Kamis, 13 Juni 2013

Ikatan Batin [8]

"JANGANN !!!!!" Teriakan Via semakin kencang. Namun apa daya, tubuh dan kekuatan lelaki itu lebih kuat. Sedangkan ayahnya sudah pingsan dan tak berdaya. Baju Via telah di lepas paksa. Lebih tepatnya di sobek secara kasar.


BRAK !!!!


Pintu rumah itu terbuka dengan kasar. Via dan lelaki yang lain menatap sosok yang menendang kasar pintu tersebut. Air mata turun deras di kedua pipinya. Sosok yang sangat di sayanginya ada di depan matanya. Menolongnya. Di belakang sosok itu, muncul sosok yang lainnya. Dan satu sosok lagi, yang tiba-tiba menghambur menuju Via.

"VIA !!!" Kata sosok itu.

"Ify ??" Tanya Via tak percaya.

"Aku kangen kamu, dek. Aku kangen kamu.."  Kata Ify dengan air mata yang mengalir.

"Kak Lyssa..." Sahut Via pelan.

"Pake ini, Vi." Kata Alvin. Sosok yang tadi menendang pintu rumah ini.

"Thanks." Kata Via. Alvin menganggukkan kepalanya.


"Apa-apaan kalian ini !!" Teriak lelaki itu menarik tangan Ify dengan kasar.

"Apaan sih, lepasin !" Kata Ify mencoba melepaskan tangannya.

"Diam ! Atau kepala saudara mu itu akan pecah !" Ify terperangah. Dilihatnya Sivia yang kini berdiri dengan tangan di belakang dan juga pistol di sebelah kiri kepalanya.

"Engga, engga !!" Teriak Ify.

"Maka dengan itu diam !!" Seketika itu Ify diam seribu bahasa. Tatapannya hanya tertuju pada Via. Alvin dan yang lainnya mau tidak mau berhenti melawan.


Lelaki itu mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya. Kini pisau itu berada di samping lehernya. Seakan siap menggores lehernya itu. Ify menahan nafasnya dan berusaha untuk tidak begitu takut. Dia menatap Alvin dan Rio yang sudah pasang ancang-ancang menyerang. Alvin menggerakkan jari telunjuknya. Mengarahkan Rio untuk menerjang lelaki yang menyandera Ify.

Dengan satu hentakan kencang, Ify berhasil membebaskan tubuhnya dari lelaki bejat itu. Walaupun terlihat sedikit darah mengucur dari pipi kirinya. Tidak terlalu parah. Terlihat perkelahian antara Rio dan lelaki bejat itu. Alvin menggunakan kesempatan ini untuk menerjang lelaki yang menyandera Via. Via menggigit tangan yang melilit lehernya. Seketika itu pula pegangan di lehernya terlepas. Ify menarik Via keluar dari rumah itu.

Di luar rumah, terlihat Agni yang langsung membuka pintu mobil. Membiarkan Ify dan Via masuk. Tak lama Cakka datang dengan membopong Ayah Ify dan Via. Setelah mengecup pelan puncak kepala Agni, Cakka kembali masuk ke dalam rumah, membantu Alvin, Rio dan Iel. Agni menyalakan mesin mobil da langsung tancap gas dari rumah itu. Terdengar isak pelan dari Ify dan Via yang terus saja memanggil-manggil Ayahnya itu. Agni menelan ludahnya dan langsung menambah kecepatan agar cepat tiba dirumah sakit.

***

"Oke, sekarang anak-anak cewek udah pada pergi." Kata Iel membuka kemejanya.

"Tinggal kita aja di sini." Cakka meremas-remas kedua tangannya. Membuat tangannya itu berbunyi. (ngertikan?)

"Kita bisa ngelakuin apa aja sekarang." Rio memutar kepalanya perlahan.

"It's Show Time !" Seru Alvin bersamaan dengan serangan bertubi-tubi dari Rio, Iel, Cakka dan Alvin kepada lelaki-lekaki itu.


