Jumat, 03 Mei 2013

Ikatan Batin [4]

Ify turun dari Ninja Rio menenteng sebuah kantong Alfamart. Dia melepas helm dan berjalan kearah rumah. Dilihatnya Acha - adik Rio yang hanya berbeda 1 tahun -  tengah duduk menonton tv seorang diri. Dari belakang sofa, Ify mengendap. Menaruh kantong Alfamart tadi didalam kulkas yang arahnya memang bersebelahan dengan ruang tamu. Ify menutup mata Acha dengan kedua tangannya. Acha memberontak.

Rio yang baru saja masuk dan melihat adiknya dikerjain seperti itu hanya melotot. Seingatnya, Acha ini paling takut gelap. Nah, sekarang matanya ditutup sama Ify. Otomatis kan gelap tuh penglihatannya.

"Iih ! Ini siapa ?! " Kata Acha setengah teriak. Ify tetap diam sambil menutup mata Acha. Rio juga diam, tak bersuara. Malah meninggalkan Ify dan Acha yang masih saja teriak-teriak ketakutan. Untungnya Mama Rio lagi gak di rumah.

"Kalo gak dilepas, Acha cubit yah ?!"

"Satu.. Dua.. Ti... Ti... Ti..."

"Lama amat sih, bilang tiga !" Kata Ify yang habis kesabaran. Melepaskan tangannya yang menutup mata Acha. Acha menoleh, ternganga melihat Ify yang sedang cengir.

"KAK IPONG !!!" Teriak Acha. Ify hanya cengir gak jelas sambil menaruh tasnya di sofa.

"BERISIK, ACHA !!" Terdengar teriakan Rio dari lantai dua. Ya, kamar Rio dan kamar Acha memang dilantai dua. Kamar orangtuanya dan kamar tamu ada di lantai dua.

"Bawel lu, Yo !" Ify setengah berteriak.

"Lagian si Acha teriak-teriak. Udah kaya di hutan aja. Wong manggil lu doang. Padahal lu di depan dia. Ck." Rio turun dari lantai dua. Menghampiri Acha dan Ify yang kini sedang bercanda di sofa.



"Ih, Kak Ipong mah, iseng." Kata Acha memegangi tangan Ify yang hendak menggelitikinya.

"Enak aja kakak di bilang iseng. Nih, rasain !" Tangan Ify semakin gencar menggelitiki Acha. Acha tertawa sampai air matanya keluar.

"Udah deh, kak. Ampun. Acha gak kuat kalau di suruh ketawa lagi." Kata Acha menyudahi.

"Iya, cantik. Hahaha." Ify berdiri berjalan menuju dapur.

"Kak, kakak mau kemana ?" Tanya Acha.

"Mau ke dapur. Kenapa ?" Jawab Ify.

"Mau ngapain?"

"Mau ngambil bantal sama guling. Ya mau ambil makanan lah."

"Di belakang gak ada makanan, kak."

"Kok bisa ? Biasanya Mama kamu kan suka masak sebelum pergi."

"Tadi Mama emang mau masak buat aku sama Kak Rio, tapi itu pagi. Kalau di tinggal ampe siang gini kan udah gak enak. Jadi aku bilang aja gak usah. Kan bisa beli
sama Kak Rio ntar."

"Oh. Kalau gitu kakak aja deh yang masak."

"Serius kak ?"

"Serius, cantik."

"Ntar gua sama adek gua gak bakalan keracunan, kan?" Goda Rio.

"Ya kagaklah. Malah ketagihan. Tapi buat makanan lu boleh juga tuh, Yo." Ify berjalan santai ke dapur diikuti oleh Acha.



Rio memperhatikan Ify yang kini sedang sibuk memotong-motong sayuran. Ya, memang bukan sayuran kesukaan Rio. Namun, mau tidak mau Rio harus memakannya jika tak mau di hantam oleh Ify. Diam-diam Rio tersenyum kecil melihat Ify yang sibuk di dapur. Entah kenapa, dia merasa seperti satu keluarga. Dia sebagai Ayahnya, Acha sebagai anaknya, dan Ify, sebagai Ibunya.

Tercium sesuatu yang wangi. Yang sukses membuat perut Rio berdansa ria. Ify menaruh ayam goreng mentega, brokoli cah udang, dan nasi putih di atas meja makan. Acha langsung duduk dan mengambil piring. Ify duduk di samping Acha. Dan Rio duduk di depan Ify. Tak sengaja saat ingin mengambil nasi, tangan Rio dan Ify bersentuhan. Mereka terdiam beberapa saat. Menikmati pandangan mata satu sama lain. Acha yang melihatnya gerah.


"Hadeeehhh, panas banget sih di sini !" Acha mengipas-ngipaskan tangannya di dekat wajahnya. Rio dan Ify pun tersadar.

"Panas apaan sih? Adem kok !" Elak Rio.

"Adem ? Yakin, kak ? Kok tuh muka merah amat ? Ngalahin kepiting rebus !" Acha kembali menggoda Kakaknya itu.

"Sialan kamu, dek." Jawab Rio. Acha menjulurkan lidahnya.

"Udah, udah. Makan aja, yuk. Ntar keburu dingin !" Ify mengalihkan pembicaraan dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang juga memerah saat itu.

***

Seorang lelaki berperawakan chinese itu mengendarai CBR hijau miliknya dengan pelan. Bahkan teramat pelan. Tidak biasanya lelaki ini mengendarai motor dengan pelan seperti ini. Dia menghentikan motornya seketika di tengah jalan. Untung saja jalanan itu sedang sepi. Ya, memang bukan jalanan umum yang pasti selalu ramai. Tapi, tatapan lelaki itu tertuju pada sebuah sosok yang berada tak jauh dari sana.

Senyum menyungging di wajah lelaki itu. Dapat tergambar jelas bahwa lelaki itu tersenyum senang melihat sosok tersebut. Senyuman di wajah lelaki itu lebih terlihat seperti sedang jatuh cinta. Entahlah, hanya lelaki itu yang tau. Dikeluarkannya I-Phone nya dan diarahkan pada sosok itu.

JEPRET !

Setelah memotret dan memasukkan I-Phonenya ke kantong, dia melajukan CBR nya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan sosok itu tetap di tempatnya sedia kala.

***

JEPRET !

Suara itu membuat Sivia menoleh. Di liriknya kanan dan kiri. Namun tak terlihat seorang pun di sana. Hanya suara motor yang di kendarai dengan kecepatan tinggi. Sivia mengangkat bahunya dan kembali meneruskan kegiatannya di depan rumah. Terlihat jelas Earphone di telinganya yang sebelah kiri, BB Tourch putih di tangan, juga baju yang membuatnya terlihat cantik.

Tak lama sebuah mobil berhenti di depan rumahya. Lebih tepatnya di depannya. Sang pengendara mobil menyuruhnya untuk masuk. Sivia tersenyum dan membuka pintu mobil. Wajahnya terlihat ceria sambil memasuki mobil swift hitam itu. Dan mobil itu kembali berjalan dengan mulus mengikuti alur jalanan.

***

Rio mengendarai mobil jazz biru muda yang sebenarnya milik Acha itu. Acha juga ada di dalam mobil itu. Mereka baru saja mengantar Ify ke rumahnya. Acha terlihat sibuk dengan BB Onix nya sedangkan Rio berkonsentrasi dengan jalanan di depannya. Terdengar alunan lagu dari mulut Acha.

Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku
Warna-warna indahmu

Rio mendengarnya dengan seksama. Suara merdu Acha terus saja mengalun dengan indahnya di dalam mobil. Rio tersenyum kecil mendengar suara adik semata wayangnya itu.

"Suara kamu bagus, Cha." Kata Rio, walaupun tatapannya tetap lurus ke depan.

"Makasih, kak." Jawab Acha. Dia lalu meneruskan nyanyiannya.

Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Sekali lagi, Rio tersenyum mendengar suara Acha. Dan kali ini dia ikut bernyanyi sambil terus berkonsentrasi pada jalan.

Sifatmu nan s'lalu
Redahkan ambisiku
Tepikan khilafku
Dari bunga yang layu

Saat kau disisiku
Kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki

Bayangan seorang gadis muncul di benak Rio. Membuatnya tersenyum penuh arti sambil terus bernyanyi dan juga tidak mengurangi konsentrasinya pada jalanan yang semakin padat di depannya.

***

"Kita mau kemana ?" Tanya Via pada lelaki di sebelahnya.

"Entah. Emang kamu maunya kemana ?" Lelaki itu balas bertanya.

"Em,, kemana yah ? Gimana kalau kita ke Resto Luxer aja ?"

"Yang di Danau itu ?"

"Iya .. !" Sivia mengangguk dan tersenyum. Begitupun lelaki itu. Swift milik lelaki itu melaju membelah angin malam yang lumayan kencang itu.


*Luxer Resto*

Seorang waiter mengajak Via dan lelaki itu berjalan menuju meja tepat di dekat danau. Tempat kesukaan Via. Setelah memesan makanan, Via dan lelaki itu kembali berbincang.

"Kamu cantik banget hari ini, Sivia." Kata lelaki itu. Mengelus pelan pipi Via yang kini memerah.

"Makasih." Jawab Via malu-malu.

"Tapi beneran loh. Kamu malem ini lebih cantik dari hari-hari sebelumya."

"Sion ! Iih, mulai deh kamu nge gombal." Via memukul kan tangannya pada lengan Sion pelan.

"Aduh, sakit, Vi. Tapi beneran tau. Aku gak pernah bohong sama kamu, cantik." Sion kembali menggoda Via. Kini wajah Via benar-benar merah.

"Ciee, mukanya merah banget, neng. Perasaan di sini adem loh, gak panas." Sion mencolek pipi gembul Via. Membuat Via manyun.

***

Sedangkan pada waktu yang sama namun berbeda tempat, Cakka dan Agni sedang pacaran di taman komplek.

"Cakkaaa.. Dingin !!" Agni memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya.

"Lagian kamu gak bawa jaket." Cakka melepaskan jaketnya dan memakaikannya pada Agni.

"Kamu sih main tarik aja. Mana sempet aku ngambil jaket di kamar."

"Hehehee. Abisnya aku kangen banget sama kamu."

"Hemm..."



Jawaban Agni barusan mengakhiri perbincangan mereka. Kini mereka berdua terdiam. Agni menatap langit malam yang kini dipenuhi dengan bintang. Dia tersenyum kecil menatap bintang-bintang itu. Cakka memperhatikan wajah Agni yang kini sedang tersenyum. Tangannya mengelus pipi Agni lembut. Agni menoleh. Sedangkan Cakka menggenggam tangan Agni erat. Ya, mereka memang telah berpacaran selama kurang lebih hampir setahun. Sekitar 2 bulan lagi, mereka akan merayakan hari jadi mereka yang setahun.


"Agni.." Kata Cakka. Tangannya masih menggenggam tangan Agni erat.

"Kenapa, Kka ?" Tanya Agni.

"Masih inget gak waktu aku nembak kamu ?"

"Ingetlah, masa sih aku ngelupain hal itu ?"

"Iya, waktu itu aku nembak kamu di lapangan indoor."

"Tepat setelah kamu ngelakuin three point."

"Dan aku menyuruh kamu melempar bola basket ke dalam ring."

"Lebih tepatnya nyuruh aku milih. Masukin bolanya lay up kalo aku nerima kamu. Tapi ngelempar three point kalo aku nolak kamu."


Cakka tersenyum mendengar perkataan gadis yang memenangkan hatinya itu.

"Dan kamu sempet ngerjain aku waktu itu." Kata Cakka.

"Kamu juga ngerjain aku. Bilangnya anak-anak udah pada balik. Ternyata mereka ngumpet di belakang tribun penonton."

"Hahahaa.. Abisnya muka kamu lucu banget waktu aku tembak. Merah-merah gitu, deh."

"Cakkaaa... jangan mulai deh, yah !"

"Hahahaa.. iya, cantik. "

"Tapi, Kka.."

"Kenapa?"

"Kamu yakin udah gak mau jadi playboy ?"

"Kenapa nanya kaya gitu ?" Wajah Cakka berubah menjadi cemas. Takut gadisnya itu memikirkan hal yang aneh-aneh. Ya, memang dulunya Cakka adalah seorang
playboy. Namun, melihat kegigihan Agni melawannya saat bermain basket, perasaannya pada gadis itu mulai tumbuh. Dia tidak lagi mempermainkan gadis lain. Dia
menetapkan hatinya pada gadis di hadapannya ini.

"Aku.. aku takut kamu balik lagi jadi playboy dan ninggalin aku." Kini terlihat sedikit air mata di ujung mata indah Agni. Cakka memeluk Agni erat.

"Tenang aja. Aku gak bakalan jadi playboy lagi. Aku gak akan ninggalin kamu. Karna cuma kamu yang aku mau. Cuma kamu yang bisa ngertiin aku. Cuma kamu yang akan selalu ada dihatiku." Perkataan Cakka itu sedikit menenangkan Agni.

"Janji ?" Agni menghapus jejak air mata dari kedua pipinya.

"Aku, Cakka Kawekas Nuraga, pacar dari Agni Tri Nubuwati berjanji gak akan jadi playboy lagi, gak akan mengkhianati Agni, dan gak akan ninggalin Agni." Ucap Cakka serius. Agni tersenyum dan melepaskan pelukan Cakka. Cakka mencium kening Agni.

"Yaudah, ayo pulang. Udah malem." Kata Cakka. Agni mengangguk dan mengikuti langkah Cakka menuju sebuah motor. Motor kesayangan Cakka. Ninja biru.

***

"Via ! Dari mana saja kamu, hah ?!" seorang lelaki berumur 40-an itu berteriak melihat anak gadisnya itu baru pulang. Via melirik jam tangannya. 23.25

"Abis pergi sama Sion, Pa." Jawab Via se adanya.

"Kenapa baru pulang jem segini ?! Kamu itu cewek, Via ! Cewek ! Bukan cowok yang bisa se enaknya pergi dan pulang !" Via melengos. Malah meninggalkan lelaki itu di ruang tamu masih dengan ocehannya.


*kamar Via*

Setelah mengganti gaunnya dengan baju tidur, Via merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Di liriknya BB miliknya yang berbunyi dari tadi.

"Siapa, sih yang nge Bbm gua malem-malem ginii ? Gak tau orang mau tidur apa ? Ck." Ucap Via.



Bersambung....


Gimana ? ada yg kurang gak ? tolong coment dn kritik nya ya ke @chikaStevadit atau wall fb chika_priska@yahoo.com jgn jadi silent readers ya guys. thankiss :*

1 komentar: