Terlihat dibelakangnya, dayang-dayang setianya mengikuti. Angel dan Zahra bertolak pinggang mengikuti Via. Mereka memang dayang setia Via. Si Ratu disekolah ini. SMA Yordanian, salah satu SMA Elit di Jakarta.
"Kan gua duluan yang duduk di sini, Via." kata Ify selembut mungkin.
"Gua kan udah bilang ! jangan pernah sebut nama gua ! gua jijik ngedenger nama gua yang indah ini di sebut sama cewek kayak lu ! cewek sampah !" bentak Via lagi. Angel dan Zahra maju. Menarik lengan Ify dengan kasar. Ify terjatuh di lantai kantin.
"Hahahaha. Rasain, lu. Itu salah satu akibatnya jika lu mau ngelawan gua, IFY !" kata Via dengan menekan nama Ify. Dia, Zahra dan Angel tertawa dan duduk di tempat Ify yang tadi.
"Ify,, lu gak papa?" Tanya Shilla menghampiri Ify yang masih jatuh terduduk di lantai kantin. Ify menggelengkan kepalanya. Matanya masih tertuju pada Via dan gengnya.
Tatapannya kali ini sendu. Dia sedih dengan perilaku Via yang berbeda jauh dengan yang dulu. Shilla geram melihat Via menjatuhkan piring makanan Ify dan juga minumannya. Beling berserakan dimana-mana. Piring dan gelas itu pecah, hancur.
"GILA LU SEMUA !!" teriak Shilla menunjuk Via dan gengnya. Via menoleh, diikuti Zahra dan Angel.
"Mau apa? Mau ngebela 'Sahabat' lu itu, hah ?!" kata Via dengan beberapa penekanan. Zahra dan Angel hanya cekikikan mendengar kata-kata Via. Via tersenyum kecil. Merendahkan Ify dan Shilla.
BRAK !!
Sebuah kursi plastik terlempar melewati meja Via dan gengnya. Via dan gengnya kaget. Seketika juga amarah Via meninggi. Dia berdiri dan menatap sekelilingnya geram. Ify yang memperhatikan hal itu ikut berdiri dengan cepat dan menatap sekelilingnya yang sedang menatapnya dan Via. Mata tajam Via menatap satu persatu siswa-siswa. Sedangkan Ify was-was melihat adiknya yang hampir dicium oleh kursi plastik tadi.
"Nyari gua?" Tanya sesosok lelaki tinggi dengan seragam yang awut-awutan. Lelaki itu tersenyum sinis. Dibelakangnya terlihat 3 orang lelaki lainnya. Dan juga seorang wanita yang lebih pantas disebut lelaki. Namun, dia sangat cantik sehingga dapat dipastikan dia perempuan. Perempuan itu menghampiri Ify dan Shilla. Mengajak mereka untuk mengikuti berjalan ke arah 4 cowok tadi.
"Lu ! Lu hampir nyelakain gua, tau !" teriak Via sambil menunjuk-nunjuk lelaki itu. Jarak mereka yang agak jauh membuatnya harus berteriak dua kali lipat agar terlihat galak.
"Gua kan cuma nendang kursi. Mana gua tau kalo tuh kursi punya niat buat nyium, lu. Ya gak, Vin?" kata cowok itu pada Alvin, salah satu temannya yang kini tengah asik tertawa.
"Bener banget tuh. Gila, ya tuh kursi. Nyosor cewek aja kerjaannya." Kata Alvin dengan di selingi tawa.
"Apalagi ceweknya kaya tuh anak, cakep loh." Kali ini Gabriel yang berkata. Dia hanya tersenyum merendahkan.
"Coba aja kena, udah gua foto trus gua jadiin foto mading dengan judul 'seorang gadis cantik kelas 11 di sosor kursi plastik' hahahaa." Cakka tertawa keras. Sampai-sampai memegangi perutnya.
"GILA LU SEMUA !" Via geram. Dia berjalan kearah CRAG (CakkaRioAlvinGabriel). Setelah berdiri tepat di depan Rio, tangannya bergerak hendak memukul Rio. Tapi dicegah oleh seseorang. Saudara kembarnya. Saudara tak dianggapnya.
"Jangan, Vi." kata Ify tegas. Tatapannya kini hendak membunuh Via. Walaupun begitu, Via menurut. Dia akan langsung ciut begitu Ify melepaskan tatapan tajam padanya dengan disertai kata-kata tegas.
"Gak usah ikut campur !" Via mengelak dan membuang wajahnya. Tidak berani membalas tatapan tajam Ify.
"Wah, gimana, ya. Gua sebenarnya gak mau ikut campur. Tapi kalo lu ampe berani ngelawan sama kakak kelas, apalagi mau mukul orang terutama kakak kelas, gua gak akan tinggal diam, Via. Itu artinya lu udah keterlaluan. Dan gua yang akan hentiin lu !" Ify berkata dengan tegas. Tangannya mencengkram tangan Via kuat-kuat.
"Bacotlah, lu !" Kata Via menyudahi. Ditepisnya tangan Ify dan dengan gerakan dibuat-buat, di lewatinya CRAG begitu saja, Zahra dan Angel mengikutinya.
"Gilaa, hebat juga lu, Fy. Tumben loh 'adek' kembar lu itu mau ngedengerin kata-kata lu." kata Shilla kagum. Ify hanya tersenyum kecil.
"kamu gak papa, Fy?" tanya Agni, cewek yang tadi dianggap cowok.
"Gak papa, kak. Cuma jatuh biasa, kok." kata Ify tersenyum. Rio mengalungkan lengannya dipundak Ify.
"Kalo kenapa-napa bilang aja sama kita, jangan sungkan. Kakak sepupu lu tuh temen kita. Otomatis, lu juga adek kita-kita." kata Rio tersenyum. Membuat hati Ify agak
berdegup kencang.
'gila, nih jantung. Ngapain pake dugem segala sih.' batin Ify.
"Iya, Fy. Kamu tuh gak boleh sungkan sama kakak dan teman-teman kakak. Kamu kan sepupu kakak. Dan kalo boleh jujur, kakak juga udah gak suka sama kelakuan
Via yang makin lama makin menjadi-jadi." kata Iel -Gabriel- kakak sepupu Ify dan Via.
"Iya, kak. Oh, ya. Ify sama Shilla balik dulu, yah. Udah mau bel bentar lagi." kata Ify sopan. Ify dan Shilla berlari meninggalkan CRAG+Agni di kantin setelah mereka pamit.
"Gila ya. Lu punya adik sepupu 10 kaya Via pasti langsung mati berdiri lu." kata Cakka yang lagi asik bercanda sama Agni, pacarnya.
"Satu aja udah buat gua sport jantung, Kka." kata Gabriel menikmati minumannya.
"Kaya gua dong, gak punya kakak ato adik. Sepupu pada jauh-jauh semua." kata Alvin.
"Itu mah derita lu, Vin." Rio menyahut.
"Hahaha. Hidup kita berbeda, broo. Emang inilah hidup gua. Dipenuhi dengan orang-orang aneh. Kayak kalian contohnyaa. Hahahaa." kata Gabriel tertawa.
***
BRAK !!
Terdengar suara pintu yang dibanting Via. Hatinya geram melihat Gabriel hanya memihak Ify. Padahal dia juga adik sepupunya Iel. Dia melemparkan tasnya asal dan membantingkan tubuhnya ke ranjangnya. Matanya menatap langit-langit yang sengaja di cat berwarna biru. Seperti langit. Dan itu selalu berhasil membuat hatinya sedikit lebih tenang dibandingkan tadi.
Via memutar tubuhnya. Pandangannya kini mengarah pada 3 buah figura dimeja belajar. Foto pertama adalah fotonya dengan gadis lain. Gadis yang juga memiliki perawakan sama dengannya. Gadis yang sebenarnya adalah saudara kembarnya, Ify. Gadis yang selama ini dirindukannya. Via membenci Ify, namun hatinya tak dapat membenci Ify sepenuhnya. Rasa bencinya pada Ify hanya kemauan egoisnya. Diraihnya figura yang satu lagi.
Figura yang berisi foto 2 orang. Satu lelaki dan satu lagi perempuan. Ayah dan Ibunya. Foto orang yang sangat dibenci Via namun juga sangat dicintai oleh Via. Dia merindukan dua sosok itu. Sosok orang yang dulunya selalu ada untuknya dan Ify. Namun karna mereka berdua juga, Via dan Ify menjadi seperti sekarang. Via membenci kedua orang itu. Sangat membencinya. Tangannya kembali meraih figura terakhir.
Figura berisi foto dirinya, Ify, Ayah dan Ibunya. Itu diambil saat mereka dulu masih bersatu dan sedang liburan ke makassar. Terlihat jelas dibelakangnya tulisan besar 'PANTAI LOSARI'. Salah satu tempat favorit Ify dan Via kalau ke Makassar. Via memeluk foto itu erat. Tak sadar, beberapa bulir air mata menetes di pipinya yang gembul itu. Dalam isakannya, Via berkata.
"Zia kangen Mama, Papa sama Lyssa."
***
Ify melepaskan sepatunya, menaruhnya dengan rapi di rak sepatu. Tercium aroma sedap di hidungnya. Membuatnya menjadi tergiur untuk datang ke dapur. Tempat kesukaannya di rumah selain kamarnya sendiri. Terlihat seorang wanita paruh baya sedang memasak sesuatu. Keadaan dapur menjadi sedikit kacau. Namun itu terbalaskan dengan beberapa hidangan yang menggiurkan di atas meja makan.
Ify menaruh tasnya dengan sangat pelan. Nyaris tak bersuara, dia berjalan mengendap ke arah wanita itu, Mamanya.Dipeluknya sosok itu dari belakang. Membuat wanita itu sedikit terkejut dan penggorengan mengenai tangan Ify. Karna saat itu Sang Mama hendak mengangkat wajan. Menaruh isinya di atas piring.
"Ya ampun, Ify. Makanya jangan jahil. Kena batunya kan, kamu." Keluh Mama.
"Yaelah, Ma. Gini doang mah, kecil." Kata Ify tersenyum dan menjentikkan jari kelingkingnya.
"Haaah, terserah kamu, saja. Sudah sana kamu ganti baju. Trus obatin luka kamu itu. Gak liat apa di sana sudah ada ayam goreng mentega kesukaan kamu?"
"Iya, Ma. Ini juga Ify mau ganti baju. Eh, Ma..."
"Kenapa, sayang?"
"Ify cuma mau bilang kalo Ify sayang sama Mama dan.."
"Dan ??"
"Dan jangan abisin ayam mentega Ify.." Kata Ify berlari menuju kamarnya. Tante Gina - Mama Ify - hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan putrinya ini.
"Seandainya Mama bisa melihat kamu dan Via tumbuh bersama." batin Tante Gina.
Bersambung...
Gimana ? jelek yah ? ada yg kurang gak ? tolong coment dn kritik nya ya ke @chikaStevadit atau wall fb chika_priska@yahoo.com jgn jadi silent readers ya guys. thankiss :*
BRUK !
"Aiish.." pekik gadis itu.
"Heh ! Lu tuh tetep aja yah gak bisa liat jalan apa ?!!" Bentak gadis yang ditabrak. Kedua gadis itu terjatuh.
"Idiih, gua tuh gak sengaja, Via."
"Heh ! Ga usah sebut-sebut nama gua ! Ga sudi nama gua yang indah itu disebut sama orang menyedihkan kaya lu, Ify !!" Bentak gadis bernama Via itu. Berdiri dan kembali berjalan menjauhi Ify. Ify hanya menghela nafas.
Padahal mereka adalah saudara kembar, identik sekali. Namun, sejak kecil mereka sudah dipisahkan karena perceraian kedua orangtuanya. Via ikut ayahnya. Semua keinginannya diberi. Membuat Via menjadi manja dan egois. Sedangkan Ify, walaupun Ibunya juga orang yang bisa dibilang, sangat berkecukupan, namun dia lebih bisa menahan diri. Tidak manja, namun mandiri, dan tegar. Juga, tidak suka menghamburkan uang Ibunya. Sangat amat berbeda dengan Via yang bertolak belakang dengannya. Perbedaan mereka yang sangat jelas hanya satu, Ify memiliki wajah tirus, sedangkan Via wajah yang bisa dibilang chubby.
Ify berdiri, membersihkan roknya yang sedikit berdebu.Dan kembali melirik jam tangannya.
"Shit, jadi makin telat, dah gua."
***
"Weh, Fy. Makanan tuh harusnya dimakan, bukan diliatin kayak gitu. Kalo tuh ayam masi idup, gua yakin langsung kabur gara-gara lu liatin mulu." Seru gadis berambut panjang di sebelah Ify. Risih juga tuh cewek gara-gara si Ify cuma ngeliatin ayam goreng + nasi yang tadi dipesen. Bukannya dimakan.
"..." Ify tak menjawab. Masih saja memperhatikan ayam gorengnya. Tak menyentuhnya sedikitpun.
"Mendingan buat gua deh, Fy. Kalo lu gak mau." Geram gadis itu. Tangan gadis itu meraih piring di hadapan Ify. Melihat arah pandangannya bergerak, Ify pun tersadar.
"Eeeehh !! Makanan gua, sedeengg !!" Pekik Ify sadar makanannya mau di lahap sahabatnya itu.
"Lagian dari tadi cuma diliatin mulu, mending kan buat gua. Masi laper gua." kata gadis itu mengelus perutnya. Walaupun makan banyak, tapi perut gadis itu gak terlihat buncit ataupun gendut.
"Gila, lu. Udah makan bakso semangkok, nasi goreng sepiring, siomay, sekarang ayam goreng gua juga mau di embat. Itu perut luh tangkinya seberapa sih, Shill?" cibir Ify menunjuk perut Shilla.
"Tangkinya melebihi mobil tangki yang biasanya buat ngisi bensin ke pom bensin." kata Shilla asal sambil minum orange juice miliknya.
"Gila, lu. Udah ah, gua mau makan."
BRAK !
Ify yang baru saja mau menyuapkan makanannya kaget. Hampir saja piringnya jatuh gara-gara gebrakan tadi. Sedangkan Shilla, dia tersedak gara-gara kaget juga. Ify mengangkat wajahnya. Beradu mata dengan gadis dihadapannya. Gadis yang memiliki perawakan yang sama dengannya. Via. Sivia Azizah Reynanta. Saudara kembarnya, Alyssa Saufika Reynanta. Adik kembarnya yang hanya beda 3 menit dengannya yang lahir lebih dulu.
"Minggir lu !!" Bentak Via. Terlihat dibelakangnya, dayang-dayang setianya mengikuti. Angel dan Zahra bertolak pinggang mengikuti Via. Mereka memang dayang setia Via. Si Ratu disekolah ini. SMA Yordanian, salah satu SMA Elit di Jakarta.
"Kan gua duluan yang duduk di sini, Via." kata Ify selembut mungkin.
"Gua kan udah bilang ! jangan pernah sebut nama gua ! gua jijik ngedenger nama gua yang indah ini di sebut sama cewek kayak lu ! cewek sampah !" bentak Via lagi. Angel dan Zahra maju. Menarik lengan Ify dengan kasar. Ify terjatuh di lantai kantin.
"Hahahaha. Rasain, lu. Itu salah satu akibatnya jika lu mau ngelawan gua, IFY !" kata Via dengan menekan nama Ify. Dia, Zahra dan Angel tertawa dan duduk di tempat Ify yang tadi.
"Ify,, lu gak papa?" Tanya Shilla menghampiri Ify yang masih jatuh terduduk di lantai kantin. Ify menggelengkan kepalanya. Matanya masih tertuju pada Via dan gengnya.
Tatapannya kali ini sendu. Dia sedih dengan perilaku Via yang berbeda jauh dengan yang dulu. Shilla geram melihat Via menjatuhkan piring makanan Ify dan juga minumannya. Beling berserakan dimana-mana. Piring dan gelas itu pecah, hancur.
"GILA LU SEMUA !!" teriak Shilla menunjuk Via dan gengnya. Via menoleh, diikuti Zahra dan Angel.
"Mau apa? Mau ngebela 'Sahabat' lu itu, hah ?!" kata Via dengan beberapa penekanan. Zahra dan Angel hanya cekikikan mendengar kata-kata Via. Via tersenyum kecil. Merendahkan Ify dan Shilla.
BRAK !!
Sebuah kursi plastik terlempar melewati meja Via dan gengnya. Via dan gengnya kaget. Seketika juga amarah Via meninggi. Dia berdiri dan menatap sekelilingnya geram. Ify yang memperhatikan hal itu ikut berdiri dengan cepat dan menatap sekelilingnya yang sedang menatapnya dan Via. Mata tajam Via menatap satu persatu siswa-siswa. Sedangkan Ify was-was melihat adiknya yang hampir dicium oleh kursi plastik tadi.
"Nyari gua?" Tanya sesosok lelaki tinggi dengan seragam yang awut-awutan. Lelaki itu tersenyum sinis. Dibelakangnya terlihat 3 orang lelaki lainnya. Dan juga seorang wanita yang lebih pantas disebut lelaki. Namun, dia sangat cantik sehingga dapat dipastikan dia perempuan. Perempuan itu menghampiri Ify dan Shilla. Mengajak mereka untuk mengikuti berjalan ke arah 4 cowok tadi.
"Lu ! Lu hampir nyelakain gua, tau !" teriak Via sambil menunjuk-nunjuk lelaki itu. Jarak mereka yang agak jauh membuatnya harus berteriak dua kali lipat agar terlihat galak.
"Gua kan cuma nendang kursi. Mana gua tau kalo tuh kursi punya niat buat nyium, lu. Ya gak, Vin?" kata cowok itu pada Alvin, salah satu temannya yang kini tengah asik tertawa.
"Bener banget tuh. Gila, ya tuh kursi. Nyosor cewek aja kerjaannya." Kata Alvin dengan di selingi tawa.
"Apalagi ceweknya kaya tuh anak, cakep loh." Kali ini Gabriel yang berkata. Dia hanya tersenyum merendahkan.
"Coba aja kena, udah gua foto trus gua jadiin foto mading dengan judul 'seorang gadis cantik kelas 11 di sosor kursi plastik' hahahaa." Cakka tertawa keras. Sampai-sampai memegangi perutnya.
"GILA LU SEMUA !" Via geram. Dia berjalan kearah CRAG (CakkaRioAlvinGabriel). Setelah berdiri tepat di depan Rio, tangannya bergerak hendak memukul Rio. Tapi dicegah oleh seseorang. Saudara kembarnya. Saudara tak dianggapnya.
"Jangan, Vi." kata Ify tegas. Tatapannya kini hendak membunuh Via. Walaupun begitu, Via menurut. Dia akan langsung ciut begitu Ify melepaskan tatapan tajam padanya dengan disertai kata-kata tegas.
"Gak usah ikut campur !" Via mengelak dan membuang wajahnya. Tidak berani membalas tatapan tajam Ify.
"Wah, gimana, ya. Gua sebenarnya gak mau ikut campur. Tapi kalo lu ampe berani ngelawan sama kakak kelas, apalagi mau mukul orang terutama kakak kelas, gua gak akan tinggal diam, Via. Itu artinya lu udah keterlaluan. Dan gua yang akan hentiin lu !" Ify berkata dengan tegas. Tangannya mencengkram tangan Via kuat-kuat.
"Bacotlah, lu !" Kata Via menyudahi. Ditepisnya tangan Ify dan dengan gerakan dibuat-buat, di lewatinya CRAG begitu saja, Zahra dan Angel mengikutinya.
"Gilaa, hebat juga lu, Fy. Tumben loh 'adek' kembar lu itu mau ngedengerin kata-kata lu." kata Shilla kagum. Ify hanya tersenyum kecil.
"kamu gak papa, Fy?" tanya Agni, cewek yang tadi dianggap cowok.
"Gak papa, kak. Cuma jatuh biasa, kok." kata Ify tersenyum. Rio mengalungkan lengannya dipundak Ify.
"Kalo kenapa-napa bilang aja sama kita, jangan sungkan. Kakak sepupu lu tuh temen kita. Otomatis, lu juga adek kita-kita." kata Rio tersenyum. Membuat hati Ify agak
berdegup kencang.
'gila, nih jantung. Ngapain pake dugem segala sih.' batin Ify.
"Iya, Fy. Kamu tuh gak boleh sungkan sama kakak dan teman-teman kakak. Kamu kan sepupu kakak. Dan kalo boleh jujur, kakak juga udah gak suka sama kelakuan
Via yang makin lama makin menjadi-jadi." kata Iel -Gabriel- kakak sepupu Ify dan Via.
"Iya, kak. Oh, ya. Ify sama Shilla balik dulu, yah. Udah mau bel bentar lagi." kata Ify sopan. Ify dan Shilla berlari meninggalkan CRAG+Agni di kantin setelah mereka pamit.
"Gila ya. Lu punya adik sepupu 10 kaya Via pasti langsung mati berdiri lu." kata Cakka yang lagi asik bercanda sama Agni, pacarnya.
"Satu aja udah buat gua sport jantung, Kka." kata Gabriel menikmati minumannya.
"Kaya gua dong, gak punya kakak ato adik. Sepupu pada jauh-jauh semua." kata Alvin.
"Itu mah derita lu, Vin." Rio menyahut.
"Hahaha. Hidup kita berbeda, broo. Emang inilah hidup gua. Dipenuhi dengan orang-orang aneh. Kayak kalian contohnyaa. Hahahaa." kata Gabriel tertawa.
***
BRAK !!
Terdengar suara pintu yang dibanting Via. Hatinya geram melihat Gabriel hanya memihak Ify. Padahal dia juga adik sepupunya Iel. Dia melemparkan tasnya asal dan membantingkan tubuhnya ke ranjangnya. Matanya menatap langit-langit yang sengaja di cat berwarna biru. Seperti langit. Dan itu selalu berhasil membuat hatinya sedikit lebih tenang dibandingkan tadi.
Via memutar tubuhnya. Pandangannya kini mengarah pada 3 buah figura dimeja belajar. Foto pertama adalah fotonya dengan gadis lain. Gadis yang juga memiliki perawakan sama dengannya. Gadis yang sebenarnya adalah saudara kembarnya, Ify. Gadis yang selama ini dirindukannya. Via membenci Ify, namun hatinya tak dapat membenci Ify sepenuhnya. Rasa bencinya pada Ify hanya kemauan egoisnya. Diraihnya figura yang satu lagi.
Figura yang berisi foto 2 orang. Satu lelaki dan satu lagi perempuan. Ayah dan Ibunya. Foto orang yang sangat dibenci Via namun juga sangat dicintai oleh Via. Dia merindukan dua sosok itu. Sosok orang yang dulunya selalu ada untuknya dan Ify. Namun karna mereka berdua juga, Via dan Ify menjadi seperti sekarang. Via membenci kedua orang itu. Sangat membencinya. Tangannya kembali meraih figura terakhir.
Figura berisi foto dirinya, Ify, Ayah dan Ibunya. Itu diambil saat mereka dulu masih bersatu dan sedang liburan ke makassar. Terlihat jelas dibelakangnya tulisan besar 'PANTAI LOSARI'. Salah satu tempat favorit Ify dan Via kalau ke Makassar. Via memeluk foto itu erat. Tak sadar, beberapa bulir air mata menetes di pipinya yang gembul itu. Dalam isakannya, Via berkata.
"Zia kangen Mama, Papa sama Lyssa."
***
Ify melepaskan sepatunya, menaruhnya dengan rapi di rak sepatu. Tercium aroma sedap di hidungnya. Membuatnya menjadi tergiur untuk datang ke dapur. Tempat kesukaannya di rumah selain kamarnya sendiri. Terlihat seorang wanita paruh baya sedang memasak sesuatu. Keadaan dapur menjadi sedikit kacau. Namun itu terbalaskan dengan beberapa hidangan yang menggiurkan di atas meja makan.
Ify menaruh tasnya dengan sangat pelan. Nyaris tak bersuara, dia berjalan mengendap ke arah wanita itu, Mamanya.Dipeluknya sosok itu dari belakang. Membuat wanita itu sedikit terkejut dan penggorengan mengenai tangan Ify. Karna saat itu Sang Mama hendak mengangkat wajan. Menaruh isinya di atas piring.
"Ya ampun, Ify. Makanya jangan jahil. Kena batunya kan, kamu." Keluh Mama.
"Yaelah, Ma. Gini doang mah, kecil." Kata Ify tersenyum dan menjentikkan jari kelingkingnya.
"Haaah, terserah kamu, saja. Sudah sana kamu ganti baju. Trus obatin luka kamu itu. Gak liat apa di sana sudah ada ayam goreng mentega kesukaan kamu?"
"Iya, Ma. Ini juga Ify mau ganti baju. Eh, Ma..."
"Kenapa, sayang?"
"Ify cuma mau bilang kalo Ify sayang sama Mama dan.."
"Dan ??"
"Dan jangan abisin ayam mentega Ify.." Kata Ify berlari menuju kamarnya. Tante Gina - Mama Ify - hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan putrinya ini.
"Seandainya Mama bisa melihat kamu dan Via tumbuh bersama." batin Tante Gina.
Bersambung...
Gimana ? jelek yah ? ada yg kurang gak ? tolong coment dn kritik nya ya ke @chikaStevadit atau wall fb chika_priska@yahoo.com jgn jadi silent readers ya guys. thankiss :*
Best Coin Casino Sites and Bonuses in Australia - Casinowowowed.com
BalasHapusBest Coin Casino Sites: kadangpintar 100% Welcome Bonus ✓ 인카지노 Exclusive offers ✓ Deposit Options septcasino ✓ New Online Casinos with Fast Support.