Alvin dkk melakukan gerakan secara bersamaan. Membuat para lelaki kekar di depannya kaget dan tidak sempat membuat perlawanan. Alvin menarik kerah baju lelaki yang tadi menyandera Via. Memukulnya tepat di tulang pipinya. Membuat darah segar keluar dari ujung bibir lelaki itu. Belum sempat lelaki itu berdiri, Alvin sudah menghantamnya dengan siku tepat di leher bagian belakang (?). Membuat lelaki itu tak sadarkan diri.

Rio menghantam lelaki di hadapannya dengan sekali gerakan. Beruntung dia ikut eskul karate dari kecil. Sehingga tidak susah untuknya melawan lelaki di hadapannya ini. Rio mengunci gerakan lelaki itu, memegang tangan kiri lelaki itu. Memelintir tangan itu lalu melakukan gerakan memutar. Untuk membanting tubuh lawannya yang lebih besar dibandingkan dengannya.

Cakka memukul perut lelaki di depannya dengan sekuat tenaga. Membuat lelaki itu sedikit terhuyung. Cakka tersenyum mengejek. Lelaki itu berlari menuju Cakka dan berhasil memukul pipi Cakka. Membuat pipi Cakka agak memar. Seketika itu Cakka naik pitam. Dihantamnya lelaki itu dengan berat badannya. Membuat lelaki itu terdorong kebelakang. Menghantam tembok. Cakka menghajar lelaki itu dengan pukulan bertubi-tubi di bagian wajah dan perut. Dalam hitungan detik, lelaki itu tak sadarkan diri.

Di pojok ruangan, terlihat Iel yang kewalahan melawan dua lelaki kekar di hadapannya. Sesaat dia sempat kehilangan keseimbangan dan mendapatkan pukulan tepat di perut. Iel terjatuh menghantam tembok. Cakka, Rio dan Alvin menoleh. Melihat temannya tersungkur tak berdaya seperti itu, mereka naik pitam. Cakka menghantam salah satu lelaki dengan sekali hantam. Alvin menghampiri Iel. Rio melawan lelaki yang satu lagi.

Dua lelaki kekar itu sepertinya lebih kuat dibandingkan dengan yang tiga tadi. Pantas saja Iel kewalahan. Secara, Iel itu adalah ketua dari karate sekolahan. Dia lebih kuat dibandingkan Rio. Cakka memukul perut lelaki itu. Membuat lelaki itu agak terhuyung. Namun dengan sigap, lelaki itu meluncurkan tinjunya mengenai perut Cakka. Cakka mengerang kesakitan. Berlutut menahan rasa sakitnya. Alvin bergerak membantu Cakka. Dilakukannya serangan bertubi-tubi pada lelaki itu. Membuat lelaki itu kewalahn menghadapinya.

Rio juga melakukan hal yang sama pada lelaki kekar di hadapannya ini. Namun, beberapa pukulannya dapat ditangkis. Hingga akhirnya Rio sudah cukup lelah dan akhirnya melayangkan tinjunya ke dagu lelaki itu bersamaan dengan gerakan memutar Rio. Kaki kanan Rio mengenai kepala lelaki itu. Lelaki itu terlempar kearah tembok. Dan tak sadarkan diri.

"Vin." Panggil Rio.

"Gua gak papa." Jawab Alvin.

"Kalo gitu kita bawa Cakka sama Iel kerumah sakit sekarang." Kata Rio. Alvin mengangguk. Mereka membopong teman mereka itu ke mobil.


"Halo, Pak, kami ingin memberitahukan bahwa penculik dari keluarga Reynanta sudah kami lumpuhkan. Mereka sekarang tak sadarkan diri di perumahan Kemuning nomor 17B. Mohon maaf jika kami tidak memberitahukan Bapa lebih dahulu. Karna perasaan kami tidak enak dan juga kami menemukan keluarga Reynanta dengan keadaan yang sangat mengenaskan sehingga tidak sempat berfikir untuk memberitahukan kepada Anda. Sekarang kami dalam perjalanan kerumah sakit Grissy. Ya, baiklah. Terima kasih atas kerjasamanya Pak. Baik." Alvin mengakhiri perbincangannya dengan polisi di hape nya. Rio terlihat serius menyetir walaupun sesekali sempat melirik ke belakang. Dimana Cakka dan Iel tidak sadarkan diri.

***

RumahSakit Riguna

Ify berjalan mondar-mandir sedari tadi di depan pintu ruang ICU. Sedangkan Agni memeluk dan mengelus punggung Via halus. Sedari tadi airmata Via tidak berhenti keluar. Begitu juga dengan Ify. Namun Ify terus saja menghapus jejak airmata yang baru saja keluar itu. Sehingga dia tidak terlihat menangis. Sudah sekitar setengah jam sejak Ayah mereka dimasukkan kedalam ruang ICU. Ify melirik jam tangannya sesekali. Hatinya tak tenang.

"Ify, Via !" Ify dan Via menoleh. Begitupun dengan Agni.

"Mama !" Sahut Ify dan Via bersamaan menghambur kedalam pelukan Ibundanya tercinta itu.

"Kalian gak kenapa-napa kan sayang?" Tanya Tante Gina. Ify dan Via refleks menggelengkan kepalanya yang masih bersembunyi dibalik bahu Ibunya itu.

"Tenang, sayang. Papa bakalan baik-baik aja. Mama yakin itu. Kalian jangan sedih ya. Jangan takut. Kita berdoa sama-sama. Buat Papa, ya, sayang." Kata Tante Gina meredakan tangis kedua putrinya itu. Ify dan Via menatap Ibunya dengan seksama. Mata mereka yang indah begitu mengena dihati Tante Gina. Kesedihan dan ketakutan sungguh terpancar dalam mata indah kedua putrinya itu. Dipeluknya kedua putrinya dengan penuh sayang dan kasih. Agni tersenyum penuh arti melihat kedua saudara kembar itu kini telah bersatu kembali dalam keluarganya.


Pintu ICU terbuka. Para Dokter keluar dari ruangan tersebut. Melepaskan masker dan sarungtangan mereka. Seorang dokter yang memang sudah mengenal keluarga Reynanta dengan baik menghampiri Tante Gina, Ify dan Via.


"Bagaimana Dokter keadaan Papa saya ?" Tanya Ify.

"Papa gak kenapa-napa kan Dok ?" Via melanjuti.

"Ify, Via. Kalian jangan main borong pertanyaan. Tanya nya satu-satu saja, nak." Kata Tante Gina.

"Tidak apa, Bu. Saya paham dengan kekhawatiran mereka terhadap Ayahnya. Saya pun juga akan bertanya seperti itu jika yang di dalam itu adalah Ayah saya." Dokter Nuh tersenyum.

"Jadi begini. Untuk keadaan fisik Bapak Ryan, bisa saya pastikan tidak akan kenapa-napa. Semua sarafnya dan juga otot-otot nya masih bagus. Tidak ada kerusakan dijaringan otak. Tapi, untuk saat ini keadaan kesehatan Bapak Ryan yang saya khawatirkan. Mengingat kesibukannya dalam bekerja, juga dengan penyakit leukimia yang dideritanya sejak 20tahun yang lalu." Jelas Dokter Nuh dengan seksama.

"Kalau untuk pekerjaan, saya sudah sempat bilang kalau dia jangan sampai terlalu capek. Tapi sepertinya perkataan saya tidak di indahkannya. Apalagi, anak saya dua-duanya perempuan. Dia belum bisa mempercayai pekerjaan perusahaan kepada putri-putri saya sedikitpun." Kata Tante Gina sambil mengelus puncak kepala Ify dan Via.

"Nah, karena itu, harusnya Bapak Ryan tidak boleh terlalu capek. Kasihan pada dirinya. Dan penyakit itu juga telah merenggut setengah dari nyawa Bapak Ryan. Jadi saya mohon dengan sangat. Tolong jangan biarkan Pak Ryan terlalu capek. Sebentar lagi para suster akan membawa Pak Ryan keruang perawatan inap biasa. Kalian bisa mengunjungi nya. Tapi jangan terlalu berisik. Saya baru saja menyuntikkan obat tidur dan penenang agar dia beristirahat sejenak." Jelas Dokter Nuh.

"Baik, Dok." Jawab Tante Gina disertai anggukan Ify dan Via.

"Kalau begitu saya permisi dulu. Mari, Bu, Via, Ify." Sahut Dokter Nuh meninggalkan mereka.



Tante Gina masih berusaha menenangkan kedua putrinya yang tak juga berhenti menangis itu. Agni hanya duduk diam. Membiarkan mereka larut dalam keluarga mereka sendiri. Ekor matanya menangkap sesosok yang dia kenal. Dan juga sosok lainnya yang digiring beberapa suster kedalam ruang UGD. Agni berlari, menghampiri sosok itu. Sosok lelaki yang dicintainya. Yang kini telah lebam di beberapa bagian wajah. Cakka.

Dilihatnya Cakka sedang duduk dengan memegangi perut sebelah kanannya. Agni dapat memastikan bahwa bagian yang dipegang Cakka saat itu tengah memar. Dilihat dari wajah dan juga tangannya yang biru-biru. Rio yang duduk disamping Cakka juga tak kalah parahnya dengan Cakka. Cakka merasakan sebuah tangan memegang puncak kepalanya. Dilihatnya gadisnya berdiri didepannya. Dengan wajah khawatir, cemas dan takut. Tangan Agni memegang pipi Cakka yang agak lebam itu. Di elusnya perlahan.

"Kamu gak papa ?" Tanya Agni.

"Begini bisa dibilang gak papa ?" Cakka balas bertanya.

"Maaf."

"Buat?"

"Semuanya."

"Aku gak papa, Agni."

"Tapi, kalau saja aku gak ninggalin kamu. Kalau saja aku mengajak kamu ikut bersamaku ke Rumah Sakit lebih dulu, kamu gak akan seperti sekarang."

"Dan aku harus meninggalkan sahabat-sahabatku bertarung ? Enggak, Agni. Aku sahabat mereka. Aku ada di saat mereka butuh. Lagian, cuma begini doang kan udah biasa, sayang."

"Kamu yakin ?"

"Aku yakin. Sangat yakin."

"Pipi kamu lebam."

"Tapi tetep ganteng kan." Cakka menaik turunkan alisnya. Menggoda Agni.

"Bodoh !" Agni memukul puncak kepala Cakka.

"Aih ! Sakit, Ni." Ringis Cakka.

"Lagian kamu jail. Orang lagi serius malah diajak bercanda." Sahut Agni.

"Ya maaf, cantik."

"Ga pake acara gombal ya, Kka."

"Hehehee..."



"Bagaimana sahabat-sahabat saya Dok?" Tanya Rio melihat dokter yang keluar dari ruang UGD.

"Tenang saja. Sahabar kalian tidak apa-apa. Hanya sedikit memar dan lebam. Seminggu juga sudah pulih total. Mereka akan saya pindahkan keruang inap biasa. Tapi
kalau mereka mau pulang hari ini juga, akan saya ijinkan." Kata sang Dokter.

"Terima kasih, Dok." Kata Cakka. Dokter itu mengangguk dan tersenyum. Kemudian meninggalkan Rio, Cakka dan Agni.

***

Ruangan bernuansa putih ini dipenuhi keheningan, kekhawatiran dan juga kesetiaan. Ify dan Via terlihat telah tertidur di sofa saling menumpu kepala masing-masing. Wajah mereka terlihat lelah. Masih terlihat setitik airmata di sudut mata mereka. Tante Gina tersenyum kecil. Jam sudah menunjukkan pukul 3pagi. Namun dia masih terjaga. Dia duduk disamping ranjang pasien. Tangannya menggenggam tangan suaminya erat.


Tak sadar, airmata turun mengaliri pipi putih mulusnya. Terlebih lagi disaat dia melihat kedua putri kembarnya yang tertidur pulas dengan wajah polos mereka. Melihat mereka kembali bersama sungguh menyenangkan hatinya. Tangannya bergerak menghapus jejak airmata itu. Disandarkannya kepalanya kesisi ranjang. Sambil tetap menggenggam tangan Om Ryan. Perlahan, dia tertidur.

4 komentar:

  1. Akhirnya dipost jugaaaa :D thanks bgt, lanjutin yakkk

    BalasHapus
  2. part paling nyesek ini..
    Mengharu biru..

    BalasHapus
  3. Penasarn sama kelanjutannya.
    Apakh dilanjut?
    #brhrp dilanjut

    BalasHapus
  4. Keren...!!!!
    Lanjutin dong kak.
    Keep writing 😉

    BalasHapus