"JANGANN
!!!!!" Teriakan Via semakin kencang. Namun apa daya, tubuh dan kekuatan
lelaki itu lebih kuat. Sedangkan ayahnya sudah pingsan dan tak berdaya. Baju
Via telah di lepas paksa. Lebih tepatnya di sobek secara kasar.
BRAK !!!!
Pintu rumah itu
terbuka dengan kasar. Via dan lelaki yang lain menatap sosok yang menendang
kasar pintu tersebut. Air mata turun deras di kedua pipinya. Sosok yang sangat
di sayanginya ada di depan matanya. Menolongnya. Di belakang sosok itu, muncul
sosok yang lainnya. Dan satu sosok lagi, yang tiba-tiba menghambur menuju Via.
"VIA !!!"
Kata sosok itu.
"Ify ??"
Tanya Via tak percaya.
"Aku kangen
kamu, dek. Aku kangen kamu.." Kata
Ify dengan air mata yang mengalir.
"Kak
Lyssa..." Sahut Via pelan.
"Pake ini,
Vi." Kata Alvin. Sosok yang tadi menendang pintu rumah ini.
"Thanks."
Kata Via. Alvin menganggukkan kepalanya.
"Apa-apaan
kalian ini !!" Teriak lelaki itu menarik tangan Ify dengan kasar.
"Apaan sih,
lepasin !" Kata Ify mencoba melepaskan tangannya.
"Diam ! Atau
kepala saudara mu itu akan pecah !" Ify terperangah. Dilihatnya Sivia yang
kini berdiri dengan tangan di belakang dan juga pistol di sebelah kiri
kepalanya.
"Engga, engga
!!" Teriak Ify.
"Maka dengan itu
diam !!" Seketika itu Ify diam seribu bahasa. Tatapannya hanya tertuju
pada Via. Alvin dan yang lainnya mau tidak mau berhenti melawan.
Lelaki itu
mengeluarkan pisau lipat dari saku jaketnya. Kini pisau itu berada di samping
lehernya. Seakan siap menggores lehernya itu. Ify menahan nafasnya dan berusaha
untuk tidak begitu takut. Dia menatap Alvin dan Rio yang sudah pasang
ancang-ancang menyerang. Alvin menggerakkan jari telunjuknya. Mengarahkan Rio
untuk menerjang lelaki yang menyandera Ify.
Dengan satu hentakan
kencang, Ify berhasil membebaskan tubuhnya dari lelaki bejat itu. Walaupun
terlihat sedikit darah mengucur dari pipi kirinya. Tidak terlalu parah.
Terlihat perkelahian antara Rio dan lelaki bejat itu. Alvin menggunakan
kesempatan ini untuk menerjang lelaki yang menyandera Via. Via menggigit tangan
yang melilit lehernya. Seketika itu pula pegangan di lehernya terlepas. Ify
menarik Via keluar dari rumah itu.
Di luar rumah,
terlihat Agni yang langsung membuka pintu mobil. Membiarkan Ify dan Via masuk.
Tak lama Cakka datang dengan membopong Ayah Ify dan Via. Setelah mengecup pelan
puncak kepala Agni, Cakka kembali masuk ke dalam rumah, membantu Alvin, Rio dan
Iel. Agni menyalakan mesin mobil da langsung tancap gas dari rumah itu.
Terdengar isak pelan dari Ify dan Via yang terus saja memanggil-manggil Ayahnya
itu. Agni menelan ludahnya dan langsung menambah kecepatan agar cepat tiba
dirumah sakit.
***
"Oke, sekarang
anak-anak cewek udah pada pergi." Kata Iel membuka kemejanya.
"Tinggal kita
aja di sini." Cakka meremas-remas kedua tangannya. Membuat tangannya itu
berbunyi. (ngertikan?)
"Kita bisa
ngelakuin apa aja sekarang." Rio memutar kepalanya perlahan.
"It's Show Time
!" Seru Alvin bersamaan dengan serangan bertubi-tubi dari Rio, Iel, Cakka
dan Alvin kepada lelaki-lekaki itu.
Alvin dkk melakukan
gerakan secara bersamaan. Membuat para lelaki kekar di depannya kaget dan tidak
sempat membuat perlawanan. Alvin menarik kerah baju lelaki yang tadi menyandera
Via. Memukulnya tepat di tulang pipinya. Membuat darah segar keluar dari ujung
bibir lelaki itu. Belum sempat lelaki itu berdiri, Alvin sudah menghantamnya
dengan siku tepat di leher bagian belakang (?). Membuat lelaki itu tak sadarkan
diri.
Rio menghantam lelaki
di hadapannya dengan sekali gerakan. Beruntung dia ikut eskul karate dari
kecil. Sehingga tidak susah untuknya melawan lelaki di hadapannya ini. Rio
mengunci gerakan lelaki itu, memegang tangan kiri lelaki itu. Memelintir tangan
itu lalu melakukan gerakan memutar. Untuk membanting tubuh lawannya yang lebih
besar dibandingkan dengannya.
Cakka memukul perut
lelaki di depannya dengan sekuat tenaga. Membuat lelaki itu sedikit terhuyung.
Cakka tersenyum mengejek. Lelaki itu berlari menuju Cakka dan berhasil memukul
pipi Cakka. Membuat pipi Cakka agak memar. Seketika itu Cakka naik pitam.
Dihantamnya lelaki itu dengan berat badannya. Membuat lelaki itu terdorong
kebelakang. Menghantam tembok. Cakka menghajar lelaki itu dengan pukulan
bertubi-tubi di bagian wajah dan perut. Dalam hitungan detik, lelaki itu tak
sadarkan diri.
Di pojok ruangan,
terlihat Iel yang kewalahan melawan dua lelaki kekar di hadapannya. Sesaat dia
sempat kehilangan keseimbangan dan mendapatkan pukulan tepat di perut. Iel
terjatuh menghantam tembok. Cakka, Rio dan Alvin menoleh. Melihat temannya
tersungkur tak berdaya seperti itu, mereka naik pitam. Cakka menghantam salah
satu lelaki dengan sekali hantam. Alvin menghampiri Iel. Rio melawan lelaki
yang satu lagi.
Dua lelaki kekar itu
sepertinya lebih kuat dibandingkan dengan yang tiga tadi. Pantas saja Iel
kewalahan. Secara, Iel itu adalah ketua dari karate sekolahan. Dia lebih kuat
dibandingkan Rio. Cakka memukul perut lelaki itu. Membuat lelaki itu agak
terhuyung. Namun dengan sigap, lelaki itu meluncurkan tinjunya mengenai perut
Cakka. Cakka mengerang kesakitan. Berlutut menahan rasa sakitnya. Alvin
bergerak membantu Cakka. Dilakukannya serangan bertubi-tubi pada lelaki itu.
Membuat lelaki itu kewalahn menghadapinya.
Rio juga melakukan
hal yang sama pada lelaki kekar di hadapannya ini. Namun, beberapa pukulannya
dapat ditangkis. Hingga akhirnya Rio sudah cukup lelah dan akhirnya melayangkan
tinjunya ke dagu lelaki itu bersamaan dengan gerakan memutar Rio. Kaki kanan
Rio mengenai kepala lelaki itu. Lelaki itu terlempar kearah tembok. Dan tak
sadarkan diri.
"Vin."
Panggil Rio.
"Gua gak
papa." Jawab Alvin.
"Kalo gitu kita
bawa Cakka sama Iel kerumah sakit sekarang." Kata Rio. Alvin mengangguk.
Mereka membopong teman mereka itu ke mobil.
"Halo, Pak, kami
ingin memberitahukan bahwa penculik dari keluarga Reynanta sudah kami
lumpuhkan. Mereka sekarang tak sadarkan diri di perumahan Kemuning nomor 17B.
Mohon maaf jika kami tidak memberitahukan Bapa lebih dahulu. Karna perasaan
kami tidak enak dan juga kami menemukan keluarga Reynanta dengan keadaan yang
sangat mengenaskan sehingga tidak sempat berfikir untuk memberitahukan kepada
Anda. Sekarang kami dalam perjalanan kerumah sakit Grissy. Ya, baiklah. Terima
kasih atas kerjasamanya Pak. Baik." Alvin mengakhiri perbincangannya
dengan polisi di hape nya. Rio terlihat serius menyetir walaupun sesekali
sempat melirik ke belakang. Dimana Cakka dan Iel tidak sadarkan diri.
***
RumahSakit Riguna
Ify berjalan
mondar-mandir sedari tadi di depan pintu ruang ICU. Sedangkan Agni memeluk dan
mengelus punggung Via halus. Sedari tadi airmata Via tidak berhenti keluar.
Begitu juga dengan Ify. Namun Ify terus saja menghapus jejak airmata yang baru
saja keluar itu. Sehingga dia tidak terlihat menangis. Sudah sekitar setengah
jam sejak Ayah mereka dimasukkan kedalam ruang ICU. Ify melirik jam tangannya
sesekali. Hatinya tak tenang.
"Ify, Via
!" Ify dan Via menoleh. Begitupun dengan Agni.
"Mama !"
Sahut Ify dan Via bersamaan menghambur kedalam pelukan Ibundanya tercinta itu.
"Kalian gak
kenapa-napa kan sayang?" Tanya Tante Gina. Ify dan Via refleks
menggelengkan kepalanya yang masih bersembunyi dibalik bahu Ibunya itu.
"Tenang, sayang.
Papa bakalan baik-baik aja. Mama yakin itu. Kalian jangan sedih ya. Jangan
takut. Kita berdoa sama-sama. Buat Papa, ya, sayang." Kata Tante Gina
meredakan tangis kedua putrinya itu. Ify dan Via menatap Ibunya dengan seksama.
Mata mereka yang indah begitu mengena dihati Tante Gina. Kesedihan dan
ketakutan sungguh terpancar dalam mata indah kedua putrinya itu. Dipeluknya
kedua putrinya dengan penuh sayang dan kasih. Agni tersenyum penuh arti melihat
kedua saudara kembar itu kini telah bersatu kembali dalam keluarganya.
Pintu ICU terbuka.
Para Dokter keluar dari ruangan tersebut. Melepaskan masker dan sarungtangan
mereka. Seorang dokter yang memang sudah mengenal keluarga Reynanta dengan baik
menghampiri Tante Gina, Ify dan Via.
"Bagaimana
Dokter keadaan Papa saya ?" Tanya Ify.
"Papa gak
kenapa-napa kan Dok ?" Via melanjuti.
"Ify, Via.
Kalian jangan main borong pertanyaan. Tanya nya satu-satu saja, nak." Kata
Tante Gina.
"Tidak apa, Bu.
Saya paham dengan kekhawatiran mereka terhadap Ayahnya. Saya pun juga akan
bertanya seperti itu jika yang di dalam itu adalah Ayah saya." Dokter Nuh
tersenyum.
"Jadi begini.
Untuk keadaan fisik Bapak Ryan, bisa saya pastikan tidak akan kenapa-napa.
Semua sarafnya dan juga otot-otot nya masih bagus. Tidak ada kerusakan dijaringan
otak. Tapi, untuk saat ini keadaan kesehatan Bapak Ryan yang saya khawatirkan.
Mengingat kesibukannya dalam bekerja, juga dengan penyakit leukimia yang
dideritanya sejak 20tahun yang lalu." Jelas Dokter Nuh dengan seksama.
"Kalau untuk
pekerjaan, saya sudah sempat bilang kalau dia jangan sampai terlalu capek. Tapi
sepertinya perkataan saya tidak di indahkannya. Apalagi, anak saya dua-duanya
perempuan. Dia belum bisa mempercayai pekerjaan perusahaan kepada putri-putri
saya sedikitpun." Kata Tante Gina sambil mengelus puncak kepala Ify dan
Via.
"Nah, karena
itu, harusnya Bapak Ryan tidak boleh terlalu capek. Kasihan pada dirinya. Dan
penyakit itu juga telah merenggut setengah dari nyawa Bapak Ryan. Jadi saya
mohon dengan sangat. Tolong jangan biarkan Pak Ryan terlalu capek. Sebentar
lagi para suster akan membawa Pak Ryan keruang perawatan inap biasa. Kalian
bisa mengunjungi nya. Tapi jangan terlalu berisik. Saya baru saja menyuntikkan
obat tidur dan penenang agar dia beristirahat sejenak." Jelas Dokter Nuh.
"Baik,
Dok." Jawab Tante Gina disertai anggukan Ify dan Via.
"Kalau begitu
saya permisi dulu. Mari, Bu, Via, Ify." Sahut Dokter Nuh meninggalkan
mereka.
Tante Gina masih
berusaha menenangkan kedua putrinya yang tak juga berhenti menangis itu. Agni
hanya duduk diam. Membiarkan mereka larut dalam keluarga mereka sendiri. Ekor
matanya menangkap sesosok yang dia kenal. Dan juga sosok lainnya yang digiring
beberapa suster kedalam ruang UGD. Agni berlari, menghampiri sosok itu. Sosok
lelaki yang dicintainya. Yang kini telah lebam di beberapa bagian wajah. Cakka.
Dilihatnya Cakka
sedang duduk dengan memegangi perut sebelah kanannya. Agni dapat memastikan
bahwa bagian yang dipegang Cakka saat itu tengah memar. Dilihat dari wajah dan
juga tangannya yang biru-biru. Rio yang duduk disamping Cakka juga tak kalah
parahnya dengan Cakka. Cakka merasakan sebuah tangan memegang puncak kepalanya.
Dilihatnya gadisnya berdiri didepannya. Dengan wajah khawatir, cemas dan takut.
Tangan Agni memegang pipi Cakka yang agak lebam itu. Di elusnya perlahan.
"Kamu gak papa
?" Tanya Agni.
"Begini bisa
dibilang gak papa ?" Cakka balas bertanya.
"Maaf."
"Buat?"
"Semuanya."
"Aku gak papa,
Agni."
"Tapi, kalau
saja aku gak ninggalin kamu. Kalau saja aku mengajak kamu ikut bersamaku ke
Rumah Sakit lebih dulu, kamu gak akan seperti sekarang."
"Dan aku harus
meninggalkan sahabat-sahabatku bertarung ? Enggak, Agni. Aku sahabat mereka. Aku
ada di saat mereka butuh. Lagian, cuma begini doang kan udah biasa,
sayang."
"Kamu yakin
?"
"Aku yakin.
Sangat yakin."
"Pipi kamu
lebam."
"Tapi tetep
ganteng kan." Cakka menaik turunkan alisnya. Menggoda Agni.
"Bodoh !"
Agni memukul puncak kepala Cakka.
"Aih ! Sakit,
Ni." Ringis Cakka.
"Lagian kamu
jail. Orang lagi serius malah diajak bercanda." Sahut Agni.
"Ya maaf,
cantik."
"Ga pake acara
gombal ya, Kka."
"Hehehee..."
"Bagaimana
sahabat-sahabat saya Dok?" Tanya Rio melihat dokter yang keluar dari ruang
UGD.
"Tenang saja.
Sahabar kalian tidak apa-apa. Hanya sedikit memar dan lebam. Seminggu juga
sudah pulih total. Mereka akan saya pindahkan keruang inap biasa. Tapi
kalau mereka mau
pulang hari ini juga, akan saya ijinkan." Kata sang Dokter.
"Terima kasih,
Dok." Kata Cakka. Dokter itu mengangguk dan tersenyum. Kemudian
meninggalkan Rio, Cakka dan Agni.
***
Ruangan bernuansa
putih ini dipenuhi keheningan, kekhawatiran dan juga kesetiaan. Ify dan Via terlihat
telah tertidur di sofa saling menumpu kepala masing-masing. Wajah mereka
terlihat lelah. Masih terlihat setitik airmata di sudut mata mereka. Tante Gina
tersenyum kecil. Jam sudah menunjukkan pukul 3pagi. Namun dia masih terjaga.
Dia duduk disamping ranjang pasien. Tangannya menggenggam tangan suaminya erat.
Tak sadar, airmata
turun mengaliri pipi putih mulusnya. Terlebih lagi disaat dia melihat kedua
putri kembarnya yang tertidur pulas dengan wajah polos mereka. Melihat mereka
kembali bersama sungguh menyenangkan hatinya. Tangannya bergerak menghapus
jejak airmata itu. Disandarkannya kepalanya kesisi ranjang. Sambil tetap
menggenggam tangan Om Ryan. Perlahan, dia tertidur.
Akhirnya dipost jugaaaa :D thanks bgt, lanjutin yakkk
BalasHapuspart paling nyesek ini..
BalasHapusMengharu biru..
Penasarn sama kelanjutannya.
BalasHapusApakh dilanjut?
#brhrp dilanjut
Keren...!!!!
BalasHapusLanjutin dong kak.
Keep writing 😉