Rabu, 08 Mei 2013

Ikatan Batin [6]

Ify yang tengah bosan itu menatap laptopnya. Entah sudah berapa bulan laptop itu tidak dia sentuh. Alasannya karna malas dan sedang sibuk. Ify mengangkat kedua bahunya dan berjalan menuju laptopnya di atas meja belajar.

"Maen twitter ah, udah lama tuh twitter gua diemin." Ujar Ify iseng.

Baru juga dia membuka akun Twitternya dan mengklik ikon 'Mention', terlihat mention-mention tidak penting dari Rio dkk, Shilla dan juga beberapa yang lainnya.

@riostevadit
Wohoooooooyyyyy !!! @gabrielstev @Iamalvinjo_ @CakkaNRG @AgniAgniAza @Ashillazhrntiara @IfyAlyssa

@gabrielstev
Ha ?? "@riostevadit Wohoooooooyyyyy !!! @gabrielstev @Iamalvinjo_ @CakkaNRG @AgniAgniAza @Ashillazhrntiara @IfyAlyssa"

@CakkaNRG
Gila lu yo ? "@riostevadit Wohoooooooyyyyy !!! @gabrielstev @Iamalvinjo_ @CakkaNRG @AgniAgniAza @Ashillazhrntiara @IfyAlyssa"

@Iamalvinjo_
RT "@CakkaNRG Gila lu yo ? @riostevadit Wohoooooooyyyyy !!! @gabrielstev @Iamalvinjo_ @CakkaNRG @AgniAgniAza @Ashillazhrntiara @IfyAlyssa"

@riostevadit
hei kau kurus ! @IfyAlyssa

@Ashillazhrntiara
Ipong ! @IfyAlyssa

@AgniAgniAza
Fy, main yuk ! @IfyAlyssa

@Ashillazhrntiara
Ify doang yg d ajk kak? "@AgniAgniAza Fy, main yuk ! @IfyAlyssa"

@CakkaNRG
RT ! "@Ashillazhrntiara Ify doang yg d ajk kak? "@AgniAgniAza Fy, main yuk ! @IfyAlyssa"

Dan masih banyak mention-mention gak jelas yang menumpuk. Ify tersenyum kecil dan mulai mengetik sesuatu. Setelah selesai, di tekannya 'Tweet'

@IfyAlyssa 1s 22.37
Fans gua nih ! byk bgt mention dri mreka ! @Ashillazhrntiara @AgniAgniAza @riostevadit @gabrielstev @CakkaNRG @Iamalvinjo_


Kebetulan di saat yang sama, Via sedang on twitter juga dan melihat tweet Ify yang paling terakhir. Dia bergidik dan menuliskan sesuatu.

@Viazizah 1s 22.39
Najong ! gtu doang bangga ! Cuih ! Sadar dri mbakbroo~ masi bykan gua kali fansnya.Ck

***

Via terbangun pukul 2 pagi. Dia tak bisa tidur lagi. Entah apa yang membangunkannya. Namun, hatinya tidak tenang.

"Aelah, palingan cuma perasaan gua doang." Kata Via kembali merebahkan tubuhnya dan menutup matanya.

"Aih, gua jadi gak bisa tidur lagi. Cari susu lah di dapur." Kata Via dan langsung pergi menuju dapur.

Saat tiba di dapur, Via mendengar suara krasak-krusuk dari arah ruangan ayahnya.Via mengerutkan keningnya.

"Gak mungkin jem segini Papa masih bangun dan kerja." Kata Via. Dia mengambil tongkat kecil yang memang ada di dapur. Untuk berjaga-jaga.

Saat hampir sampai di ruang kerja ayahnya, Via mendengar suara orang berbisik-bisik. Bukan hanya satu atau dua. Mungkin lebih. Sekitar tiga empat orang. Via mengeratkan pegangannya pada tongkat itu. Dan mendorong pintu ruangan tersebut pelan. Karna memang pintunya sedang terbuka sedikit saat itu. Terlihat ayah Via yang sedang terikat di kursi dengan darah segar mengucur dari kepalanya. Via menutup mulutnya dan menahan suara jeritannya.

Air mata mengalir di pipinya. Tak tahan melihat ayahnya yang sedang tak berdaya itu. Benar dugaan Via, ada 4 orang lelaki dengan pakaian hitam mengelilingi ayahnya. Satu lagi sedang mengacak-acak isi meja kerja ayahnya. Via mencari hp nya. Untung tadi dia sempat membawa hpnya itu. Hanya satu nama yang terlintas di benaknya saat ini. Alvin !

Jari Via mulai bergerak dengan lincah di atas keypad hapenya itu. Send ! Via menggigit bibirnya dan berjalan mundur agar tak terlihat orang-orang itu. Namun, apa yang Tuhan kehendakkan berbeda. Via tak sengaja menabrak meja dan menjatuhkan vas bunga. Via langsung gemetar. Tak bisa bergerak sedikitpun. Pandangannya tertuju pada pintu ruang kerja ayahnya yang kini tengah berdiri seorang lelaki berpakaian hitam tadi.Di tangannya terdapat balok berukuran sedang. Yang terkahir kali Via lihat, balok itu bergerak ke arah belakang badannya. Dan pandangannya gelap seketika.

***

Pagi ini Alvin terbangun jam 5 pagi. Dia mengucek matanya dan berdiri di balkon kamarnya. Menikmati udara pagi yang masih segar itu. Alvin mengambil handuknya dan berjalan menuju kamar mandi.

Jam 6 lewat 15 menit Alvin turun ke lantai satu. Tepatnya dapur. Terlihat Omanya yang sedang menyiapkan makanan itu. Alvin tersenyum kecil melihat Omanya yang memang rajin itu. Kekayaan keluarganya pun telah di lanjutkan oleh Oma nya. Walaupun terkadang Alvin ikut membantu beberapa proyek.

"Pagi, Oma." Sapa Alvin.

"Oh, pagi, Vin. Ini, makan dulu roti nya." Kata Oma. Alvin mengangguk dan memakan roti tersebut. Tak lama kemudian, Alvin melirik jam tangannya. 6 lewat 30. Dia harus
jalan sekarang kalau gak mau telat.

"Oma, Alvin jalan sekarang, yah. Takut kesiangan." Kata Alvin.

"Iya, hati-hati, ya, Vin." Kata Oma. Alvin mengangguk dan mencium pipi Oma nya.

***

Alvin menaruh tasnya di samping Gabriel. Gabriel, Rio, Ozy, Cakka dan Agni yang sedang bercengkrama itu langsung menoleh.

"Tumben gak telat, mas?" tanya Cakka.

"Bangunnya kepagian." Sahut Alvin.

"Tumben." Kata Rio. Alvin mengangkat kedua bahunya.



Sedangkan yang lain kembali sibuk dengan obrolannya, Alvin memilih memainkan bb nya. Terlihat satu bbm yang belum di bacanya.

"Dari Via?" batin Alvin.

Sivia Azizah : Vin ! Tolongin gua !

Alvin mengerutkan keningnya. Bingung dengan isi pesan dari Via itu. Singkat, namun tidak dapat dimengerti olehnya.

"Ngapain lu, Vin ?" Tanya Iel.

"Nih, bbm dari sodara lu." Kata Alvin menyerahkan bb nya. Wajah Iel langsung pucat.

"Kenapa, Yel?" Tanya Rio yang melihat perubahan wajah Iel.

"Ayo kita ke Ify sekarang !" Kata Iel.

"Bentar lagi masuk, Yel." Kata Cakka.

"Hari ini Pak Dodi gak masuk !" Kata Iel membawa bb Alvin keluar kelas.

***

*Kelas Ify*

Bel masuk sudah berbunyi dari tadi, namun guru tak kunjung masuk ke ruang kelas Ify. Hanya pesan singkat di papan tulis yang sedari tadi pagi sudah ada di sana. Ify dan Shilla sibuk mengerjakan tugas dari guru tersebut. Begitu juga anak-anak yang lain. Walaupun kelas masih terdegar berisik. Tiba-tiba pintu kelas terbuka. Pandangan semua orang tertuju di sana.

"Ngapain mereka ?"batin Ify. Shilla menyikut Ify. Menanyakan ada apa. Namun Ify hanya mengangkat bahunya.

"Ify, Shilla, keluar bentar, tolong." Kata Iel. Membuat Ify dan Shilla saling pandang. Namun tetap berjalan keluar kelas. Mengikuti Iel dkk.

"Kenapa, kak ?" Tanya Ify.

"Nih." kata Iel menyerahkan bb Alvin. Ify dan Shilla mengerutkan kening dan mulai membaca apa yang tertulis di sana.


Sivia Azizah : Vin ! Tolongin gua !

bbm singkat dari Via itu langsung menusuk hati Ify. Perasaannya langsung tidak enak. Entah apa yang terjadi. Namun, perasaannya tidak enak. Pikirannya melayang entah kemana. Wajahnya tak kalah pucat dengan wajah Iel tadi. Ify langsung lemas. Untung saja Rio sigap memapah Ify untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan di depan setiap ruang kelas.

"Fy, hari ini Via masuk ?" tanya Iel pelan. Tidak ingin adik sepupunya ini drop. Ify menggeleng pelan.

"Kemarin dia ada ngomong yang aneh-aneh ?" Tanya nya lagi. Ify kembali menjawab dengan gelengan.

"Perasaan kamu gak enak, Fy?" Iel kembali bertanya. Namun lebih pelan. Kali ini Ify mengangguk. Dan tanpa di sadarinya, air matanya jatuh. Tangannya memegang
dadanya.

"Sesak, Kak." kata Ify. Iel memeluk Ify.

"Tenang, Fy. Tenang." Kata Iel menenangkan.

"Perasaan Ify gak enak. Takut, sesak, sakit, pedih, kak."

"Tenang, Fy. Kita mesti kerumah Via buat mastiin ini semua gak seperti yang kita bayangkan." kata Iel. Ify mengangguk. Begitu juga yang lainnya.

"Ayo berangkat. Biar gua yang bikin ijinnya." Kata Ozy. Iel tersenyum seakan berterima kasih pada Ozy.

***

*Rumah Via*

Banyak mobil polisi yang berada di depan rumah Via. Garis polisi telah melintangi setiap sudut rumah itu. Perasaan Ify kembali tidak enak. Dia merasa Via sedang dalam bahaya. Sejak tadi dia coba menghubungi handphone Via, namun tidak sambung. Matanya tertuju pada satu polisi yang saat itu sedang berjaga di luar rumah. Menjadga massa yang hendak meliput.

"Permisi, pak. Orang yang tinggal di rumah ini kenapa?" tanya Ify sopan. Juga pelan.

"Kamu siapa nya ?" Tanya polisi itu.

"Saya kakak kembar dari anak perempuan yang tinggal di sini. Ayah dan ibu kami cerai dan menyebabkan kami harus berpisah, pak." Jelas Ify. Polisi itu melirik temannya dan memberi kode untuk berjaga di depan dengan polisi lainnya.

"Dan mereka itu ?"

"Mereka teman saya, pak. Mereka teman dari adik kembar saya pula."

"Apakah kamu bisa memastikan bahwa kamu memang kakaknya ?"

"Bisa, saya punya foto saat kami masih bayi dan juga foto terakhir sebelum kami berpisah." Ify mengeluarkan dua lembar foto dari dompetnya dan menyerahkan pada polisi tersebut.

"Mari ikut saya ke dalam." Kata polisi itu disertai anggukan dari Ify dkk.


Sesampainya di ruang tamu rumah Via, Ify menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya melemas. Air matanya kembali jatuh. Ruang tamu dan mungki seluruh rumah ini telah acak-acakan. Habis di amuk oleh seseorang. Ify tak sanggup melihat dan memilih untuk memejamkan matanya. Rio memeluk Ify erat. Dan membiarkan Ify membenamkan wajahnya di dada Rio.

"Pak, apa yang terjadi di sini ? Kenapa.. kenapa ini semua.." Kata-kata Iel terputus-putus. Wajahnya kembali memucat. Agni dan Shilla menangis. Tak sanggup melihat kekacauan di rumah ini.

"Jadi begini. Tadi pagi, sebuah telepon dari tetangga sebelah masuk ke kantor kami. Beliau bilang, bahwa pukul 4 pagi mendengar suara berisik, suara teriakan dan juga suara pistol dari rumah ini. Kami langsung datang ke rumah ini dan bersiap-siap. Namun saat kami tiba di sini, rumah ini sudah dalam keadaan kacau. Apalagi di ruang kerja di sana itu. Ada kursi dengan tali yang menandakan seseorang tadinya sedang di ikat di sana. Juga balok dengan sedikit darah di ujungnya yang menandakan seseorang dipukul hingga terluka. Namun, orang yang tinggal di rumah ini hingga kini belum di temukan. Tidak dapat kami pastikan mereka masih hidup atau tidak." Jelas polisi itu.

Tangisan Ify semakin kencang. Kata-kata polisi itu sungguh mengena di hatinya. Entah apa yang sedang terjadi pada Via dan ayahnya kini. Perasaannya tak tenang. Begitu juga Agni dan Shilla yang tak kalah histerisnya.

"Shh,, tenang, Fy. Tenang." Hibur Rio.

"Gimana gua bisa tenang, Yo. Adik sama Papa gua di culik. Dan polisi pun gak bisa pastiin mereka masih hidup atau enggak." Kata Ify dengan sedikit isakan.

"Tenang, Fy. Kita semua harus positive thinking. Kita semua harus percaya kalo bokap sama adek lu gak kenapa-napa. Mereka masi hidup."

"Tapi, Yo. Perasaan gua gak tenang. Gua takut mereka kenapa-napa."

"Tenang, Fy. Kita semua di sini melakukan yang terbaik yang kita bisa."

"Gua mau adik sama bokap gua, Yo ! Gua mau mereka ! Gua mau cari mereka sekarang juga ! Gua mau merekaa !!!!" Teriak Ify semakin histeris. Dan tiba-tiba saja Ify kehilangan keseimbangan dan dia terjatuh. Ify pingsan !





Bersambung...

Gimana ? Jelek yah ? Tinggalkan jejak dengan coment dan kritik ke twitter @chikaStevadit atau fb chika_priska@yahoo.com yaa . Thankiss :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar