Rabu, 22 Mei 2013

Ikatan Batin [7]

Tante Gina berdiri di depan ruang ICU. Tangannya di satukan. Tubuhnya sedikit bergetar. Air mata turun dari mata indahnya. Iel mencoba menenangkan Tantenya itu. Namun apa daya, dia tidak dapat. Tante Gina begitu sayang akan Ify. Semenjak Ify dan Via di pisahkan. Apalagi kondisi Ify yang lebih lemah dibandingkan Via. Padahal dia yang lahir lebih dulu.

Sudah lebih dari setengah jam Tante Gina berdiri, menunggu dokter keluar dari ruang ICU. Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Dengan dua orang suster yang berjalan ke arah meja resepsionis.

"Bagaimana keadaan anak saya, Dok ?" Tanya Tante Gina.

"Tenang saja, Bu. Anak Ibu tidak apa-apa. Mungkin hanya karena kesehatan tubuhnya yang memang lebih rentan daripada kita yang di sini. Dan lagi, sepertinya keadaan jiwanya agak tergoncang. Menyebabkan dia drop." Jawab Dokter tersebut.

"Tapi, dia tidak apa-apa kan, Dok ?" Iel membuka mulut.

"Tidak apa-apa. Untuk kali ini, dia tidak apa-apa." Jawab Dokter tersebut.

"Untuk kali ini ?" Iel mengerutkan kening.

"Ya, untuk kali ini dia tidak apa-apa. Tapi, lebih baik kalian semua jangan membuat anak itu banyak pikiran. Karena kalau dia banyak pikiran, itu akan mengganggu kesehatan tubuhnya. Dan bisa menyebabkan dia drop kembali. Bahkan bisa yang lebih fatal. Mengingat kesehatan tubuhnya memang rendah." Jelas Dokter.

"Baik, Dok." Iel menjawab lemah.

"Kalau begitu saya tinggal, ya." Kata Dokter tersebut. Iel dkk dan Tante Gina mengangguk.



"Permisi, Saudari Ify akan kami pindahkan ke ruang perawatan biasa sebentar lagi. Saya butuh tanda tangan wali atau orangtua untuk mengurus administrasi dan juga beberapa berkas lainnya." Jelas seorang suster.

"Saya yang akan menandatangani itu semua, Sus." Kata Iel.

"Gak usah, Yel. Biar Tante aja." Cegah Tante Gina.

"Tante, lebih baik Tante dan yang lainnya nemenin Ify di ruang perawatan. Biar Iel aja yang tanda tanganin semua ini. Papa dan Mama pasti mau mengerti, Tan."

"Tapi, Yel. Tante jadi gak enak sama keluarga kamu. Lagian, kalau hanya bayar rumah sakit saja, Tante juga sanggup."

"Ini bukan soal sanggup atau enggaknya, Tan. Tapi ini soal kesehatan Ify. Yang di butuhkan Ify saat ini adalah sosok Ibu yang berada di sampingnya. Jadi lebih baik Tante
nemenin Ify. Tetap di samping Ify untuk beberapa saat ke depan. Jagain Ify."

"Baik. Tante menyerah. Terserah kamu saja. Nanti biar Tante ganti semua biayanya." Gabriel tersenyum mendengar perkataan Tante nya itu dan berjalan ke meja resepionis.

***

Ini sudah seminggu setelah kasus penculikan Via dan Ayahnya. Ify masih di rumah sakit. Walaupun sudah sadar, kesehatan tubuhnya belum membaik. Tante Gina masih setia menemani Ify di rumah sakit. Sedangkan Iel dan yang lainnya masih harus tetap masuk sekolah. Walaupun mereka selalu menjenguk Ify tiap hari. Dan ikut membantu penyelidikan kasus Via dan Ayahnya.

"Ify, sayang.." Panggil Tante Gina.

"Kenapa, Ma ?" Jawab Ify menatap ke jendela. Tatapannya kosong.

"Lyssa kangen sama Zia?"

"Kangen banget. Lyssa kangen banget sama Zia. Juga sama Papa."

"Mama juga, sayang."

"Kapan, Ma?"

"Kapan apa ?"

"Kapan mereka kembali ?"

"Mama belum tau, sayang. Polisi, Iel dan teman-temannya juga mencari mereka."

"Lyssa takut, Ma."

"Takut apa, sayang?"

"Lyssa takut Zia dan Papa kenapa-napa."

"Tenang, sayang. Mereka akan baik-baik saja. Kita berdoa saja, yah." Perkataan Tante Gina barusan membuat Ify mengangguk. Mereka berdua berdoa untuk keselamatan anggota keluarga mereka yang lain.

***

"Bagaimana, Pak? Apa sudah ada kemajuan ?" Tanya Iel pada seorang polisi. Kali ini, Iel dan Alvin pergi ke kantor polisi untuk menanyakan kabar penyelidikan kasus Via dan Ayahnya.

"Belum. Kami masih menelusuri bukti-bukti dari rumah tersebut. Tapi sampai saat ini, belum ada yang menunjukkan kami pada satu titik." Jelas polisi tersebut.

"Yasudahlah, Pak. Kalau memang kami ada bukti, kami akan memberitahukan kepada pihak polisi. Kami juga akan membantu sebaik mungkin." Jelas Alvin.

"Baik. Terima kasih juga pada bantuan kalian pada penyelidikan ini."

"Tentu saja, Pak. Mereka keluarga saya. Keluarga kami." Kata Iel tegas. Polisi itu mengangguk.

***

"IFYY !!!!!"

"IPOOONNNGGGG !!!!!!!"



Teriakan dari teman-temannya itu membuat Ify menoleh dan menutup kedua telinganya. Sedangkan Tante Gina hanya tersenyum kecil melihat kelakuan teman anaknya itu.


"Heh ! Ini tuh rumah sakit ! Bukan hutan !" Ify marah-marah.

"Hehee.. Maaf, Fy. Kan kita kangen sama lu." Shilla berjalan memeluk Ify.

"Kangen ? Perasaan kalian semua kesini tiap hari, deh." Kata Ify. Balas memeluk Shilla dengan senyuman menghiasi wajahnya.

"Tapi kan di sekolah kagak ketemu, Fy." Cakka menjawab.

"Emang kenapa kalo di sekolah gak ketemu ?" Ify mengerutkan kening. Menatap Shilla bingung.

"Soalnya gak ada yang bisa di isengin di sekolah." Sahut Rio.

"Sialan lu, Yo !" Kata Ify sembari melempar apel yang berada di sampingnya.

"Eits ! Gak kena, Weeekk.."

"Ni anak berdua malah pacaran.. Ckckck.." Iel geleng-geleng kepala melihat teman dan sepupunya malah berantem.

"Lu minta di timpuk apel juga, Yel ?" Kata Rio melempar-lempar apel di tangannya. Iel menoleh pada Rio dan Ify bergantian sambil menunjukkan jarinya yang berbentuk
'V' sambil nyengir.

"Udah, deh, udah. Kalian ini kalo udah ketemu gak pernah ya gak saling ledek." Kata Tante Gina sambil tertawa-tawa.


Tiba-tiba, Ify merasa tubuhnya melemah. Seakan-akan ada yang memukulnya dengan keras. Ify memegang dadanya sambil menutup matanya. Seakan menahan rasa sakit di dadanya. Perasaannya langsung tidak enak. Pikirannya melayang pada Via.


"Fy, kamu kenapa?" Tanya Tante Gina. Ify tidak menjawab. Masi menahan rasa sakitnya.

"Ify, kenapa?" Tanya Iel pula. Mendekat pada Ify.

"Ipong, lu kenapa?" Tanya Shilla. Yang lainnya langsung menatap Ify dengan tatapan cemas.

"Fy? Fy? Ify !!!" Teriak Tante Gina saat tiba-tiba Ify pingsan. Ify pingsan, LAGI !

***

Sedangkan di suatu tempat, tepatnya di sebuah rumah kecil, Via dan Ayahnya kembali di siksa. Mereka di sekap di sebuah rumah kecil yang di jaga oleh 5 orang lelaki berbadan kekar. Kekuatan Via dan Ayahnya tidak dapat melawan mereka berlima. Terlihat ayah Via yang tidak dapat lagi bergerak. Badannya memar-memar habis di pukuli. Juga darah yang keluar dari beberapa luka yang lumayan fatal. Sedangkan Via, kali ini mereka memukuli Via dengan ganas. Karena Via tidak kunjung menjawab semua yang di tanyakan.

"JAWAB ! DIMANA BOKAP LU NYEMBUNYIIN DUITNYA ?!!" teriak salah satu lelaki itu.

"Saya.. saya tidak tau !" Jawab Via menahan sakit di tangan dan kedua pipinya.

"GAK MUNGKIN LU GAK TAU ! LU ANAKNYA !" teriak lelaki itu lagi, kali ini sambil menampar Via. Via terjatuh. Tubuhnya sudah tidak kuat berdiri lagi.

"Hem.. kalo di liat-liat, wajah lu cantik juga." Kata lelaki itu sambil memegangi wajah Via. Via ketakutan. Air matanya terjatuh.

"Ka.. kalian.. kalian mau apa ?" Kata Via berjalan mundur. Berusaha mendekati ayahnya.

"Kita gak ngapa-ngapain kok. Cuma mau lu doang. Lu cantik loh. Manis pula."

"Kalian.. kalian jangan macam-macam."

"Kita gak macem-macem kok. Cuma satu macem aja."

"Jangan !!" Teriak Via saat salah satu lelaki itu berusaha membuka baju Via.

"JANGANN !!!!!" Teriakan Via semakin kencang. Namun apa daya, tubuh dan kekuatan lelaki itu lebih kuat. Sedangkan ayahnya sudah pingsan dan tak berdaya. Baju Via telah di lepas paksa. Lebih tepatnya di sobek secara kasar.

1 komentar: